You are here
Home > Berita Nasional >

Waspada Dampak Sekolah Online Bagi Anak dan Orang Tua

Dampak Sekolah Online
Bagikan Artikel Ini

Dampak sekolah online bagi anak ternyata mengkhawatirkan. Sudah setahun berlalu sejak pandemic virus corona melanda dunia dan mulai saat itulah anak-anak belajar dirumah. Pembelajaran secara virtual ini bukan tanpa tantangan, mulai dari ketersediaan internet yang belum merata, masalah ekonomi, kesiapan tenaga pendidik, dan bagaimana anak menghadapinya.

Orang tua juga tidak kalah dibuat kelimpungan dengan sistem belajar online ini. Waktu di rumah benar-benar harus dikelola antara memantau anak sekolah, menyelesaikan pekerjaan kantor, dan juga tuntutan mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak dan lainnya. Lalu, seperti apa dampak sekolah online bagi kesehatan mental?

Anak-Anak Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Setelah berjalan lebih dari setahun, sekolah online ternyata memiliki dampak yang negatif terhadap kesehatan mental anak maupun orang tua. Walaupun tidak ada juga sisi positifnya, pengaruh buruknya ternyata lebih banyak. Kurangnya sosialisasi, tugas-tugas yang lebih banyak, dan bosan menjadi hal yang banyak dikeluhkan anak.

Studi yang baru-baru ini dilakukan oleh US Centers for Disease Control and Prevention melaporkan bahwa temuan dari penelitian yang dilakukan pada periode Oktober sampai November 2020. Dengan melibatkan responden dari 1,290 orang tua dengan anak usia 5 sampai 12 tahun.

Hasilnya adalah 25 persen orang tua yang anaknya belajar daring mengeluhkan mental dan kesehatan anak yang menurun. Sedangkan 16 persen lainnya menerima pelajaran secara offline. Sedangkan survey yang dilakukan oleh Vashon Riptide menunjukkan 81,3 persen anak sangat kesulitan dan mengalami gangguan kesehatan mental.

Di Amerika, baru-baru ini Presiden Joe Biden mengatakan tentang pembukaan kembali sekolah dan CDC pun mengeluarkan rekomendasi untuk pembukaan K-12 schools. Bukannya membuat orang tua senang namun regulasi ini justru akan menimbulkan masalah baru. Yang jelas adalah anak-anak akan menghadapi resiko yang sangat besar ketika kembali ke sekolah saat pandemic belum usai.

Di Indonesia sendiri, per Juli 2021 nanti sekolah-sekolah sudah diwacanakan untuk kembali dibuka walaupun secara terbatas. IDAI pun ikut bersuara dengan mengatakan kalau pembelajaran secara tatap muka belum direkomendasikan mengingat persebaran masih tinggi dan vaksinasi yang belum menyeluruh.

7 Masalah Kesehatan Mental Akibat Pandemi

Dampak sekolah online yang terjadi karena dunia dilanda virus corona sangat mempengaruhi kesehatan mental anak dan orang tua. Dipaksanya siswa belajar di rumah dan orang tua yang juga dipaksa memantau serta mendampingi di sela-sela pekerjaan yang juga menumpuk bisa menimbulkan gangguan emosi.

Berikut ini adalah beberapa masalah kesehatan mental yang merupakan dampak sekolah online:

1. Terisolir Secara Sosial

Sekolah bukan hanya tempat belajar namun juga untuk bersosialisasi. Bagi anak-anak di semua level pendidikan, sekolah adalah tempat bergaul, mengekspresikan diri, mengenal teman sebaya, dan menjalin persahabatan. Dipaksa untuk berpisah dari institusi ini bisa membuat anak kesepian, kurang termotivasi, serta putus asa karena merasa diisolasi secara sosial.

Rasa sepi bisa semakin menjadi ketika orang tua tidak memahami apa yang dirasakan anak. Misalnya saja terus menerus memintanya mengerjakan tugas tanpa memberi waktu untuk bermain bersama. Atau juga memerintah anak sambil memarahinya membuat anak semakin merindukan kebebasannya.

2. Level Kecemasan Meningkat

Anxiety atau cemas bisa menjangkiti anak-anak serta orang tua naik semenjak sekolah online diberlakukan. Ada banyak sekali pemicunya antara lain adalah kekhawatiran teman-teman menjauh dan pertemanan merenggang. Belum lagi cemas karena tidak bisa mengikuti pelajaran serta menyelesaikan tugas. Disisi lain juga takut tidak mendapat asupan pengajaran yang cukup karena sistem daring.

3. Kelelahan Virtual

Siapa bilang sekolah di rumah itu tidak melelahkan karena minim aktivitas fisik? Justru ini menimbulkan jenis kelelahan baru. Duduk di depan komputer dalam waktu yang lama untuk melakukan pertemuan online bisa memicu yang dinamakan Zoom Fatigue. Banyaknya informasi yang harus diserap otak lewat video-video atau presentasi online membuat tubuh serta pikiran lelah.

Beberapa hal yang membuat anak merasa lelah sekolah online antara lain adalah intonasi suara pembicara, ekspresi wajah, minimnya eye contact, dan juga bahasa tubuh. Ketika orang sulit memahami apa yang dikatakan seseorang, tubuh akan bereaksi lebih keras untuk bisa menginterpretasikan semua itu. Inilah yang terjadi pada pertemuan-pertemuan daring.

4. Menjadi Kurang Termotivasi

Rasa malas yang mendera merupakan salah satu dampak sekolah online terhadap perkembangan emosi dan mental. Anak lebih sering meminta tolong kepada orang tua begitu pula sebaliknya. Berada di rumah sering diasosiasikan sebagai waktu liburan. Padahal, kondisi rumah saat pandemi jelas berbeda. Siswa membawa semua beban dari sekolah ke rumah yang terkadang tidak kondusif.

Di sekolah, siswa mendapat arahan, pengajaran, dan juga motivasi dari pengajar bahkan teman. Sedang di rumah, orang tua terkadang hanya memberi perintah dan memantau sekedarnya karena tidak ada waktu. Ini yang membuat anak menjadi malas dan akhirnya enggan sekolah.

5. Lebih Lama Terpapar Gadget

Ketika tidak bisa bertemu dengan teman secara langsung, anak akan lebih sering bersama dengan gawainya. Belum lagi untuk keperluan sekolah dan mengerjakan tugas yang seolah tidak pernah berhenti. Artinya, kebutuhan anak untuk berada di dunia nyata semakin sedikit dan ini jelas mengganggu keseimbangan mental. Apalagi untuk anak usia dini di level sekolah TK atau preschool.

Membantu Anak Keluar dari Masalah Kesehatan Mental

Orang tua harus tetap mengambil peran dan bersama-sama dengan anak memperbaiki emosi dan mental. Ada beberapa cara atau trik yang bisa dicoba untuk menciptakan suasana dan kondisi yang kondusif. Pertama yaitu menyediakan space atau ruang khusus untuk belajar agar anak bisa fokus dan produktif. Ruangan yang tenang dan minim distraksi bisa membuat anak lebih nyaman.

Kemudian, terapkan kebiasaan yang menyehatkan. Berada di rumah sepanjang waktu memicu makan dan ngemil lebih banyak serta tidur lebih malam. Untuk itu, menerapkan rutinitas sehat seperti konsumsi buah dan sayur kemudian tidur cukup juga bisa menekan stress pada anak serta orang tua. Selingi juga dengan olahraga bersama yang sangat baik untuk tubuh.

Jangan lupa juga untuk menjaga pola komunikasi dan menahan diri. Hindari menggunakan nada tinggi ketika bicara dengan anak walaupun orang tua sendiri dilanda kelelahan mental akibat bekerja dari rumah. Dengan tidak membentak anak, pembantu, atau anggota keluarga lain, dampak sekolah online pada emosi dan mental bisa ditekan. Berada di rumah dalam kondisi sekarang tetap yang terbaik.

Sumber:

https://highfocuscenters.pyramidhealthcarepa.com/the-effects-of-online-learning-on-a-teens-mental-health/

https://www.alodokter.com/waspadai-dampak-negatif-sekolah-online-pada-anak

https://edition.cnn.com/2021/03/26/health/cdc-remote-learning-kids-mental-health-wellness/index.html

https://www.vashonbeachcomber.com/news/the-kids-are-not-alright-online-school-and-mental-health/

 

lilik sumarsih
Petualang,photographer dan penulis artikel tentang traveling dan alam liar

Leave a Reply

Top