You are here
Home > Berita Nasional >

Heboh Film Zahra, Perspektif Poligami dan Pernikahan Dini

film zahra
Bagikan Artikel Ini

Pojokjakarta.com – Jagat maya heboh karena membahas film baru dari salah satu channel televisi nasional berjudul ‘Zahra’. Film ini menceritakan tentang seorang perempuan yang di bawah umur menikah menjadi seorang istri ketiga.

Tentu saja, film ini dengan balutan drama khas Indonesia, menjadi sangat menarik. Apalagi bagi ibu-ibu ataupun perempuan yang merasa alur ceritanya boleh jadi ada benarnya. Sebenarnya, masih banyak film-film bergenre semacam itu selain ‘Zahra’.

Pedofilia dan Pernikahan Dini dalam Perspektif Sosial

Menjadi satu permasalahan yang beberapa orang pikirkan dari film tersebut adalah umur Zahra yang masih dini dan dijadikan istri ketiga. Di dalam film tersebut, memang digambarkan terjadi dan mungkin bisa terjadi di Indonesia.

Keluar dari apa latar belakang film itu muncul dan apa amanat yang ingin diberikan, film tersebut pada dasarnya tidak begitu cocok tayang di Indonesia. Alasannya sepele, karena boleh jadi bisa mengundang niat dari maraknya pernikahan semacam itu.

Di hari ini, masih banyak pelecehan seksual dan pedofilia yang merusak masa depan anak. Hal tersebut selain disebabkan karena faktor pribadi, tentu saja juga disebabkan oleh faktor sosial masyarakat. Maka dari itu, jika film Zahra ini memang harus tayang, maka penontonnya harus cerdas.

Jangan sampai, film ini diperspektifkan sebagai alasan terbesar atau motivasi bagi mereka yang ingin melakukan praktek poligami. Karena sudah sangat jelas, islam memang memperbolehkan poligami, namun tentunya tidak semudah itu dalam praktiknya.

Tayangan yang ‘Dikatakan’ Merusak Moral

Tidak bisa kita pungkiri, banyak sekali film drama di channel nasional yang merusak pola pikir masyarakat. Disebut pembodohan agaknya terlalu keras, namun karena banyak yang suka, sehingga film-film semacam itu tetap tayang dan digemari.

Film Zahra, jika kita melihat sekilas dari Thumbnail di salah satu platform Streaming, tentu saja sangat merusak. Dimana, tokoh Zahra yang digambarkan masih belia, sudah harus melayani suami yang sudah memiliki istri dua.

Hebohnya film Zahra di jagat maya ini tentu disebabkan oleh orang yang resah. Sehingga mereka saling memberikan opini untuk memberikan perlawanan. Film-film ini memang menjadi sebuah polemik yang sulit untuk diselesaikan.

Disisi lain faktanya banyak yang suka, namun selain itu dikatakan bahaya jika ditonton oleh oknum tertentu. Karena secara psikologi, tontonan adalah sebab rusaknya moral generasi yang terbesar. Sehingga dalam hal ini, tayangan televisi harus ditelaah kembali.

Perspektif Poligami dalam Sosial Indonesia

Banyak orang setuju dengan poligami, karena dalam islam ada. Entah bagaimana polemik kebolehan dan hukumnya,   praktik ini sudah dilakukan oleh banyak orang di Indonesia. Tentu saja, poligami tidaklah bisa dipukulkan rata pada semua masyarakat.

Karena ada yang mampu dan ada yang mau aja. Bahkan, ada yang mendalilkan perselingkuhan dengan hukum poligami ini. Tentu saja, hal semacam itu tidaklah boleh dilakukan dalam kajian moral.

‘Perempuan mana yang mau diduakan?’ Seperti itulah perasaan kebanyakan perempuan di dunia ini. Karena wanita secara lahir memiliki rasa cemburu yang sangat besar. Sehingga tidaklah patut untuk diselingkuhi atau dipoligami (apalagi dengan diam-diam).

Film Zahra ini menggambarkan cerita poligami. Ada tiga istri dan satu suami yang hidup dalam sebuah drama pelik. Apapun respon masyarakat ketika menyaksikan film ini, satu hal yang harus dipahami adalah, “Poligami tidak bisa dipraktikkan semudah membalikkan telapak tangan.”

Tayangan televisi hanya dibuat untuk mencari rating dan perhatian masyarakat. Sehingga, tidak boleh dijustifikasi apapun yang ditayangkan televisi boleh dan sah dilakukan dalam kehidupan nyata.

Pernikahan Dini juga Tidaklah Dibenarkan

Dalam ilmu psikologi maupun fisik, manusia itu memiliki standar umur. Kapan mereka tepat memiliki pasangan dan berhubungan badan sekalipun. Karena jika hal-hal yang berbau seksual dilakukan di rentang umur yang belia, yang ada adalah trauma.

Maka dari itu, pernikahan dini meskipun legal dipraktikkan di film Zahra, tentu saja tidak boleh diasumsikan seperti itu dalam kehidupan nyata. Sudah banyak perceraian yang terjadi gara-gara pernikahan dini.

Orang pertama yang menjadi korban adalah anak. Sehingga, anak tersebut akan trauma dan akhirnya masa depannya terenggut. Pernikahan dini tentu saja tidak boleh didoktrinkan dalam kehidupan masyarakat, karena efeknya sangat besar.

Seorang suami tidaklah boleh semena-mena terhadap istri. Karena ada hukum moral dan sosial di dalam hubungan suci tersebut. Meskipun secara hukum boleh, tentu manusia harus meninjau norma lainnya.

Hanya Sebuah Drama Televisi

Hal lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah berpikir logis jika film Zahra hanyalah sebuah drama televisi. Dimana, kehidupan ini tidaklah semulus dan seindah seperti apa yang ada di televisi.

Semua drama yang ada di film dibuat dengan skenario, sedangkan kita tidak tahu apa yang terjadi setelah ini. Maka dari itu, kita sama sekali tidak boleh menyamakan kehidupan drama televisi dengan apa yang ada dalam realita kehidupan.

Jika di dalam televisi sebuah poligami bisa dilakukan dengan sangat mudah dan baik-baik saja, di dalam realitasnya tidaklah demikian. Jangan karena hawa nafsu saja, seorang suami harus menyakiti hati istri yang dulu ia cintai.

Jika memang film Zahra ini memiliki amanat yang baik, maka seharusnya kita menangkap yang baik-baik saja dalam film tersebut. Jika memang sudah keterlaluan, maka kita wajib untuk melaporkan ke KPI. Karena seringkali, film drama di Indonesia ini bisa berlarut-larut dan bahkan keluar dari tema judulnya.

Leave a Reply

Top