You are here
Home > Berita Nasional >

Tuai Kontroversi, Indosiar Diprotes Banyak Pihak Karena Sinetronnya

Tuai Kontroversi Indosiar Diprotes Banyak Pihak Karena Sinetronnya
Bagikan Artikel Ini

Pojokjakarta.com – Indosiar sebagai salah satu channel televisi nasional, diprotes banyak pihak. Hal tersebut terjadi karena beberapa sinetron yang menuai kontroversi. Salah satunya adalah suara hati istri istri Zahra. Indosiar diprotes ini tentu saja sebuah hal yang wajar. Karena tayangannya yang kurang mengedukasi.

Sebab terbesar dari protes tersebut adalah pemeran Zahra yang dimainkan oleh perempuan berusia 15 tahun dan sedangkan pemeran suaminya yang berumur 39 tahun. Meskipun hanya memerankan, namun netizen resah dengan hal tersebut.

Psikologi Moral Netizen Terguncang

Tentu karena hal tersebut, netizen merasa tidak terima. Seolah-olah, praktik pedofilia dilegalkan dan tentu saja poligami juga terasa legal karena film tersebut. Maka dari itu, sangat Indosiar diprotes banyak pihak karena konflik moral tersebut.

Tidak salah memang jika banyak netizen yang heran karena hal tersebut. Karena pemeran Zahra adalah perempuan yang belia, masih berusia 15 tahun. Dalam perspektif moral di Indonesia, tentu saja ia tidaklah bisa memerankan istri ketiga yang dramatis.

Meskipun film dibuat dengan script, namun latar belakang artisnya tentu saja patut diperhatikan. Tidaklah layak seorang perempuan berusia 15 tahun memerankan istri ketiga dan seolah-olah hal tersebut memang bisa dipraktikkan dalam kehidupan nyata.

Tidak heran jika filma Zahra dengan adegan-adegan semi-dewasanya menuai kontroversi di mata netizen. Jika film ini terus ditayangkan dan tidak ada pembaharuan konsep, maka dijamin netizen akan semakin ramai mengkritik Indosiar.

Membandingkan Indosiar di Zaman Dulu

Sebagai salah satu channel televisi yang memiliki banyak pemirsa, Indosiar sejak dahulu memang sudah diminati. Mulai zaman ketika pagi hari ada kartun, hingga sekarang yang isinya hanya tayangan yang kurang edukatif.

Beberapa netizen menyayangkan Indosiar yang sekarang, mereka ingin Indosiar yang dulu. Indosiar yang ramah terhadap anak-anak dan tidak hanya mengejar kemauan pemirsa dewasa. Karena channel tersebut adalah channel nasional yang semua umur menontonnya.

Jika hal tersebut dilakukan semata-mata karena rating, maka yang digadaikan adalah moral dan masa depan generasi muda. Jika sejak kecil sudah dicekoki film-film seperti Zahra, maka hasilnya adalah anak-anak kecil akan dewasa sejak dini.

Indosiar sejak zaman dahulu sudah memiliki sinetron ‘andalan’. Sehingga penonton sangat paham bagaimana alur cerita dan konsep sinetronnya. Namun, semakin hari sinetron yang dibuat semakin liar dan menjadi-jadi.

Sekali lagi yang jadi masalah adalah, “Banyak anak kecil yang belum cukup umur sudah menonton televisi. Jika mereka juga ikut menonton, maka otomatis mental mereka juga terkena dan akhirnya berpengaruh pada pola pikir mereka.”

Film Zahra Seakan-akan ‘Melegalkan’ Pedofilia

Di dalam film Suara Hati Istri – Zahra tersebut menggambarkan kehidupan rumah tangga seorang suami dengan tiga istri. Dari tiga istri tersebut, tentu saja memiliki sifat yang berbeda-beda, sehingga menghiasi warna dalam film tersebut.

Menjadi sangat bermasalah jika film ini terus tayang dan mencuci pola pikir masyarakat. Dimana, ketika seseorang melakukan poligami dengan istri ketika berusia 15 tahun, maka tidaklah masalah dan akan hidup baik-baik saja.

Keluar dari pesan yang ingin disampaikan oleh film tersebut, praktik poligami di Indonesia ini sudah marak dilakukan. Jika sang suami dan istri siap, mungkin saja tidaklah bermasalah. Namun jika mereka melakukan poligami karena nafsu, hasilnya adalah perceraian.

Maka dari itu, banyak film di Indosiar diprotes gara-gara menggambarkan praktis yang seharusnya tidak dilakukan di Indonesia. Pedofilia adalah kejahatan dan jangan dibudidayakan dengan tontonan serupa, seperti film Zahra ini.

Praktik Poligami dalam Film Zahra

Selain itu, Indosiar nyatanya berhasil membawakan alur cerita yang dramatis sehingga banyak orang yang terhibur dengan film tersebut. Meskipun secara moral, film Zahra harusnya tidaklah diperkenankan tayang di Indonesia.

Poligami adalah sebuah hubungan suami istri yang tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Hukumnya dalam islam memang boleh, namun tentu saja tidak semua orang bisa melakukannya, apalagi jika hanya didasarkan pada nafsu belaka.

Sebuah film, tentu menginginkan alur cerita yang bergelombang. Sehingga seolah-oleh, jika seseorang poligami, pasti akhirnya akan baik-baik saja. Padahal kenyataannya adalah banyak perceraian yang ada karena praktik hubungan ini.

Apalagi kita hidup di negara Indonesia yang notabenenya sangat plural. Poligami ini tidaklah bisa dipraktikkan semena-mena dan sesimpel yang ada di film-film sinetron. Maka dari itu, film Zahra harusnya ditinjau kembali dalam perspektif moral.

Banyak Sinetron Sejenis Zahra

Pada dasarnya, tidak hanya film Zahra yang menuai kontroversi. Indosiar juga diprotes banyak pihak karena berbagai sinetronnya yang seringkali tidak mengedukasi. Entah itu Azab yang tidak masuk akal, Kisah Nyata yang kadang tidak nyata, hingga Tiktok yang bisa menyembuhkan orang koma.

Semua genre film tersebut memang sangat ‘Indosiar banget’. Namun seharusnya, sinetron-sinetron semacam itu tidaklah perlu ditayangkan. Meskipun digunakan untuk tujuan hiburan, tayangan tersebut kerap kali tidaklah masuk akal.

Sehingga banyak sekali pihak yang protes ke KPI, Indosiar dan ke media sosial. Mereka menyayangkan sinetron-sinetron semacam itu tampil di Indonesia. Alasannya, apakah tidak ada jalan cerita lain yang lebih menarik?

Pesan untuk Pemirsa Indosiar

Apapun pesan yang hendak disampaikan oleh indosiar terkait sinetron yang mereka tayangkan, pemirsa harus sadar jika semua itu hanyalah film yang dibuat oleh seseorang. Alur ceritanya tidak bisa dipraktekkan secara dramatis seperti di film.

Maka dari itu, pemirsa Indonesia harus pandai-pandai memilih dan memilih sinetron yang baik ditonton. Jika semua tidak baik ditonton, maka jika Indosiar diprotes memang tidaklah salah sama sekali. Harusnya, sebagai channel nasional, Indosiar harus lebih edukatif.

Leave a Reply

Top