You are here

Roket Long March 5B Milik China Dilaporkan Menghantam Perairan Samudera Hindia

Roket Long March 5B
Bagikan Artikel Ini

Sempat membuat panik seisi dunia, roket Long March 5B milik China akhirnya resmi diumumkan mendarat. Sebelumnya titik jatuhnya badan roket tidak dapat diperkirakan dengan pasti. Beragam spekulasi muncul termasuk perkiraan bahwa pecahan badan roket akan menghantam permukiman warga. Tepat di hari Minggu (9/5/2021) pecahan roket dinyatakan jatuh di Samudera Hindia.

Identitas Roket

Roket yang namanya populer beberapa waktu belakangan ini adalah aset dari pemerintah China. Tujuan penerbangannya adalah mengirim modul inti stasiun yang berada di luar angkasa. Roket dibekali bahan bakar dalam bentuk hidrogen juga mesin bertipe YF-77. Kekuatan dorong dari roket ini diketahui 2,4 juta pon. Angka ini tentu sangat tinggi apalagi jika dibandingkan roket SpaceX Falcon 9 dengan tenaga dorong 1,7 juta pon.

Penerbangan roket Long March 5B milik China tersebut dilakukan 4 Mei 2020 silam tepatnya pukul 18:00 di Wenchang Space Launch Center. Tipe roket ini memang telah didesain berputar pada orbit rendah bumi. Bobotnya mencapai 23 ton serta tinggi 53 meter. Jadi bisa dibayangkan betapa banyak kerusakan yang mungkin terjadi apabila puing roket dalam ukuran besar menghantam permukiman.

Setelah diluncurkan dan bahan bakar telah terkuras habis, roket ini dibiarkan terbang di luar angkasa. Jika status bahan bakar nol maka roket akan melayang tak terkendali. Tinggal menunggu waktu hingga roket ditarik lagi oleh gaya gravitasi bumi.

Kelalaian China

Meskipun menjadi prinsip umum bahwa pecahan badan roket akan ditarik secara alami menuju bumi namun China melakukan kesalahan terhadap proyek roket mereka. Komunitas luar angkasa tingkat dunia secara umum akan berusaha untuk mencegah skenario yang dialami Long March 5B. Roket yang diberangkatkan akan melakukan re-entry secara otomatis dengan kontrol yang sudah terarah.

Kontrol terhadap kembalinya roket menuju ke wilayah bumi inilah yang tidak dilakukan oleh China. Pada umumnya akan dilakukan pengendalian agar pecahan roket yang tertarik kembali bisa jatuh mengarah ke laut. Bisa juga dikendalikan puing roket tetap diam di orbit mati yang akan mendukung roket bertahan melayang di luar angkasa hingga beberapa abad.

Lloyd Austin, Menteri Pertahanan AS telah memberikan tudingan kelalaian kepada pihak China. Perlu diketahui bahwa tahun lalu pecahan lainnya dari Long March juga menabrak bumi tepatnya di Pantai Gading. Kejadian ini mencatatkan kerusakan tanpa korban meninggal.

Pada dasarnya bagian roket sudah pasti terbakar sampai hancur begitu masuk menembus atmosfer yang melapisi bumi. Akan tetapi roket Long March 5B milik China tercatat memiliki ukuran yang besar sehingga mustahil untuk hancur sepenuhnya. Bahkan objek roket ini disebut sebagai objek dengan ukuran terbesar di urutan keempat dalam catatan roket yang mengalami re-entry tidak terkendali. Data ini diambil dari seorang astronom Jonathan McDowell.

Prediksi Kerusakan

Sebelumnya berita menganai Long March 5B yang masuk tak terkontrol ke wilayah bumi ini menggemparkan banyak negara. Tak bisa diprediksikan ke arah mana puing roket akan jatuh. Tentu tak bisa diprediksi pula seberapa besar kerusakan yang bisa terjadi jika roket ini telah jatuh menghantam bagian bumi.

Sempat disebutkan bahwa puing-puing roket akan jatuh menghantam permukiman penduduk. Diperkirakan juga bahwa hantaman puing-puing roket ini akan menimbulkan kerusakan juga korban jiwa. Namun hal ini hanya sebatas prediksi yang juga disebutkan bahwa risikonya terbilang rendah.

Meskipun begitu pihak China tetap dinilai lalai atas peristiwa ini. Beberapa pakar memberi masukan agar dilakukan desain ulang terhadap Long March 5B. Perlu dilakukan perbaikan agar roket ini memiliki sistem terkontrol saat kembali ke bumi. Sayangnya saran ini ditolak oleh China dan berpendapat bahwa risiko pendaratan tidak terkendali dari roket tersebut masih tergolong sangat rendah.

Menghantam Samudera Hindia

Hari Minggu (9/5/2021) telah diketahui secara pasti titik pendaratan pecahan badan roket Long March 5B milik China. Lokasi jatuhnya pecahan badan roket ini dekat dengan wilayah Maladewa. Beberapa bagian roket lainnya juga sudah terlihat hancur ketika meluncur menghantam wilayah perairan.

Kabar ini tentu membuat masyarakat dunia merasa lega. Kabar Long March 5B yang jatuh tanpa kendali membuat banyak pihak sempat panik. Sesuai dengan teori atau prediksi para ahli, pecahan roket yang tertarik kembali ke bumi tinggi kemungkinannya akan masuk ke wilayah perairan. Hal ini disebabkan oleh sebagian besar permukaan bumi tertutup oleh wilayah perairan yang luas.

Ambisi China

Negara yang juga menjadi asal menyebarnya virus Corona ini memiliki ambisi yang besar untuk proyek luar angkasa. Salah satunya memang ditunjukkan lewat proyek Long March yang baru saja menuju kembali ke bumi. Pemerintah China sendiri tak ragu mengeluarkan banyak modal agar misi-misi penting ke luar angkasa dapat berjalan dengan lancar.

Tercatat sudah ada miliaran dollar AS yang dikeluarkan oleh Beijing. Dana ini digunakan untuk mengeksplorasi luar angkasa berhubungan dengan misi peningkatan status global China. Perlu dicatat juga bahwa peluncuran roket Long March 5B ini merupakan sejarah tersendiri bagi China. Tak heran jika proyek Long March 5B ini mendapat perhatian besar tak hanya di China namun juga berbagai negara.

Kasus Serupa

Setelah munculnya berita mengenai Long March 5B kemudian muncul pertanyaan, apakah kasus semacam ini pernah terjadidi waktu lampau? Telah disebutkan sebelumnya bahwa Long March juga pernah jatuh menghantam wilayah Pantai Gading. Selain kasus ini tercatat tidak ada re-entry badan roket masuk wilayah bumi yang menimbulkan kerusakan.

Namun perlu diperhatikan juga bahwa kemungkinan pecahan badan roket untuk membali masuk ke atmosfer bumi memang begitu besar. Setelah dilakukan peluncuran satelit pertama kali tahun 1957 oleh Uni Soviet, tercatat ada banyak roket pendorong serta objek lainnya yang menuju luar angkasa. Hingga kini diperkirakan ada kurang lebih ribuan objek yang bisa saja menembus lapisan atmosfer bumi lagi tanpa kendali.

Risiko pecahan roket menghantam wilayah permukiman dan meninggalkan bekas kerusakan memang tercatat sangat kecil. Namun perlu dilakukan tindak antisipasi agar kasus roket Long March 5B milik China ini tidak terjadi kembali. Perlu dilakukan evaluasi agar re-entry roket bisa.

 

lilik sumarsih
Petualang,photographer dan penulis artikel tentang traveling dan alam liar

Leave a Reply

Top