You are here
Home > Berita Nasional >

Yuk Kenali Gangguan OCD dari Pengertian sampai Penyebabnya

Yuk Kenali Gangguan OCD dari Pengertian sampai Penyebabnya
Bagikan Artikel Ini

Istilah OCD adalah singkatan dari Obsessive Compulsive Disorder yang juga terkenal dengan nama gangguan obsesif kompulsif. Yakni salah satu gangguan kecemasan yang kronis dalam jangka panjang. Seseorang yang menderita gangguan ini seringkali mempunyai pikiran yang tak terkontrol alias obsesif.

Keadaan itu dapat memicu seseorang melakukan perilaku yang kompulsif atau tindakan yang dilaksanakan secara berulang kali. Bila seseorang itu tak melakukannya, ia akan merasa gelisah dan ketakutan berlebih. Gangguan OCD ini bisa diderita oleh siapapun tanpa melihat usia dan jenis kelamin. Tetapi lebih kerap dialami ketika seseorang baru mulai usia dewasa.

Kadang-kadang pengidap OCD pun merasa bahwa tindakannya terlampau berlebihan, tetapi ia tetap melakukannya dan tak dapat berhenti atau menjauhinya. Pada suatu penelitian memperlihatkan bahwa kurang lebih 1% dari jumlah orang yang terdapat di dunia menderita penyakit OCD. Lantas seperti apakah gejala penyakit OCD?

Gejala Pikiran atau Obsesif

Pengidap OCD akan mempunyai pikiran atau obsesif yang timbul berulang kali. Kondisi itu menjadikannya mengalami rasa cemas yang berlebihan. Di bawah ini contoh-contoh obsesif yang dirasakan pengidap OCD:

  • Merasa takut membuang ataupun kehilangan sesuatu yang penting.
  • Bersikap berlebihan tentang benar atau salah terhadap moral, agama dan sesuatu permasalahan.
  • Mempunyai pikiran yang agresif mengenai melukai dirinya sendiri atau orang lain.
  • Semuanya mesti teratur rapi dan simetri.
  • Takut terpapar atau tercemar kotoran dan kuman.

Obsesif yang dirasakan pengidap OCD itu mengakibatkan munculnya beberapa gejala berikut:

  • Tak ingin bersentuhan dengan orang lain ataupun benda khusus.
  • Merasa jijik pada kotoran atau cairan dari tubuh.
  • Ragu terhadap hal-hal kecil, seperti ragu sudah mengunci pintu ataukah belum.
  • Merasa terganggu ketika benda-benda tidak teratur rapi atau pada posisi khusus.
  • Membayangkan menyakiti dirinya sendiri atau malah orang lain.
  • Merasa cemas melakukan sesuatu tak secara optimal.
  • Khawatir mengucapkan kata-kata kotor.

Gejala Kompulsif

Tindakan kompulsif yang dilaksanakan pengidap OCD umumnya dikerjakan secara berulang kali. Hal itu untuk menghindari rasa cemas karena obsesinya. Di bawah ini beberapa gejala kompulsif pada pengidap OCD:

  • Berulang buang air, gosok gigi, dan mandi.
  • Memastikan kondisi orang-orang terdekatnya secara berulang-ulang.
  • Menyimpan benda-benda yang tak diperlukan.
  • Mengatur barang-barang dengan posisi atau cara khusus.
  • Berulang kali memastikan sesuatu, seperti memastikan pintu telah terkunci atau belum dan lain-lain.
  • Sering mengulang doa, kata-kata, dan yang lainnya.
  • Berhitung menggunakan pola khusus.
  • Berulang kali membersihkan perabotan rumah tangga.
  • Kerap mencuci tangan secara berlebihan sampai timbul lecet.

 

Penyebab Penyakit OCD

1. Biologis

Pada sejumlah penelitian memperlihatkan bahwa penyakit OCD dapat dialami seseorang akibat perubahan zat kimia alami yang terdapat di otak, seperti serotonin. Pada pengidap OCD barangkali jumlah serotonin di otaknya tidak memadai. Sehingga orang itu cenderung melakukan tindakan yang sama berulang-ulang.

2. Genetik

Penyakit gangguan kecemasan inipun dapat diderita lantaran mempunyai riwayat keluarga yang menderita OCD. Tetapi gen yang bisa saja memengaruhi keadaan itu belum diketahui.

3. Lingkungan

Disamping keadaan biologis dan genetik, penyebab penyakit inipun dapat terjadi akibat faktor lingkungan. Misalnya perilaku obsesif kompulsif yang dipelajari dari keluarga atau orang terdekatnya, terjangkit streptococcus, mempunyai trauma masa kecil.

Sesungguhnya gangguan OCD ini tak bisa disembuhkan secara menyeluruh. Tetapi pengidapnya mesti memperoleh penyembuhan dari para pakar kesehatan mental. Guna membantu meringankan atau mengendalikan gejala-gejalanya dan supaya bisa menjalankan hari-hari secara lebih baik. Bila Anda merasa mempunyai gejala ini, janganlah dulu mendiagnosa sendiri, hendaknya langsung berkonsultasi pada ahli atau dokter.

Leave a Reply

Top