Kontroversi Lagu Erika Himpunan Mahasiswa Tambang yang Menuai Kritik PublikBerita Nasional by Maman Soleman - April 21, 2026April 18, 20260 Bagikan Artikel IniMedia sosial dihebohkan dengan viralnya video Orkes Semi Dangdut ITB. Video tersebut menampilkan lagu berjudul Erika yang dibawakan mahasiswa. Kontroversi lagu Erika Himpunan Mahasiswa Tambang mencuat karena liriknya dinilai vulgar. Publik menilai lirik lagu tersebut mengandung unsur pelecehan terhadap perempuan. Kritikan keras langsung berdatangan dari berbagai kalangan masyarakat Indonesia.Lagu Erika sebenarnya merupakan karya lama dari era 1980-an. Orkes Semi Dangdut di bawah HMT-ITB telah ada sejak tahun 1970-an. Namun, penampilan tersebut kembali viral pada April 2026 lalu. Video penampilan tersebut diunggah oleh akun media sosial dan menyebar cepat. Lirik lagu dinilai tidak sesuai dengan norma kesusilaan masa kini.Dianggap Merendahkan Martabat PerempuanPotongan lirik yang menjadi sorotan dianggap merendahkan martabat perempuan. Beberapa bagian lirik dinilai sangat vulgar dan tidak pantas ditampilkan. Konten tersebut dianggap mengandung objektifikasi terhadap kaum perempuan. Publik mempertanyakan sensitivitas mahasiswa terhadap isu kesetaraan gender saat ini. Banyak warganet yang mengkritik penampilan tersebut di media sosial.Kritikan semakin keras karena konten berasal dari lingkungan kampus ternama. ITB dikenal sebagai institusi pendidikan tinggi yang berkualitas di Indonesia. Mahasiswa seharusnya menjunjung tinggi nilai etika dan moral yang baik. Namun, penampilan lagu Erika dinilai bertentangan dengan nilai-nilai akademik tersebut. Publik menilai hal ini sebagai bentuk kelalaian dalam menjaga kehormatan.Kasus Pelecehan Seksual di KampusViralnya lagu ini bertepatan dengan meningkatnya kasus pelecehan di kampus. Masyarakat semakin sensitif terhadap isu kekerasan seksual dan pelecehan verbal. Konten seperti ini dianggap tidak lagi relevan dengan perkembangan sosial. Banyak pihak mendesak agar konten tersebut segera dihapus dari peredaran. Diskusi panjang di media sosial terus berlangsung mengenai batasan kreativitas.Menanggapi gelombang kritik yang datang, HMT-ITB akhirnya angkat bicara. Mereka merilis pernyataan resmi pada 15 April 2026 kemarin. Organisasi mahasiswa tersebut menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat luas. HMT-ITB mengakui adanya kelalaian dalam menampilkan lagu tersebut di publik. Mereka menyatakan pemahaman terhadap sensitivitas isu yang berkembang saat ini.HMT-ITB Takedown Lagu ErikaDalam pernyataan resminya, HMT-ITB menyampaikan empati kepada kaum perempuan. Mereka mengakui konten tersebut tidak mencerminkan nilai yang seharusnya dijunjung. Lagu Erika dianggap tidak lagi sesuai dengan norma sosial modern. Organisasi mengaku telah gagal mempertimbangkan perkembangan nilai etika masyarakat.Sebagai tindak lanjut, HMT-ITB mengambil beberapa langkah konkret untuk perbaikan. Mereka berkoordinasi untuk menurunkan seluruh konten terkait dari kanal resmi. Video dan audio lagu Erika diminta untuk dihapus dari platform digital. Akun-akun terafiliasi juga diminta menghapus unggahan serupa dari media sosial. Bahkan video lama dari tahun 2020 juga menjadi target penghapusan.HMT-ITB berkomitmen melakukan evaluasi internal secara menyeluruh terhadap organisasinya. Evaluasi akan mencakup konten, pelaksanaan kegiatan, hingga sistem pengawasan organisasi. Standar dan pedoman organisasi akan ditinjau ulang agar lebih selaras. Tujuannya agar sesuai dengan nilai-nilai etika di lingkungan kampus. Pihak kampus ITB juga membentuk satgas pencegahan kekerasan seksual.Kasus ini menjadi pembelajaran berharga bagi organisasi kemahasiswaan di Indonesia. Tradisi lama tidak selalu relevan dengan nilai dan norma kekinian. Konten yang dulu dianggap biasa bisa menjadi masalah besar. Era media sosial membuat segala konten mudah tersebar dan dinilai. Mahasiswa harus lebih bijak dalam memilih materi yang akan ditampilkan.Kontroversi lagu Erika Himpunan Mahasiswa Tambang mengingatkan pentingnya sensitivitas sosial. Kreativitas mahasiswa harus tetap menjunjung tinggi etika dan penghormatan terhadap sesama. Lingkungan kampus seharusnya menjadi ruang aman bagi semua sivitas akademika. Organisasi mahasiswa perlu lebih selektif dalam memilih konten yang diproduksi. Kasus ini diharapkan tidak terulang di masa mendatang.