Sarah Mullally Jadi Perempuan Pertama yang Memimpin Gereja InggrisBerita Internasional by Maman Soleman - November 7, 2025November 6, 20250 Bagikan Artikel IniGereja Inggris mencatatkan babak baru dalam sejarahnya yang telah berlangsung lebih dari 1.400 tahun. Dame Sarah Mullally resmi ditunjuk sebagai Uskup Agung Canterbury ke-106 pada Jumat, 3 Oktober 2025, menjadikannya perempuan pertama yang memimpin Gereja Inggris. Penunjukan bersejarah ini menandai perubahan signifikan dalam tradisi gereja yang selama ini selalu dipimpin oleh laki-laki sejak St. Augustine menjadi uskup agung pertama pada tahun 597.Mullally dijadwalkan akan dilantik secara resmi dalam upacara di Katedral Canterbury pada Januari 2026 setelah melalui proses konfirmasi pemilihan. Sebagai pemimpin tertinggi Gereja Inggris, ia akan memimpin Persekutuan Anglikan global yang memiliki sekitar 85 juta anggota tersebar di 165 negara di seluruh dunia. Perjalanan Karier dari Perawat hingga Pemimpin RohaniLatar belakang Sarah Mullally terbilang unik untuk seorang pemimpin gereja. Lahir pada 1962, ia memulai karier di bidang kesehatan dan pernah menjadi Kepala Perawat Inggris pada 1999 ketika berusia 37 tahun, menjadi orang termuda yang pernah menduduki posisi tersebut. Pengalaman di dunia medis ini membentuk pendekatan kepemimpinannya yang penuh empati dan berbasis pelayanan. Mullally mulai mengikuti pelatihan untuk menjadi pendeta Anglikan pada 1999 dan ditahbiskan pada tahun 2002. Keputusannya meninggalkan karier medis yang cemerlang menunjukkan komitmen kuat terhadap panggilan rohaninya. Pada 2018, ia menjadi Uskup perempuan pertama London, menandai pencapaian penting sebelum akhirnya mencapai jabatan tertinggi di Gereja Inggris. Reformasi yang Membuka Jalan bagi Kepemimpinan PerempuanPenunjukan Mullally dimungkinkan berkat serangkaian reformasi progresif dalam Gereja Inggris. Pada 1994, Gereja Inggris mulai mengizinkan perempuan menjadi imam, kemudian pada 2014 melalui reformasi besar, perempuan resmi diperbolehkan menjadi uskup. Uskup perempuan pertama adalah Libby Lane yang ditahbiskan pada 2015.Reformasi ini mencerminkan perubahan pandangan tentang kesetaraan gender dalam kepemimpinan gereja. Langkah-langkah progresif inilah yang akhirnya membuka jalan bagi Mullally untuk menjadi Uskup Agung Canterbury, posisi yang selama berabad-abad hanya diisi oleh laki-laki. Tantangan dan Kritik dari Kelompok KonservatifMeskipun penunjukan ini disambut positif oleh banyak kalangan, pengangkatannya menuai kritik dari kalangan Anglikan konservatif, terutama yang berbasis di Afrika, yang menolak kepemimpinan perempuan. Kelompok GAFCON, jaringan gereja Anglikan konservatif global, menyebut keputusan Gereja Inggris sebagai tanda bahwa “otoritas kepemimpinan telah dilepaskan”.Menanggapi kritik tersebut, Mullally menegaskan bahwa dirinya akan menjadi “gembala bagi semua umat,” tanpa memandang tradisi atau pandangan mereka. Pernyataan ini menunjukkan komitmennya untuk memimpin dengan inklusivitas di tengah perbedaan pandangan yang ada. Visi Kepemimpinan dan Tantangan ke DepanMullally menghadapi sejumlah tantangan serius dalam kepemimpinannya. Dalam pidato perdananya di Katedral Canterbury, ia menyoroti skandal pelecehan seksual dan masalah perlindungan jemaat yang selama ini membayangi Gereja Inggris. Ia menggantikan Justin Welby yang mengundurkan diri akibat skandal perlindungan anak.Selain isu internal gereja, Mullally juga harus menghadapi tantangan sosial yang lebih luas. Ia menyoroti tantangan seperti krisis migrasi, biaya hidup, dan meningkatnya pola pikir sektarian di masyarakat. Sebagai mantan tenaga medis, diharapkan ia dapat menerapkan prinsip transparansi dan perlindungan yang ketat dalam menangani berbagai isu sensitif.Dalam pernyataannya, Mullally menyebut tanggung jawab barunya sebagai “berat”, namun ia merasa “tenang dan percaya pada tuntunan Tuhan” untuk menjalankannya. Dengan pengalaman unik, pendekatan empatik, dan komitmen terhadap inklusivitas, Sarah Mullally membawa harapan baru bagi Gereja Inggris di era modern ini.