You are here
Home > Berita Nasional >

97 Orang Ditangkap Saat Demo Hari Buruh, Esensi Hari Buruh Kurang Dipahami

97 Orang Ditangkap Saat Demo Hari Buruh Esensi Hari Buruh Kurang Dipahami
Bagikan Artikel Ini

Pojokjakarta.com – Tepat tanggal 1 Mei, masyarakat di seluruh dunia memperingati hari buruh Internasional. Tentunya, negara Indonesia juga memperingati hari ini, salah satu caranya adalah dengan melakukan aksi demonstrasi.

Setiap tahun, pada tanggal 1 Mei memang hampir selalu ada demonstrasi. Hal tersebut dilakukan oleh perserikatan buruh dan tentunya banyak karyawan yang sedang libur. Tuntutan yang diutarakan yakni seputar demokrasi dan pejabat publik dalam pengelolaan pemerintah.

Namun, pada tanggal 1 Mei 2021 ini, polisi menangkap 97 pendemo di Jakarta. Apa penyebab penangkapan tersebut? Tentu saja, hal ini sangat disayangkan bisa terjadi, mengingat hari buruh seharusnya hari dimana buruh bebas dan bukan malah ditangkap.

Demo yang Dilakukan Tidak Sesuai Prosedur

Salah satu sebab dari penangkapan para pendemo tersebut adalah karena proses demonstrasi tidak sesuai dengan protokol yang ada. Banyak pendemo yang tidak izin dan melakukan demonstrasi secara ilegal.

Hal tersebut tentu saja membuat polisi tidak tahu dan membuat mereka berhak untuk menangkap orang yang demo. Karena memang tidak sesuai dengan prosedur pelaksanaan demo yang ada di Indonesia.

Kejadian ini seharusnya diambil pelajaran bagi semua rakyat Indonesia. Meskipun kita semua ingin menyampaikan sebuah aspirasi, namun proses harus tetap sesuai prosedur. Mengingat demonstrasi juga menggunakan akses jalan dan sarana publik.

Jika pendemo tidak melakukan prosedur itu, tentu saja akan membuat kacau. Dimana-mana, demo harus dijaga polisi. Tujuannya, agar tertib dan tentunya tidak semena-mena. Sehingga, terjadi demo yang kondusif yang positif.

Membuat Jalan Macet

Karena demonstrasi tersebut dilakukan tanpa izin, maka jalan di Jakarta menjadi macet. Hal tersebut bukan jadi rahasia, banyaknya orang yang turun ke jalan tentu saja akan membuat transportasi tidak berjalan dengan baik. Akhirnya macet dan mengganggu pengguna jalan lain.

Jika ingin menyalurkan aspirasi lewat demonstrasi, maka harus mengikuti prosedur yang benar. Jika tidak, hasilnya adalah kericuhan dan tentu saja mengganggu orang lain. Tidak ada orang yang menginginkan hal tersebut, maka dari itu harus izin terlebih dahulu.

Sudah menjadi tugas polisi untuk mengamankan demonstrasi. Bukan maksud polisi membenci para pendemo, mereka tentu saja hanya melaksanakan tugas agar jalan tidak macet dan mengganggu ketertiban jalan raya.

Jakarta adalah kota metropolitan, sehingga jika akses jalan ditutup tanpa ada pemberitahuan, maka otomatis dapat dipastikan akan macet. Maka dari itu, proses legalisasi demo dan izin menjadi suatu hal yang wajib dilakukan. Apapun jenis demo yang dilaksanakan.

Dilakukan dengan Melanggar Protokol Kesehatan

Demonstrasi memang boleh dilakukan, bahkan menjadi salah satu bentuk penyampaian aspirasi paling efektif. Namun tentu saja harus melihat situasi dan kondisi. Hari ini kita masih menghadapi pandemi Covid-19, maka jangan sampai demo malah melanggar protokol kesehatan.

Esensi hari buruh adalah hari peringatan jika buruh adalah elemen terpenting dalam masyarakat. tanpa buruh, Indonesia tidak bisa jadi apa-apa. karena setiap manusia adalah butuh dan bekerja untuk kemajuan ekonomi bangsa.

Semangat hari buruh di zaman ini dan dengan situasi seperti ini tentu saja bisa disalurkan lewat media sosial. Sehingga, tidak perlu melanggar protokol kesehatan dalam pelaksanaanya. Percuma jika demo dilakukan, akan tetapi protokol dilanggar.

Sebuah pola pikir yang salah jika terpaksa demo dan menerobos semua protokol kesehatan.. Maka dari itu, lebih baik demo di rumah, ketimbang harus berhimpit-himpit dan menyambung rantai penyebaran Covid-19.

Kita harus belajar dari Covid-19 di India. Jangan sampai Indonesia seperti itu. Tidak ada yang mau jika timbul korban lagi. Maka dari itu, jika bisa dilakukan secara online, kenapa harus mengumpulkan massa dan melanggar semua protokol yang ada.

Aksi Bakar Ban yang Bikin Ricuh

Sebab penangkapan 97 orang saat demo May Day di Jakarta juga karena ada aksi bakar ban. Aksi ini tentu saja membuat banyak orang ricuh. Karena membakar ban di jalanan, akan mengganggu udara di sekitar.

Sehingga banyak orang yang akan semakin panas dan tidak menutup kemungkinan menyebabkan kepanikan muncul. Maka dari itu, polisi menganggap hal tersebut merupakan sebuah tindakan yang salah dalam proses demonstrasi.

Apalagi demo tersebut tidak menyimpan surat izin. Membakar ban akan merusak udara, membuat kotor jalanan, dan banyak negatif lainnya. Maka dari itu, tidaklah heran jika banyak orang yang ditangkap dalam demo tersebut.

Karena memang sudah kelewatan taraf demonya. Semua orang tentu saja setuju, demo tanpa aksi bakar-bakar akan jauh lebih kondusif. Maka dari itu, tidaklah perlu tindakan seperti itu, apapun alasannya.

Semangat buruh tentu harus dimiliki oleh semua orang. Sehingga semua mau membangun Indonesia tercinta ini. Namun semangat tersebut tidaklah perlu dilampiaskan dengan aksi bakar-bakar. Karena percuma dalam proses penyampaian aspirasi.

Membakar ban hanya akan merusak fasilitas umum dan memicu kericuhan. Maka dari itu, demo akan jauh lebih baik jika dilakukan dengan tertib. Semua menjaga tindakan dan keonaran. Tidak ada provokasi dan bersih dari kekerasan.

Memaknai Esensi May Day dengan Baik

Seharusnya, semua tindakan penyaluran aspirasi yang kita lakukan harus sesuai dengan prosedur demo dan protokol kesehatan. Karena dua hal tersebut adalah hal yang utama. Selain menyalurkan aspirasi, kita tentu diwajibkan menjaga kesehatan dan keselamatan masing-masing.

Maka dari itu, mari kita menyalurkan aspirasi dengan cara yang baik dan positif. Demo hari butuh boleh saja dilakukan, asalkan tertib dan sesuai dengan aturan. Semoga hari buruh ini menjadi hari yang memotivasi kita menambah semangat dalam bekerja. Selamat hari buruh Internasional.

Leave a Reply

Top