You are here
Home > Berita Nasional >

Begini Nasib Karyawan Garuda di Tengah Gempuran Pandemi

Nasib Karyawan Garuda
Bagikan Artikel Ini

Dampak pandemi terjadi di berbagai sektor termasuk pada industri pariwisata dan transportasi. Penurunan angka penumpang pesawat terjadi secara drastis seiring dengan pembatasan mobilitas akibat pandemi. Nasib karyawan Garuda sebagai salah satu maskapai penerbangan terbesar di Indonesia pun ikut dipertaruhkan. Seperti apa kondisi saat ini dan apa yang akan diterima oleh para karyawan?

Kesulitan Finansial

Masalah finansial tampaknya menjadi masalah utama berbagai pihak di tengah pandemi seperti sekarang. Penurunan angka penumpang menjadi salah satu penyebab utama Garuda harus menghadapi masalah finansial yang cukup pelik. Para petinggi tengah mengusahakan pencarian solusi agar perusahaan dapat terlepas dari masalah finansial yang lama-lama bisa menenggelamkan maskapai.

Hingga detik ini ada banyak hal yang harus dievaluasi oleh Garuda sehubungan dengan masalah finansial perusahaan. Menurut data pendapatan Mei 2021, Garuda Indonesia tercatat hanya meraih kurang lebih USD 56 juta. Padahal saat ini Garuda masih memiliki tanggungan pesawat sewa sebesar USD 56 juta.

Lebih dari itu ada biaya perawatan pesawat juga biaya bahan bakar avtur yang masing-masing besarnya USD 20 juta. Sementara itu gaji pegawai juga harus dibayarkan dengan besar USD 20 juta. Jadi jelas bahwa jumlah pendapatan tak bisa mencukupi semua jenis pengeluaran. Bahkan jauh dari nilai cukup sehingga kondisi ini akan menempatkan Garuda dalam kondisi finansial yang sulit.

Terbelit Utang

Berdasarkan data pendapatan dan pengeluaran yang besarnya tak seimbang, Garuda disebut dalam kondisi yang genting. Hal ini diperparah dengan adanya catatan utang yang besarnya pun tak bisa dikatakan ringan. Tercatat bahwa Garuda Indonesia telah memiliki utang sebesar USD 4,9 miliar atau kurang lebih Rp70 triliun. Tentu hal ini membuat pihak perusahaan semakin kesulitan dari segi finansial.

Jumlah utang yang telah disebutkan tadi nyatanya terus bertambah. Nilai utang terus meningkat kurang lebih sebanyak Rp 1 triliun setiap bulan. Penambahan nilai utang ini terjadi karena perusahaan melakukan penundaan pembayaran kepada pemasok. Jadi bisa dibayangkan berapa banyak nilai utang yang terus menumpuk jika Garuda tak segera memperbaiki masalah finansial mereka.

Nasib Karyawan

Kondisi Garuda Indonesia yang terbelit utang dan memiliki arus kas negatif ini tentu membuat banyak orang bertanya-tanya. Khususnya mengenai nasib karyawan Garuda yang selama ini telah mengabdi. Pembayaran gaji karyawan jelas tak bisa berjalan lancar karena pihak perusahaan memiliki masalah finansial lain yang cukup besar.

Bagaimanapun juga semua pihak yang terlibat di perusahaan memiliki tanggung jawab dan akan menerima dampak dari kondisi ini. Masalah finansial yang dialami perusahaan jelas akan membuat para karyawan harus menelan pil pahit. Bahkan ada juga maskapai penerbangan lain yang telah melakukan pemutusan hubungan kerja akibat kondisi finansial yang semakin sulit.

Tak ingin mengambil jalan PHK, pihak Garuda kabarnya memilih untuk menawarkan pensiun dini kepada karyawannya. Hal ini disampaikan oleh Irfan Setiaputra sebagai Dirut Garuda Indonesia. Ditegaskan olehnya bahwa tidak akan ada karyawan yang mengalami PHK. Keputusan ini tentu memberatkan bagi sebagian pihak namun dianggap memberi kerugian yang minimal bagi karyawan.

Pensiun Dini dengan Syarat

Sampaikan pula bahwa karyawan akan menerima penawaran percepatan pensiun dengan syarat dan ketentuan. Hanya karyawan yang memenuhi syarat dan kriteria bisa mengikuti program pensiun dini tersebut. Lewat program pensiun dini ini diharapkan perusahaan masih bisa terus menjamin kesejahteraan serta nasib karyawan Garuda.

Penolakan program PHK oleh pihak Garuda disebutkan sebagai respon imbauan Kementerian Ketenagakerjaan untuk meminimalkan PHK. Bagaimanapun juga PHK akan merugikan karyawan dan menurunkan kesejahteraan mereka. Garuda Indonesia berusaha semaksimal mungkin agar dampak pandemi ini tidak memberi resiko terburuk bagi karyawannya.

Pihak perusahaan tidak akan memaksa karyawannya untuk mengundurkan diri atau mengajukan pensiun. Ini hanya berupa anjuran yang bisa diikuti secara sukarela oleh karyawan. Jika kriterianya memang sesuai, maka diharapkan kesadaran karyawan untuk mengikuti program pensiun dini tersebut.

Solusi Terbaik

Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan bahwa jalan yang ditempuh Garuda Indonesia ini merupakan solusi terbaik. Jalan ini diharapkan bisa menyelamatkan Garuda dari masalah finansial tanpa menjatuhkan nasib karyawan Garuda. Bahkan disebutkan juga bahwa ia akan tetap berusaha agar ribuan karyawan maskapai ini tetap bisa bertahan di tengah situasi yang tak menentu seperti sekarang.

Sementara itu sang Dirut juga menyebutkan bahwa perusahaan saat ini tengah mengusahakan penyesuaian aspek supply dan demand secara optimal. Demand yang rendah menjadi faktor utama yang memicu munculnya masalah finansial perusahaan saat ini. Oleh karena itu sebisa mungkin akan dilakukan penyesuaian sehingga masalah ini bisa diatasi tanpa harus berfokus pada PHK karyawan.

Meskipun saat ini para petinggi tengah mengusahakan solusi terbaik, namun tampaknya penyelesaian masalah finansial perusahaan tak bisa berjalan cepat. Tentu saja dibutuhkan waktu untuk memperbaiki kondisi finansial hingga semua hutang terlunasi. Apalagi jika situasi pandemi masih terus berlanjut dan mobilitas masyarakat tetap dibatasi untuk menurunkan penularan virus.

Usaha Peningkatan Arus Pariwisata

Berbagai pihak berusaha untuk bangkit di era pandemi yang serba sulit ini. Salah satu caranya adalah dengan membangkitkan kembali arus pariwisata sehingga jam terbang maskapai kembali hidup. Upaya promosi pariwisata aman di tengah pandemi telah dilakukan oleh banyak pihak. Penerbangan dengan kenyamanan dan keamanan tinggi di era pandemi juga terus diusahakan.

Namun dibutuhkan waktu agar pemakaian jasa maskapai bisa kembali seperti sebelum masa pandemi. Bagaimanapun juga penurunan performa maskapai terjadi akibat pandemi. Masalah inilah yang harus segera diselesaikan agar berbagai pihak bisa segera menemui solusi atas masalah finansial yang dihadapi.

Program pemerataan vaksinasi hingga detik ini terus dilakukan. Beriringan dengan hal tersebut, petinggi Garuda Indonesia juga terus mencari solusi untuk menutupi masalah utang dan intern perusahaan. Kerja sama dari berbagai pihak sangat dibutuhkan, termasuk para karyawan yang diharapkan bersedia mengikuti program pensiun dini secara sukarela jika memenuhi persyaratan.

Erick Thohir beserta jajaran petinggi berusaha semaksimal mungkin menjaga nasib karyawan Garuda. Bagaimanapun juga kesejahteraan karyawan merupakan tanggung jawab bagi perusahaan. Semoga saja masalah finansial yang membelit Garuda Indonesia bisa segera terselesaikan dan kesejahteraan ribuan karyawan tetap bisa dipertahankan.

 

lilik sumarsih
Petualang,photographer dan penulis artikel tentang traveling dan alam liar

Leave a Reply

Top