Automasi sudah menjadi semangat hampir semua perusahaan di dunia sekarang ini. Dengan terobosan dan inovasi di bidang teknologi, pekerjaan-pekerjaan rutin di kantor bisa dikerjakan dengan robot. Salah satunya adalah Robotic Process Automation. RPA adalah solusi yang sangat tepat untuk urusan efisiensi di perusahaan. Teknologi RPA sendiri menimbulkan munculnya market atau permintaan akan teknologi ini. Menurut data yang dihimpun Global Market Insight, Inc. akan terjadi peningkatan nilai pasar RPA mencapai 23 juta Dollar pada tahun 2026 nanti. Artinya, peningkatan penggunaan machine learning dan AI juga bakal terus ada. Apa itu RPA dan Sejarahnya Secara sederhana RPA adalah sebuah robot yang diciptakan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rutin. Jangan dulu membayangkan akan ada banyak robot duduk di kantor menyelesaikan posting transaksi keuangan atau membaca email, tapi ini lebih kepada sebuah sistem automasi. Teknisnya, RPA adalah penggunaan software komputer untuk menghandle pekerjaan berulang (repetitive), pekerjaan-pekerjaan berbasis digital seperti copy paste, posting data atau transaksi, sampai filling dokumen. Hasil akhir yang diharapkan adalah manusia bisa lebih fokus pada pekerjaan yang menuntut adjustment, kreativitas, dan interpersonal skill. RPA sendiri mulai marak digunakan sejak tahun 2000an sejak mulai dikembangkan di era 90an. Namun, induk dari software robotic ini sendiri adalah Machine Learning atau ML yang dibangun pada tahun 1959 oleh Arthur Samuel. Temuan ini berupa sebuah komputer yang bisa mengerjakan sejumlah pekerjaan kritikal seperti menerjemahkan dan meringkas teks. Tetapi, keterbatasan Machine Learning dalam mengartikan atau memahami bahasa membuatnya perlu diperbaiki. Maka, pada tahun 1960an dikembangkanlah NLP atau Natural Language Processing yang dapat membantu sebuah komputer mengerti bahasa secara lebih akurat. Di tahun ini juga, NLP digabungkan dengan teknologi AI yang membuat adanya interaksi antara bahasa manusia dan komputer. Teknologi artificial intelligence pada RPA memanfaatkan kemampuan sebuah komputer atau robot untuk mengerjakan pekerjaan manusia. Program dasar yang diinstall pada perangkat ada tiga yaitu learning, reasoning, dan juga self-correction. Jadi, selain mengerjakan pekerjaan juga bisa untuk meminimalisir kesalahan. Penyedia RPA Tools Terbaik Perkembangan teknologi artificial intelligence dan penerapannya di semua proses bisnis menginisiasi munculnya unicorn-unicorn pada penyedia RPA. Sebagai sebuah terobosan dalam hal Digital Workforce, ada sedikitnya 3 perusahaan terbaik sebagai penyedia RPA. Berikut ini daftarnya: 1. Blue Prism Perusahaan ini memfokuskan diri untuk menciptakan Digital Workforce sejak awal. Mereka menyebut teknologinya sebagai outsourced workforce. Bahkan Blue Prism mengklaim mereka telah mengerjakan RPA jauh sebelum orang-orang memperebutkan teknologi ini. Dalam perjalanannya, Blue Prism bertransformasi menjadi platform teknologi dan menyebut toolsnya sebagai Connected RPA. Targetnya adalah untuk menyediakan akses dan pondasi dari intelligent automation di berbagai jenis dan level enterprise atau industri di seluruh dunia. Dibangun di Microsoft.NET Framework, robot dari Blue Prism mengandalkan business object untuk berinteraksi dengan sebuah aplikasi. Disini, business object berlaku sebagai adaptor sebagai interface untuk user ke aplikasi-aplikasi tertentu. Tools ini adalah sedikit dari RPA berbasis objek sehingga tidak memiliki recorder. 2. UiPath Ini mungkin menjadi tools RPA yang paling terkenal dan banyak digunakan oleh perusahaan di seluruh dunia. Dulunya, ketika masih bernama DeskOver, tools yang dikembangkan adalah membuat automatic library dan software developments kits. Automasi ini sangat populer karena digunakan pada perusahaan raksasa seperti IBM, Microsoft, dan Google sampai sekarang dan ada di produk-produk mereka. Sekitar 2012, diluncurkanlah lini produk automasi pertama dari mereka yaitu UiPath Desktop Automation yang secara spesifik menargetkan pasar RPA. Perusahaan ini tampaknya menyadari bahwa ada kesesuaian pasar dengan teknologi RPA. UiPath kemudian mengerahkan semua resourcesnya untuk menggarap software robot mulai dari pelatihan sampai pengaturannya. Robot-robot mereka dikembangkan di UiPath Studio dan bisa diatur secara terpusat melalui Orchestrator. Pekerjaan yang bisa dilakukan dari tools atau robot ini adalah attended automation dan juga unattended automation. Jadi semua pekerjaan yang diperintahkan manusia atau proses automasi yang terjadwal bisa dikerjakan oleh UiPath. 3. Automation Anywhere Dibangun tahun 2003 dulu dikenal dengan nama Tethys Solution. Misi dari perusahaan ini adalah untuk membuat bisnis RPA ada dimana-mana seperti air. Walaupun terhitung baru, mereka sudah menyebut tools nya sebagai platform yaitu Automation Anywhere Enterprise yang ditujukan untuk masa depan otomasi proses bisnis. Core product mereka adalah seperti RPA pada umumnya yaitu robot dengan studio untuk membagi dan mengatur workflows serta control center untuk mengatur bot. Bahkan, Automation Anywhere memiliki produk yang mereka sebut sebagai IQ Bot yang merupakan RPA plus AI. Menariknya lagi, tools mereka dibangun di Windows .NET Framework. Seperti diketahui bahwa hampir semua teknologi RPA dibangun di Microsoft Technologies, sedangkan Automatic Anywhere dibangun di Windows. Dengan banyaknya pengguna komputer berbasis Windows, maka pengguna bisa memperoleh banyak manfaat dari RPA ini. Pertumbuhan Pasar RPA Pasca Serangan Pandemi Covid 19 Di tahun 2021, pendapatan dari software RPA diproyeksikan meningkat 19,5 persen dari tahun 2020 berdasarkan forecast dari Gartner, Inc.* Terlepas dari tekanan ekonomi karena virus corona yang menyerang dunia, pasar RPA masih menunjukkan pergerakan yang signifikan. Pertumbuhannya akan terus terjadi sampai 2024 nanti. Kunci keberhasilan industri RPA ini tumbuh di saat pandemi adalah kemampuan mereka untuk meningkatkan kualitas proses bisnis, kecepatan, dan juga produktivitas. Yang mana ketiga hal ini sangat dibutuhkan perusahaan di masa pandemi. Efisiensi dalam hal pekerjaan dan cost menjadi semangat semua perusahaan akibat tekanan ekonomi. Masih menurut Gartner, terjadi peningkatan ketertarikan dari industri terhadap teknologi RPA akibat resesi dan pandemi. 90 persen organisasi besar tampaknya akan mengadopsi teknologi robotic ini kedalam beberapa bentuk seiring dengan keinginan untuk memberdayakan proses bisnis yang penting kedalam bentuk digital. Banyak perusahaan yang mulai mengkalibrasi ulang tenaga kerja manusia dan pekerjaan-pekerjaan manual mereka. Hasilnya adalah tingginya ketertarikan terhadap RPA. Hal-hal yang bersifat rutin sebelumnya masih sangat bergantung pada tenaga manusia. Usai pandemi, RPA adalah salah satu solusi yang akan diambil oleh banyak perusahaan di dunia untuk menekan ketergantungan. Penggunaan teknologi RPA ini jelas akan menguntungkan perusahaan karena bisa menghemat cost dan meningkatkan produktivitas. Namun di sisi lain, akan ada banyak jenis profesi yang hilang. Misalnya, dunia mungkin tidak akan lagi memerlukan seorang sekertaris untuk membaca dan mendistribusikan disposisi. Atau tidak akan lagi diperlukan seorang prosessor di bagian keuangan untuk posting transaksi. Nyatanya, RPA adalah sebuah teknologi atau software yang sudah banyak digunakan pada divisi keuangan. Pekerjaan posting merupakan pekerjaan rutin yang menyita banyak waktu apalagi jika dikerjakan oleh manusia. Melalui AI yang diterapkan ke komputer, sebuah postingan transaksi bisa dikerjakan secara otomatis. Akhirnya, manusia memang harus bersahabat dengan robot. Sumber: *https://www.gartner.com/en/newsroom/press-releases/2020-09-21-gartner-says-worldwide-robotic-process-automation-software-revenue-to-reach-nearly-2-billion-in-2021 **https://www.uipath.com/resources/automation-analyst-reports/forrester-wave-rpa?utm_source=GoogleSearch&utm_medium=cpc&utm_term=%2Brpa-b&utm_content=506713606779&utm_campaign=AR21FWR&&utm_source=GoogleSearch&utm_medium=cpc&utm_term=%2Brpa-b&utm_content=&utm_campaign=&gclid=CjwKCAjw9r-DBhBxEiwA9qYUpcWNGaJqyIE0Ck0o1e1TcSjC8uAVaB5aozfupGPXqjNBP21BSEE5eRoCNhwQAvD_BwE&gclsrc=aw.ds