You are here
Home > Berita Nasional >

Kekayaan Mineral Batubara Indonesia, Benarkah Hingga 39 Miliar Ton?

Kekayaan Mineral Batubara Indonesia
Bagikan Artikel Ini

Indonesia yang kaya akan bahan tambang salah satunya batubara, menurut keberadaan Badan Geologi Kementerian dari  ESDM. Menyatakan besaran adanya sumber daya alam dari batubara secara menyeluruh di negara Indonesia hingga  miliar ton sebesar 143,73. Tidak hanya sampai disitu, ternyata dari cadangan untuk batubara tersebut dimiliki Indonesia sekitar 38,81 besaran miliar ton. Banyak kekayaan mineral batubara Indonesia mulai menyentuh angka 39 besarnya miliar ton banyaknya, fantastis!

Konsumsi untuk Batubara di Indonesia

Menurut kepala dari Geologi untuk Kementerian ESDM,Pak Eko Budi Lelono saat sedang membicarakan memanfaatkan abu pembakaran batubara atau FABA yang terpantau di Jakarta. Bahwa negara Indonesia ternyata memiliki banyak kekayaan hasil alam yang begitu besar. Berdasarkan penelitian dari Lembaga Geologi pada 2020  tahun lalu sebanyak  miliar ton angkanya 14,73. Yang mana dengan cadangan juga menyentuh miliar ton sebesar 39.

Di tahun 2020, konsumsi dalam negeri untuk penggunaan batubara atau disebut dengan Domestic Market Obligationnya sekitar 121,89 juta ton. Kebutuhan akan batubara sebanyak itu memang dominan  digunakan untuk keperluan supply PLT. Dengan jumlah 237 Pembangkit untuk Listrik tenaga uap batubara yang tersebar di wilayah Indonesia.

Menurut Eko, memang secara jumlah yaitu 90 persen dari cadangan dari batubara negara Indonesia digunakan untuk memenuhi permintaan industrial. Diantaranya untuk dipakai tenaga untuk listrik, buat pupuk, untuk semen, juga smelter serta bahan kertas dalam produktivitas kerja. Dimana kekayaan mineral batu bara di Indonesia sebesar 50 persennya digunakan sebagai konsumsi bangkitnya listrik untuk PLTU.

Kapasitas totalnya yang terpasang di PLTU besarnya hingga 34,6 giga watt Dengan jumlah dari batubara capaian 98,9 juta dalam ton banyaknya potensial FABA atau Fly Ash and Bottom Ash sebesar 9,89 juta ton tersebut. Inilah yang memicu potensi adanya emisi yang mengganggu lingkungan akibat pemanfaatan untuk batubara pada PLTU.

Tantangan yang ada di Industri Batubara

Adanya penelitian tersebut telah dilakukan oleh Geologi selaku badan resmi pada 2018 sampai 2020, daerah Kaltim juga Sumsel.  Terjadinya konsentrasi pada abu dari batubara tercapai hingga 2.000 ppm angkanya capai 10 kali lipat. Dengan kandungan  dari Rare Earth Element disingkat REE disebut dengan logam dari tanah jarang hingga 200 ppm.

Hal ini semakin memicu isu lingkungan dimana emisi dari batubara yang meningkatkan karbondioksida dalam peningkatan suhu bumi. Hal ini tentu menjadi tantangan besar untuk mengelola batu bara namun bisa meminimalisir risiko emisi yang ada. Kemunculan tantangan tersebut menjadi latar belakang diadakannya diskusi FABA.

Seperti yang dinyatakan oleh Dosen dari  Fakultas Teknik UGM, Ferian Anggara menyebutkan bahwa negara Indonesia harus mampu melaksanakan pemahaman terkait adanya karakteristik batubara yang komprehensif. Dengan adanya karakteristik untuk FABA guna  pemaksimalan potensi yang ada dari batubara.

Menurut Ferian, pandangan terhadap batubara tak hanya pernyataan nilai komoditas saja.  Namun jadi satu kesatuan secara utuh memanfaatkan eksisting sebagai suplai PLTU. Yang kemudian digunakan pula guna memanfaatkan limbah dalam mendapatkan  produk yang baru. Jajaran peneliti tentu melihatnya sebagai peluang yang kemudian manfaatnya digunakan secara banyak untuk Indonesia.

Kekayaan Mineral Batubara di Negara Indonesia

Untuk menambahkan banyak adanya potensi dan kekayaan yang ada di Indonesia terutama bahan tambang seperti batu bara. Maka  melibatkan banyak pelaku untuk berperan dalam pemanfaatan kekayaan batu bara. Untuk bisa seimbang dimana batu bara menjadi hal yang bermanfaat tapi meminimalisir adanya akibat emisi yang ditimbulkan.

Keberadaan kekayaan mineral yang ternyata mencapai 39 miliar ton batu bara akan dialokasikan paling besar ke PLTU, baru kemudian ke industri lainnya. Menjadi PR besar yaitu meminimalisir dan menjawab tantangan untuk bisa mengurangi emisi yang ditimbulkan  dari pemakaian batu bara.

 

lilik sumarsih
Petualang,photographer dan penulis artikel tentang traveling dan alam liar

Leave a Reply

Top