Setelah diumumkan tenggelam pada Sabtu, 24 April 2021 kemarin, akhirnya hari ini crew kapal selam KRI Nanggala dinyatakan gugur. Pernyataan ini disampaikan oleh Panglima TNI didampingi Kapolri dan KASAL. Duka mendalam dirasakan oleh keluarga, kerabat, dan rekan sesama prajurit atas musibah ini. Namun begitu, upaya pencarian tetap untuk bisa mengevakuasi prajurit yang gugur dalam tragedi ini. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, telah menyampaikan sikap dan ucapan belasungkawanya kepada keluarga namun menyatakan tetap meneruskan misi penyelamatan. Ini merupakan duka mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. Diawali Latihan Perang, Berakhir di Kedalaman 800 Mdpl Rabu, 22 April 2021 dini hari menjadi awal dari kejadian naas ini. Kapal selam KRI Nanggala dijadwalkan menjalani latihan penembakan torpedo yang merupakan senjata strategis TNI AL 2021. Seharusnya, ini menjadi kegiatan terjadwal yang seharusnya selesai pada 05.15 WITA. Sekitar pukul 03.00, pihak otoritas memberikan izin memulai kegiatan setelah sebelumnya permintaan untuk menyelam ke kedalaman 13 meter diterima. Sea rider pun telah bersiap untuk nantinya mendampingi sebagai tim penjejak. Bersama di dalamnya adalah Kopaska yang terlibat dalam pemeriksaan sebelum peluncuran. Seharusnya, walaupun penembakan dilakukan dengan menyelam, periskop tetap bisa terlihat. Namun justru tidak tampak dan tak ada respon dari Nanggala 402 ketika dilakukan kontak. Jadwal penembakan sudah tiba, tapi permintaan otorisasi tidak juga masuk. Helikopter pun diterjunkan untuk mencari jejak visual tetapi tidak menemukan apa-apa. KRI Nanggala akhirnya melewati waktu estimasi naik ke permukaan dan prosedur sublook ditetapkan pada 05. 15 WITA. Pencarian yang memakan waktu sekitar tiga jam dilakukan namun tidak membuahkan hasil. Status dinaikkan menjadi submiss dan pernyataan bahwa kapal selam ini hilang dikeluarkan pada pukul 06.46 WITA. Pencarian selama empat hari yang melibatkan negara sahabat seperti USA, Malaysia, Singapura dan Australia. Tentunya juga tim gabungan dari TNI AL, POLRI, KNKT, Basarnas, serta BPBD. Akhirnya ditemukan bukti-bukti dimana menunjukkan submarine ini tenggelam di kedalaman sekitar 800 mdpl. Hingga akhirnya setelah berbagai upaya dilakukan, kapal dinyatakan hilang kemudian sub sank. Terakhir dengan berat hati diberitakan juga kalau seluruh awak gugur dalam tugas. Yang tersisa sekarang adalah mengupayakan agar korban dapat ditemukan. Bagaimana pun, harapan akan keselamatan mereka tetap ada menjadi asa bagi semua keluarga. Dugaan Penyebab Tenggelamnya Kapal Selam KRI Nanggala Bukti temuan seperti busa penahan, cairan pelumas, oil spill, dan juga serpihan body menjadi penguat teori kalau submarine ini memang tenggelam. Adapun sebabnya masih belum dikatakan secara pasti namun sejumlah dugaan dan asumsi menyeruak. Ketika sebuah kapal selam mengalami gangguan yang bisa menyebabkan tenggelam, maka cadangan oksigen hanya bisa untuk 72 jam. Yudi Margono, selaku Kepala Staf TNI AL menepis adanya dugaan bahwa kapal meledak. Ia mengatakan jika terjadi ledakan maka akan ada pecahan yang ukurannya lebih besar. Ditambahkan lagi pasti terdengar oleh sonar. Sedangkan blackout juga ditengarai bukan menjadi penyebabnya karena jejak visual terakhir memperlihatkan kalau lampu pada kapal menyala ketika menyelam. Dugaan sementara, kapal dipastikan mengalami keretakan ketika mencapai kedalaman lebih dari 500 mdpl. Diduga diawali dulu dengan listrik mengalami gangguan sehingga tidak mampu mengirim sinyal. Disisi lain, cadangan oksigen pada kondisi ini hanya mampu bertahan selama 72 jam atau 3 hari. Namun, apabila kendala kelistrikan tidak ada, oksigen bisa digunakan sampai 5 hari. Sementara itu, Collin Koh, peneliti spesialis untuk angkatan laut dan kemaritiman dari S Rajaratnam School of International Studies Singapore mengatakan jika kapal ditemukan pada kedalaman yang melampaui kapasitasnya. Diasumsikan jika tidak ada yang bisa menyelamatkan diri sebelum kapal menghantam jurang yang dalam, maka kemungkinan selamat sangat kecil. Pendapat lain datang dari Frans Wuwung, pensiunan Laksamana TNI AL dan pernah bertugas sebagai kepala ruang mesin di KRI Nanggala. Ia meyakini kalau blackout adalah penyebabnya. Sedangkan Frans Owen dari Submarine Institute of Australia mengatakan jika banjir menjadi musabab kapal tenggelam karena tidak mampu membendung debit air. Dilema Alutsista Tua, Dipaksa Lindungi Indonesia Terlepas dari semua penyebab tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala mulai dari gangguan kelistrikan, blackout, retak, sampai banjir, satu hal yang terus dibicarakan publik adalah umur dari kapal selam itu sendiri. Diketahui bahwa KRI Nanggala merupakan submarine buatan Jerman tahun 1977 dan resmi digunakan oleh Indonesia pada 1981. Artinya, sudah 40 tahun KRI Nanggala menjaga kedaulatan perairan Indonesia dan jelas ini bukan usia yang muda lagi. Kapal selam ini mencatatkan torehan prestasi yang tidak sedikit, salah satunya adalah ketika terlibat dalam menyelesaikan sengketa Blok Ambalat beberapa tahun lalu. Dengan tuntutan dinamika keamanan laut dan kedaulatan yang semakin kompleks, modernisasi alutsista jelas harus menjadi prioritas. Perawatan dan pengecekan rutin saja tampaknya tidak cukup. Selain isu peralatan tua, jumlah alutsista pun jadi sorotan. Dengan perairan yang begitu luas, Indonesia hanya memiliki 5 submarine dimana idealnya adalah 12 jika hanya untuk menjaga perairan. Namun apabila ditujukan untuk membangun kekuatan armada kelautan, sedikitnya Indonesia harus memiliki 25 kapal selam. Hal ini diutarakan oleh Marsetio, mantan KASAL pada masa 2012-2014. Sementara itu, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengatakan jika pengadaan alutsista membutuhkan biaya yang sangat besar sementara pembangunan sedang difokuskan ke kesejahteraan. Pilihan Antara Kesejahteraan atau Pertahanan? Menurutnya, ada pilihan yang sama-sama berat antara mana yang didahulukan, infrastruktur untuk kesejahteraan atau modernisasi alutsista. Akhirnya, memang TNI harus memaksimalkan peralatan yang ada dengan efisien. Sementara itu, Laksamana (Purn) Marsetio mengharapkan Indonesia bisa harus bisa memproduksi alutsista sendiri. Kalaupun ada pembelian alat utama sistem senjata harus dibarengi dengan transfer knowledge agar kedepannya bisa mandiri dan tidak tergantung pada negara lain. Tetapi memang di masa pandemi ini Indonesia tidak dapat terlalu memaksakan diri memodernisasi alutsista karena memang semua anggaran sedang difokuskan untuk menyelesaikan masalah virus corona. Kapal selam KRI Nanggala telah tenggelam bersama awak yang merupakan prajurit terbaik. Kenyataan pahit ini harus diterima oleh segenap komponen bangsa sambil terus berjuang memperbaiki sistem pertahanan dan kedaulatan. Pasalnya, pembangunan ekonomi yang baik akan berjalan beriringan dengan penguatan sistem pertahanan suatu negara.