You are here

Pengawas Nuklir Internasional Menekan Iran

Pengawas nuklir Internasional

Foto Ilustrasi Pengawas nuklir Internasional Oleh Markus Distelrath

Pojokjakarta.com (20 Juni 2020), Badan pengawas nuklir internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumumkan pada hari Jumat (19 Juni 2020) bahwa pihaknya memiliki keprihatinan serius. Keprihatinan Serius mengenai ketidakmampuan Iran untuk mematuhi kewajiban perlindungan kontrak.

Resolusi Pengawas Nuklir Internasional

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengeluarkan resolusi. Resolusi yang menyerukan Iran untuk mengizinkan inspektur internasional untuk mengunjungi situs dua fasilitas nuklir. Resolusi menekan Iran untuk memberikan kerja sama penuh sesuai dengan perjanjian IAEA.

Dilansir dari Deutsche Welle (20 Juni 2020),Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengatakan bahwa Iran sejauh ini tidak menunjukkan niat untuk membatasi ekspansi program nuklirnya. Iran selama berbulan-bulan telah menolak memberikan jawaban dan akses yang diperlukan untuk IAEA. Akses yang dimaksud bertujuan untuk melakukan pekerjaan verifikasi kritis IAEA.

Resolusi itu menandai pertama kali Perancis, Jerman dan Inggris menyuarakan dukungan bersama Amerika Serikat setelah Presiden Trump menarik diri dari Kesepakatan Nuklir Iran pada 2018.

IAEA, di bawah direktur jenderal barunya, Rafael Grossi, juga mengatakan bahwa Iran perlu secara penuh dan jelas menjawab pertanyaan IAEA. Pertanyaan IAEA yang dimaksud mengenai kemungkinan bahan nuklir yang tidak dideklarasikan dan kegiatan terkait nuklir.

Resolusi yang diajukan Prancis, Jerman dan Inggris disahkan dengan tujuh abstain. China dan Rusia adalah satu-satunya dua negara yang menentang resolusi yang menyerukan kerja sama dari Iran.

Iran menolak resolusi tersebut. Iran mengatakan akan sepenuhnya mengambil bagian dalam inspeksi. Serta, kewajiban perlindungan melalui Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).

Penolakan Iran Atas Resolusi

Dilansir dari Teheran Times (19 Juni 2020),Duta Besar Iran untuk IAEA Kazem Gharibabadi mengatakan bahwa Iran sangat menyesalkan langkah E3 (Perancis, Jerman dan Inggris). Iran menganggap bahwa resolusi tidak ada hubungannya dengan fakta teknis di lapangan tetapi merupakan hasil dari bias, non-profesional dan agenda politik.

Dilansir dari Bloomberg (19 Juni 2020),China sebagai sekutu Iran, menyerahkan surat lima halaman kepada IAEA. Surat tersebut berisi dukungan untuk mendukung Republik Islam. Surat yang diserahkan china tersebut menekankan bahwa dampak dari resolusi baru terhadap Iran dapat menghancurkan seluruh rezim non-proliferasi global.

Tiongkok lebih lanjut menuduh Amerika Serikat “mengintimidasi” Iran. Hubungan China yang tegang dengan negara-negara Barat berkontribusi pada hubungan yang semakin tegang dengan Iran.

Iran telah mengizinkan 33 inspeksi fasilitas nuklirnya, tetapi menolak akses ke dua fasilitas.

Dilansir dari Microsoft News (20 Juni 2020),Duta Besar IAEA Jackie Wolcott mengatakan bahwa pertama kalinya dalam sejarah di mana Negara Anggota IAEA telah menolak akses yang wajib diberikan berdasarkan perjanjian Protokol Tambahan.

Pompeo (19 Juni 2020), menegaskan kembali bahwa Iran secara hukum berkewajiban untuk memberikan akses ke IAEA, dan menjawab setiap dan semua pertanyaan mengenai program nuklir mereka.Jika Iran gagal bekerja sama, masyarakat internasional harus siap untuk mengambil tindakan lebih lanjut.

Referensi :

  • Teheran Times
  • Bloomberg
  • Deutsche Welle
  • Microsoft News
Andrea
Seorang penulis kesehatan mental dan hubungan manusia, penulis berita nasional dan internasional
https://pojokjakarta.com

Leave a Reply

Top