You are here

Jepang Naikkan Anggaran Pertahanan: Respons Terhadap Ancaman Regional

Jepang Naikkan Anggaran Pertahanan Respons Terhadap Ancaman Regional
Bagikan Artikel Ini

Jepang menyetujui anggaran pertahanan tahun fiskal 2025 mencapai 8,7 triliun yen atau setara Rp893,6 triliun, menandai peningkatan yang signifikan sebesar 9,4 persen dari tahun sebelumnya. Ini merupakan kenaikan anggaran militer yang ke-13 kali berturut-turut, mencerminkan komitmen Tokyo untuk memperkuat kapabilitas pertahanannya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Asia-Pasifik.

Keputusan ini diambil dalam rapat kabinet yang digelar pada November 2025, sebagai respons terhadap meningkatnya tensi keamanan di kawasan Asia-Pasifik, khususnya terkait hubungan dengan China. Anggaran ini juga mencakup tambahan belanja militer sebesar 847,2 miliar yen atau sekitar 5,4 miliar dolar AS.

Fokus Pengembangan Kemampuan Serangan Balik

Sebagian besar anggaran akan dialokasikan untuk mengembangkan kemampuan serangan balik (counterstrike capability) sebagai bentuk pertahanan diri. Tokyo akan memulai penelitian untuk mengembangkan peralatan yang dapat meluncurkan rudal jarak jauh vertikal dari kapal selam.

Dalam rancangan anggaran tersebut, 16,8 miliar yen dialokasikan untuk pengenalan rudal yang diluncurkan dari kapal, yang merupakan versi ditingkatkan dari rudal berpemandu Tipe 12 dengan jangkauan serangan yang lebih luas. Selain itu, sebesar 283,2 miliar yen dianggarkan untuk membangun jaringan konstelasi satelit yang akan berfungsi sebagai sistem pengumpulan informasi untuk mengidentifikasi target serangan.

Target Belanja Pertahanan 2 Persen dari PDB

Jepang berkomitmen untuk menggandakan pengeluaran pertahanannya ke standar NATO sebesar 2% dari PDB pada tahun 2027. Langkah ini merupakan lompatan besar bagi negara yang secara konstitusional menganut paham pasifisme pascaperang, dengan aturan tradisional yang membatasi belanja pertahanan hanya sekitar 1 persen dari PDB.

Komitmen ini menunjukkan perubahan paradigma yang signifikan dalam kebijakan pertahanan Jepang. Dengan target tersebut, Jepang akan menjadi salah satu negara dengan pengeluaran pertahanan terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat dan China.

Latar Belakang Peningkatan Anggaran

Kementerian Pertahanan Jepang menyatakan bahwa negara menghadapi lingkungan keamanan yang paling berat dan kompleks sejak Perang Dunia II. Beberapa faktor utama yang mendorong peningkatan anggaran pertahanan antara lain:

Ancaman dari China: Meningkatnya kehadiran militer China di kawasan, termasuk aktivitas di wilayah sengketa dan sekitar Taiwan, menjadi perhatian utama Tokyo.

Program Rudal Korea Utara: Pengembangan dan uji coba rudal balistik oleh Pyongyang yang berulang kali melewati atau jatuh di dekat perairan Jepang menimbulkan ancaman langsung terhadap keamanan nasional.

Pelajaran dari Konflik Ukraina: Invasi Rusia ke Ukraina memberikan pelajaran penting tentang pentingnya kesiapan pertahanan dan pencegahan konflik.

Pengadaan Alutsista Modern

Anggaran 2025 juga mencakup rencana pembangunan tiga kapal perusak kompak multiguna kelas Mogami yang diperlengkapi dengan rudal jangka panjang, peralatan anti-kapal selam yang diperkuat, dan kemampuan siluman tinggi. Kapal-kapal ini memerlukan awak hanya 90 orang, kurang dari setengah kebutuhan awak saat ini berkat otomasi dan desain hemat tenaga kerja.

Jepang juga berencana untuk mengakuisisi rudal Tomahawk buatan Amerika Serikat dan mengembangkan jet tempur generasi berikutnya bernama Tempest bersama Italia dan Inggris, yang ditargetkan akan beroperasi pada tahun 2035.

Implikasi Strategis Regional

Peningkatan anggaran pertahanan Jepang memiliki implikasi luas bagi stabilitas kawasan Asia-Pasifik. Di satu sisi, langkah ini memperkuat aliansi keamanan Jepang-Amerika Serikat dan meningkatkan kapabilitas deterrence terhadap potensi agresi di kawasan. Di sisi lain, hal ini dapat memicu kekhawatiran negara-negara tetangga dan berpotensi memicu perlombaan senjata di kawasan.

Meskipun demikian, Perdana Menteri Shigeru Ishiba menegaskan bahwa penguatan kemampuan pertahanan merupakan prioritas yang sedang dikerjakan secara aktif untuk menjaga keamanan nasional. Jepang tetap berkomitmen pada konstitusi pasifismenya sambil beradaptasi dengan realitas keamanan kontemporer yang semakin kompleks dan penuh tantangan.

Leave a Reply

Top