Biofuel selama beberapa tahun terakhir disebut sebagai “pahlawan baru energi ramah lingkungan.” Banyak negara menggunakannya untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Namun semakin banyak pakar energi dan peneliti menegaskan, biofuel hanya bersifat sementara dan tidak cukup menjadi solusi jangka panjang.
Kenapa demikian? Berikut penjelasan yang mudah dipahami.
Apa Itu Biofuel dan Mengapa Disebut Energi Hijau?
Biofuel merupakan bahan bakar yang dibuat dari tanaman, limbah organik, hingga minyak nabati. Produk biofuel yang populer antara lain biodiesel dan bioethanol.
Secara teori, biofuel dianggap mengurangi emisi karbon, karena sumbernya dapat diperbarui. Namun dalam praktik lapangan, muncul berbagai persoalan baru.
Tantangan Lingkungan: Lahan Sawit, Deforestasi, Emisi Produksi
Salah satu kritik terbesar, biofuel membutuhkan lahan besar.
Jika perluasan lahan dilakukan dengan deforestasi atau pembakaran hutan, maka emisi justru meningkat dan merusak biodiversitas.
Produksi biofuel juga membutuhkan air, pupuk, dan energi tinggi, sehingga tidak selalu berkontribusi pada penurunan emisi secara signifikan.
Biofuel Mengancam Ketahanan Pangan?
Beberapa negara mulai beralih dari komoditas pangan menjadi komoditas energi. Ini memicu:
Harga pangan naik
Kompetisi antara tanaman untuk makan vs untuk bahan bakar
Tekanan terhadap petani kecil
Karena itu, banyak peneliti menilai biofuel hanya solusi menunda krisis, bukan memperbaiki.
Dunia Menuju Energi Listrik dan Hidrogen
Para ekonom energi menyebut masa depan lebih condong ke energi listrik, baterai, surya, angin, hingga hidrogen hijau.
Energi ini:
Tidak membutuhkan deforestasi
Emisinya rendah atau nol
Lebih efisien digunakan
Beberapa negara sudah menargetkan Net Zero Emission 2050, sehingga biofuel hanya menjadi “jembatan transisi.”
Kesimpulan: Biofuel Penting, Tapi Bukan Tujuan Akhir
Biofuel tetap berguna saat dunia bergerak meninggalkan fosil. Namun:
produksinya belum sepenuhnya bersih
berpotensi memicu masalah pangan
masih kalah efisien dibanding energi baru
Karena itu, biofuel hanya bersifat sementara hingga dunia menemukan sistem energi rendah karbon yang stabil dan murah.
Transisi energi bukan lagi pilihan—melainkan kebutuhan.