You are here
Home > Berita Nasional >

Ngotot Buka Sekolah Tatap Muka, Apa Alasan Kemendikbud?

Ngotot Buka Sekolah Tatap Muka Apa Alasan Kemendikbud
Bagikan Artikel Ini

Pojokjakarta.com – Kekhawatiran berbagai pihak terkait pelaksanaan pembelajaran online, membuat Kemendikbud ngotot buka sekolah tatap muka. Nadiem Makarim malah menyebutkan jika vaksin bukanlah syarat utama.

Meskipun saat ini masih menuai pro dan kontra yang dilematis, Kemendikbud benar-benar ngotot buka sekolah tatap muka di berbagai wilayah. Keputusan tersebut tentu sudah dianalisis dan dibuat strateginya secara benar dan efektif.

“Ini sudah terlalu lama, kondisi psikologis dan cognitive learning anak-anak sudah terlalu kritis. Kita harus secepat mungkin membuka dengan protokol kesehatan yang ketat,” Itulah ungkapan Nadiem Makarim selaku Mendikbud Ristek.

Ngototnya Kemendikbud muncul sebab kekhawatiran terhadap nasib generasi muda yang terlalu lama tidak mendapatkan pembelajaran secara intensif. Terlalu lama belajar online membuat siswa cenderung merasa bosan dan akhirnya tidak bisa belajar dengan maksimal.

Selalu Terhenti Sebab Perkembangan Covid-19

Sebelumnya, Kemendikbud sudah memberlakukan pembelajaran tatap muka dengan persentase maksimal 30% siswa didalam kelas dengan protokol kesehatan yang ketat. Namun, pelaksanaan tersebut selalu terhenti sebab perkembangan Covid-19 di Indonesia.

Mulai dari banyak siswa yang malah positif Covid-19, lahirnya varian Delta, dan berbagai potensi bahaya lain yang disebabkan oleh Covid-19. Akhirnya, dengan meninjau kebijakan dari pemerintah, sekolah kembali di-onlinekan.

Meskipun Nadiem ngoto buka sekolah tatap muka, instruksi presiden sangat jelas. “Jadi, semua pelajar di seluruh Tanah air kalau sudah divaksin, silahkan dilakukan pembelajaran tatap muka.”

Artinya,rencana dari Kemendikbud akhirnya terhenti kembali. Pertimbangan kesehatan dan keselamatan menjadi prioritas, termasuk dalam dunia pendidikan yang memiliki potensi besar menjadi tempat penularan Covid-19.

Instruksi presiden tampaknya tidak menyurutkan Nadiem. Ia mempersilahkan siswa untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Asalkan menerapkan protokol kesehatan dengan ketat dan harus ada di wilayah level PPKM 1, 2, dan 3. Bagi Nadiem, vaksinasi adalah bukan syarat utama yang harus dilakukan untuk memulai pembelajaran tatap muka.

Nadiem Dikritik dengan Keras

Koordinator Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mengkritik keras langkah yang hendak dipilih oleh Nadiem tersebut. Ia mengatakan jika keputusan Nadiem bisa membahayakan nyawa anak-anak.

Sehingga, sekolah dan pihak guru lebih baik untuk mengikuti perintah dan instruksi dari presiden. Jangan sampai melanggar aturan protokol PPKM Level 2-4 karena bisa menyebabkan penularan Covid-19 dan akhirnya bisa membahayakan kesehatan dan keselamatan.

Meskipun dikritik dengan keras, Nadiem tetap ngotot buka sekolah tatap muka. Ia mengatakan jika kapasitas peserta didik hanya dibatasi pada angka 50%. Separuh belajar di sekolah dan separuh belajar di rumah.

Dengan sistem bergantian dan fleksibel, sekolah tatap muka tetap bisa dilaksanakan. Selain itu, orang tua juga bebas memilih. Apakah membolehkan anaknya sekolah tatap muka atau tidak. Namun, orang tua harus ikut bertanggung jawab atas pilihan tersebut.

Leave a Reply

Top