You are here

Nilai Dollar Melonjak Tajam di Tengah Tingginya Kasus COVID-19 di Amerika

Nilai Dollar Melonjak
Bagikan Artikel Ini

Di tengah situasi pandemi saat ini, kondisi perekonomian terus menjadi sorotan. Tentunya grafik naik turun angka penularan COVID-19 ikut berpengaruh langsung terhadap perekonomian dunia. Salah satu yang menjadi sorotan adalah nilai dollar melonjak tajam meskipun angka kasus COVID-19 di Amerika meningkat. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Kurs Meningkat Tajam

Selama ini nilai dollar selalu menjadi acuan bagi kondisi perekonomian dunia. Banyak mata mengacu pada naik turunnya nilai dollar sehingga peningkatan tajam sudah pasti akan langsung menjadi perbincangan. Seperti pada hari Selasa lalu, indeks dollar AS di perdagangan meningkat dari angka 0,54% hingga 93,132%.

Nilai peningkatan ini mencapai angka tertinggi terhitung sejak tanggal 30 Maret. Indeks perhitungan ini pun menjadi tolak ukur dari kekuatan dolar Amerika. Melonjaknya nilai dollar ini tentu menjadi sebuah indikasi yang perlu diantisipasi oleh berbagai negara. Padahal, saat ini situasi di Amerika tampaknya tidak mendukung terjadinya kenaikan nilai dollar.

Kondisi pandemi di Amerika Serikat saat ini tidak bisa dibilang baik. Terhitung ada lonjakan kasus positif Corona yang mencapai angka 1.000%. Dalam jangka waktu satu bulan terakhir, nilai lonjakan yang fantastis ini memang cukup mengkhawatirkan. Namun justru kondisi ini menggiring nilai dollar melonjak dan semakin kokoh.

Penyebab Lonjakan

Tentunya kondisi ini bukan terjadi tanpa alasan. Saat terjadi lonjakan kasus COVID-19, maka pelaku pasar pun cenderung mengambil langkah untuk keluar dari berbagai jenis aset yang berisiko. Sebagian besar pelaku pasar akan memilih mengamankan investasinya dan berpindah menuju aset aman. Dollar Amerika Serikat pun dianggap menjadi pilihan terbaik.

Kondisi ini sebenarnya tidak pertama kali terjadi karena sudah pernah tercatat di masa awal pandemi. Pada bulan Maret tahun lalu, para investor melakukan penjualan besar-besaran untuk semua jenis aset berisiko yang dimiliki. Pilihan aset aman yang bisa diambil adalah emas dan dollar. Emas saat itu ternyata tak dianggap cukup aman hingga nilai dollar pun terus meningkat.

Di awal pandemi merebak tahun lalu, indeks dollar Amerika sempat mencapai angka 102. Indeks ini disebut tertinggi sejak bulan Januari 2017 silam. Kondisi ini kemudian menyebabkan munculnya istilah cash is the king dan cash yang disebutkan di sini ialah dollar AS.

Kasus COVID-19 Amerika

Sebenarnya kondisi pandemi di Amerika Serikat menjadi acuan bagi banyak negara. Seperti diketahui bahwa status perekonomian di Amerika secara otomatis akan berpengaruh pada kondisi ekonomi di negara-negara lainnya. Jika di negara ini terjadi lonjakan kasus yang tajam maka dikhawatirkan akan memperburuk kondisi ekonomi di sana maupun negara lain.

Hingga detik ini Amerika Serikat juga terus mengebut program vaksinasi. Namun, fakta yang menunjukkan bahwa Amerika adalah salah satu negara terdepan dalam program vaksinasi tidak menjadi sebuah jaminan. Hal ini dibuktikan dengan adanya catatan lonjakan kasus COVID-19 yang terjadi di sana. Bahkan menurut data yang ada, lonjakan kasus tersebut datang dari virus Corona varian delta.

Kondisi lonjakan kasus COVID-19 di Amerika Serikat ini ternyata masih menimbulkan keraguan di pihak bank sentral AS The Fed. Pihak The Fed bahkan belum mengetahui secara pasti apakah lonjakan kasus ini akan memberi dampak pada perekonomian. Diprediksikan The Fed akan mengambil langkah tapering dalam kondisi ini.

Tapering merupakan pengurangan nilai program untuk membeli aset atau quantitative easing. Langkah ini dilakukan untuk menjaga performa dari nilai dollar AS. Sehubungan dengan nilai dollar melonjak ini, The Fed diperkirakan akan merilis langkah tapering mereka pada bulan September mendatang.

 

 

lilik sumarsih
Petualang,photographer dan penulis artikel tentang traveling dan alam liar

Leave a Reply

Top