You are here
Home > Berita Nasional >

Kritik BEM Unnes: Jokowi, Ma’ruf, Puan, King and Queen of . . . 

Kritik BEM Unnes Jokowi Maruf Puan King dan Queen of
Bagikan Artikel Ini

Pojokjakarta.com – Belum usai kontroversi yang dikeluarkan oleh BEM UI terkait meme “Jokowi; King of Lips Service”, sekarang BEM Unnes juga mengeluarkan Meme yang menembak Ma’ruf Amin dan Puan Maharani.

Kritik ini tidak kalah pedasnya dengan yang dilakukan oleh BEM UI sebelumnya. BEM Unnes menyebut jika Ma’ruf Amin adalah King of Silent. Sedangkan Puan Maharani sebagai DPR-RI adalah Queen of Ghosting.

Meme tersebut tentunya tidak dibuat secara sembarangan. Mereka melihat sepak terjang para pemimpin tersebut dan akhirnya menyimpulkan dalam bentuk seperti itu. Tidak heran, meme semacam ini kembali viral.

Akun Instagram BEM Unnes Mendadak Hilang

Setelah melakukan proses kritik yang tajam tersebut, akun instagram BEM Unnes mendadak jadi hilang. Hal tersebut bisa jadi dikarenakan banyak pihak yang ingin menghentikan serangan kritikan tersebut.

Artinya, ada pihak cyber yang ingin menghentikan kritikan bertubi-tubi kepada para pemimpin bangsa yang sekarang ini. Setelah BEM UI, dilanjut BEM UGM, kemudian Aliansi Mahasiswa Makassar, dan sekarang BEM Unnes pun menyusul.

Tampaknya, mahasiswa sedang sangat haus keadilan dan sosok pemimpin yang bijak ketika menentukan sikap. Mereka menganggap jika pemerintah tidak benar-benar maksimal dalam menjalankan tugas yang sudah diamanatkan kepada mereka di periode ini.

Meskipun sempat hilang, kini akun instagram BEM Unnes kembali lagi dengan meme yang bertengger seperti sedia kala. Benar-benar menunjukkan jika para pemimpin bangsa saat ini sedang tidak benar-benar bekerja.

Ma’ruf Amin; King of Silent

BEM Unnes menganggap jika Ma’ruf Amin sebagai wakil presiden kurang memiliki kinerja untuk membekingi Jokowi sebagai presiden. Keterlibatan Ma’ruf Amin sebagai wakil presiden kurang dirasakan oleh masyarakat, terlebih lagi mahasiswa.

Padahal, di masa Pandemi Covid-19 ini, harusnya wakil presiden memiliki peran besar untuk menstabilkan kondisi negara dengan tugas-tugas yang hampir sama dengan presiden. Namun sekarang Ma’ruf Amin seperti senyap.

Maka dari itulah, BEM Unnes akhirnya melancarkan serangan jika Ma’ruf Amin adalah King of Silent. Artinya, Ma’ruf Amin terlihat diam saja sebagai wakil presiden di periode saat ini.

Mahasiswa benar-benar menilai, tugas seorang wakil presiden sangatlah urgent dalam membantu presiden. Namun, mereka tidak merasakan Ma’ruf Amin melakukan tugas-tugasnya.

Terlebih lagi, jika melihat usai Ma’ruf Amin, mahasiswa mungkin berspekulasi jika umur begitu menentukan untuk seorang wakil presiden. Namun, jika memang umur sudah tidak sesuai, harusnya dahulu tidak mencalonkan diri sebagai wakil presiden.

Puan Maharani; The Queen of Ghosting

Sebagai ketua DPR-RI, Puan Maharani dinilai oleh mahasiswa tidak pro terhadap rakyat. Padahal, Puan adalah pimpinan para wakil rakyat. Mana bisa ia tidak membeli kepentingan rakyat.

Apalagi, di kontestasi politik yang semakin hari semakin memanas, banyak isu yang mengatakan jika Puan akan mencalonkan diri sebagai calon presiden 2024. Hal tersebut semakin menutup posisi dirinya sebagai ketua DPR-RI.

Posisinya sebagai pimpinan wakil rakyat tidak begitu terasa, sehingga BEM Unnes mengatakan jika Puan adalah The Queen of Ghosting. Artinya, Puan adalah ratunya orang yang menghilang. Hilang ketika rakyat membutuhkan.

Terlebih lagi, banyak sekali aspirasi-aspirasi yang perlu diterima dan ditanggapi oleh DPR-RI saat ini. JIka mereka sibuk sendiri dengan kontestasi politik dan kehidupan pribadi, maka fungsi DPR tentu saja sudah dinodai.

Maka dari itu, tidak heran jika BEM Unnes mengkritik dengan sangat tajam jika Puan Maharani adalah Ratunya orang yang menghilang.

Rektorat; Jangan Sampai Berhadapan dengan Massa PDIP

Hampir semua elemen pemerintah yang dikritik oleh mahasiswa, berasal dari PDIP, maka tidak heran jika Rektorat mewanti-wanti mahasiswa agar tidak berhadapan dengan massa PDIP.

Massa PDIP tentu saja banyak, relasi luas, dan tentunya tidak bisa sembarangan dilawan. Banyak massa yang militan dan benar-benar mendukung mati-matian pejabat yang telah memegang tanduk kekuasaan.

Peringatan ini tentu saja harus dipahami oleh mahasiswa sebagai bentuk tantangan. Sebab dalam darah mahasiswa, terdapat gelora jiwa yang tidak akan lenyap meskipun ada rintangan besar dalam menyalurkan pendapat dan aspirasi.

Negara ini adalah negara hukum dan demokrasi. Sehingga kritik apapun bisa disampaikan. Tidak ada yang melarang, apalagi bagi seorang mahasiswa yang memiliki fungsi sebagai agent of change dan guardian of the value.

Pemerintah tidak Perlu Baper

Pada dasarnya, pemerintah tidak perlu tersinggung dengan meme-meme yang dibuat oleh para mahasiswa. Pemerintah sebagai pengemban amanat bangsa, harusnya lebih fokus untuk memperbaiki diri dan menerima masukan-masukan dari berbagai pihak.

Jika bapak Jokowi merasa apa yang dikatakan mahasiswa benar, ya bisa direfleksikan ke depan. Sehingga kesalahan-kesalahan yang lalu tidak terjadi lagi. Begitu juga dengan Bapak Ma’ruf Amin dan Ibu Puan Maharani.

Bagaimanapun, negara Indonesia harus demokratis seperti amanat founding fathers. Tidak perlu membesar-besarkan kebaperan, apalagi sampai menyuruh buzzer untuk melenyapkan akun BEM Unnes.

Hal ini termasuk check and balance, sehingga pemerintah tidak begitu otoriter dalam memberikan kebijakan tertentu. Apalagi sekarang masih dalam situasi dan kondisi yang tidak baik-baik saja dan Covid-19.

Memang berat, sebagai pemerintah harus menerima semua ini. Sebab sudah menjadi tanggung jawab mereka untuk menerima dan menelaah kritik serta saran dari berbagai pihak dan memutuskan dengan rasional. Sehingga tercipta keputusan yang benar dan bermanfaat untuk masyarakat.

Semoga kritik yang diberikan oleh BEM Unnes, Bem UI, dan BEM lainnya menjadi satu langkah perubahan. Pihak manapun juga boleh saling mengkritik. Sudah menjadi konsekuensi negara demokratis. Namun tetap pastikan memiliki etika ketika melontarkan kritik dan sesuai fakta tentunya.

 

Leave a Reply

Top