You are here
Home > Berita Nasional >

Heboh Polemik Vaksin Nusantara yang Makin Ruwet, TNI Ikut Kecipratan

Polemik Vaksin Nusantara
Bagikan Artikel Ini

Riuh pembicaraan di masyarakat maupun elite masih seputar polemik vaksin nusantara. Mulai dari keamanannya, asal usul, juga hasil uji dan penggunaannya. Beberapa waktu lalu ramai diberitakan bahwa Aburizal Bakrie telah menerima suntikan pertama. DPR pun seiya sekata setuju untuk menggunakan vaksinasi ini.

Mirip bola panas liar polemik vaksin nusantara ini semakin kusut. Mulai dari adanya tudingan cacat prosedur pada uji klinis, isu nasionalisme, tuduhan dramatisasi terhadap BPOM oleh IDI, dan masih banyak lagi berita-berita soal vaksinasi yang satu ini. Bagaimana sebenarnya masalah pelik ini dimulai?

Asal Mula Pembuatan Vaksin Nusantara

Adalah mantan Menkes Terawan Agus Putranto bersama timnya yang terdiri dari UGM, RS Kariadi, dan juga perusahaan farmasi PT Rama Emerald Multi Sukses. Tak ketinggalan juga menggandeng UNDIP dan AIVITA Biomedical dalam pengembangan vaksin nusantara ini.

Pertama kali gagasan muncul untuk vaksin nusantara adalah dari dr. Terawan yang memang dikenal dengan metode-metode nyentriknya. Pada vaksinasi ini, ia memilih menggunakan sel dendritik alih-alih menginfeksi virus non aktif ke tubuh manusia seperti yang umum dilakukan pada proses imunisasi.

Tim pengembangan mengklaim bahwa metode pendekatan dengan sel dendritik ini adalah yang pertama di dunia. Setidaknya, ada sekitar lebih dari 200 kelompok peneliti vaksin namun tidak ada yang serupa dengan pembuatan vaksin nusantara. Tetapi, metode inilah yang justru menjadi salah satu pemicu perdebatan di berbagai kalangan.

Menurut dr. Terawan, penggunaan sel dendritik yang merupakan bagian pertahanan dari darah putih adalah yang paling aman. Alasannya karena sifatnya individual sehingga cocok digunakan oleh siapa saja bahkan orang dengan comorbid dan autoimun.

Sebelumnya terapi sel dendritik ini sudah pernah dikembangkan dr. Terawan untuk penderita kanker. Ia bahkan menulis jurnal internasional terkait hal ini. Namun untuk vaksinasi covid, memang belum ada publikasi karena metode ini tergolong baru dan masih dalam tahap uji klinis.

Pemicu Polemik Vaksin Nusantara

Hampir sebulan terakhir terus bergulir pemberitaan mengenai vaksinasi. Sempat menuai pujian dan harapan tinggi dari masyarakat karena digadang-gadang sebagai buatan anak bangsa, belakangan justru pamor vaksin ini memudar. Tak lain karena perdebatan dan pertentangan dari berbagai pihak.

Konflik diawali dari BPOM yang tak memberikan rekomendasi uji klinis tahap II untuk vaksin nusantara ini. Alasannya adalah karena ada kaidah-kaidah klinis yang tidak terpenuhi dalam tahapan pengembangan. Misalnya, komite etik yang tidak  berasal dari tempat dimana vaksin dikembangkan.

Seperti diberitakan bahwa vaksin nusantara dilakukan pengembangannya di RSUP dr. Kariadi Semarang. Namun nyatanya, tim komite etik (KE) justru berasal dari RSPAD Gatot Soebroto di Jakarta. Padahal, KE bertanggungjawab terhadap keseluruhan keselamatan subjek penelitian dan juga pelaksanaannya.

Uji klinis tahap 1 sendiri telah dilaksanakan pada tanggal 12 Oktober 2020 lalu terhadap 30 responden. Hasil telah dikirimkan kepada BPOM untuk diserahkan kepada Kementerian Kesehatan. Tetapi belakangan muncul dugaan bahwa apa yang dipaparkan pada rapat kerja oleh tim uji klinis berbeda dengan hasil yang diberikan sebelumnya.

Hal-hal Inilah yang membuat BPOM belum juga mengeluarkan ijin uji klinis tahap II. Polemik vaksin nusantara jadi semakin liar ketika DPR menuding adanya permainan politik buntut ditahannya rekomendasi. Tuduhan ini semakin kuat karena munculnya dukungan sejumlah tokoh atas langkah BPOM tidak meloloskan uji klinis kedua.

Tidak mau ketinggalan, epidemiolog Dicky Budiman juga turut memberikan pendapatnya pada vaksin nusantara ini. Menurutnya, ada pelanggaran etika dari tim peneliti dan hal ini berpotensi membahayakan masyarakat. Ditambahkannya lagi bahwa yang menjadi acuan dalam pelaksanaan uji klinis adalah pedoman dari BPOM.

Tim peneliti vaksin nusantara dikabarkan tetap melenggang melaksanakan uji klinis II tanpa menunggu turunnya izin uji. Walaupun akhirnya satu persatu anggota tim mundur, polemik ini masih akan terus berlangsung. UGM dikabarkan hengkang karena menurut mereka memang belum ada keterlibatan secara langsung. RS Kariadi pun menyatakan berhenti sampai ada rekomendasi dari BPOM.

TNI Terlibat Pusaran Konflik Vaksin Nusantara

Yang menarik justru datang dari pihak TNI karena jadi terseret dalam perdebatan ini. Sebab musabab Tentara Nasional Indonesia jadi ikut-ikutan kena getahnya karena sejumlah tokoh diberitakan sudah menerima vaksinasi nusantara di RSPAD Gatot Subroto.

Tokoh yang menerima vaksin antara lain para purnawirawan dan beberapa elit politik. Inilah yang membuat pertanyaan menyeruak di publik serta ruang-ruang diskusi. Mengapa sejumlah tokoh dan TNI getol memperjuangkan gol nya proyek vaksin nusantara ini.

Pihak TNI sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait peristiwa ini. Namun, beberapa narasumber menyatakan akan ada press conference khusus besok untuk kejelasan masalah vaksinasi. Direncanakan konferensi pers ini bertempat di Mabes TNI pada hari Senin, 19 April 2021 pada pukul 8.30.

Sejumlah perwira tinggi TNI akan hadir dalam acara itu. Sebelumnya memang sudah terjadi injeksi vaksin nusantara terhadap Ketua DPP Golkar, Aburizal Bakrie di RSPAD Gatot Soebroto. Ical, sapaan akrabnya, mengaku sangat mendukung pengembangan vaksin ini. Alasannya adalah karena dirinya pernah mendapatkan terapi serupa untuk perbaikan sistem sel di RSPAD.

Tokoh lain yang juga mendukung pengembangan vaksin nusantara adalah Dahlan Iskan, Gatot Nurmantyo, Sufmi Dasco Ahmad selaku wakil ketua DPR, dan beberapa anggota yang lain. Sedangkan dukungan dari TNI sendiri sampai saat ini belum menyeruak. Namun adanya injeksi dan tim komite etik yang berasal dari RSPAD mengindikasikan adanya support.

Menkes dan Satgas Covid 19 Buka Suara

Budi Gunadi Sadikin selaku Menteri Kesehatan akhirnya mengeluarkan pendapatnya bahwa pada dasarnya pihaknya terbuka untuk semua penelitian vaksin asalkan sesuai dengan ketentuan, memenuhi kaidah ilmiah, dan protokol baku. Ia juga menambahkan agar tidak ada tahapan pengembangan yang dipotong.

Pihaknya juga menghimbau agar semua perdebatan dilakukan di ranah ilmiah dan bukan di media sosial karena berpotensi menimbulkan gejolak dan keresahan masyarakat. Politisi diminta untuk tidak ikut campur memperdebatkan vaksin ini karena merupakan sesuatu yang sangat ilmiah.

Suara lain datang dari Satgas COVID 19 melalui Juru Bicara Wiku Adisasmito. Pihaknya mengatakan kalau vaksin nusantara sama sekali bukan produk dalam negeri tapi justru buatan Amerika. Ditegaskan olehnya bahwa vaksin ini dikembangkan di AS tapi diujicoba ke Indonesia. Lalu, kapan polemik vaksin ini akan menemui titik terang? Publik masih harus bersabar.

Sumber:

https://tirto.id/satgas-tegaskan-vaksin-nusantara-terawan-bukan-buatan-indonesia-gcxm

https://nasional.kompas.com/read/2021/04/17/16310061/polemik-vaksin-nusantara-lebih-dari-100-tokoh-nyatakan-dukung-bpom

https://www.merdeka.com/peristiwa/membedah-vaksin-nusantara-hot-issue.html

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210418173852-20-631412/tni-akan-buka-suara-soal-vaksin-nusantara

https://kabar24.bisnis.com/read/20210418/15/1382758/menkes-akhirnya-angkat-bicara-soal-polemik-vaksin-nusantara

 

lilik sumarsih
Petualang,photographer dan penulis artikel tentang traveling dan alam liar

Leave a Reply

Top