Takut Bicara Politik, Hasil Survey SMRC yang Perlu Penanganan SeriusPolitik by adriana - April 9, 20210 Bagikan Artikel IniTakut bicara politik saat ini menjadi isu yang cukup hangat di kalangan masyarakat. Berdasarkan temuan dari lembaga survei SMRC merilis hasil terkait isu tersebut sebanyak 39%. Masyarakat semakin takut untuk berbicara masalah politik serta penangkapan semena-mena aparat.Survei ini dilakukan terhadap 1.064 responden melalui wawancara tatap muka yang dilakukan pada tanggal 28 Februari hingga 8 Maret 2021 lalu.Dengan margin of error kurang lebih sejumlah 3,07 persen serta tingkat kepercayaan sebesar 95%. Selanjutnya, dilakukan quality control dengan mendatangi kembali 20% responden yang telah melalui proses wawancara.Latar belakang dari survei ini adalah adanya peristiwa bentrok yang mengakibatkan 6 laskar FPI tewas. Dengan adanya kejadian ini, pemerintah pun membubarkan FPI. Bahkan, melarang berbagai jenis kegiatan ormas tersebut, tepatnya pada akhir 2020 lalu.Masyarakat Indonesia Takut Bicara PolitikDari angka 39% dari hasil survei SMRC yang resmi rilis pada Selasa 6 April 2021 tersebut, 32,1% mengaku sering takut bicara mengenai politik.Selanjutnya 7,1% merasa selalu takut, sedangkan 33,3% menyatakan jarang mengaku takut bicara mengenai politik, 9,2% tidak pernah takut, serta 7,2% tidak memberikan jawaban.Hal ini jika dibandingkan dengan survei SMRC pada Juli 2009, persentase masyarakat yang menyatakan takut bicara tentang politik naik dari angka 14%.Akan tetapi, jika kita bandingkan dengan survei pada Mei 2019 lalu, persentase tersebut menurun dari angka 43%. Secara demografi, masyarakat yang mengalami ketakutan untuk berbicara tentang politik sebagian besar adalah dari kalangan perempuan. Hal ini memiliki jumlah 41%.Selanjutnya, kalangan tersebut lebih banyak berasal dari warga perkotaan, terdiri dari 44%. Masyarakat usia kurang dari 25 tahun sejumlah 54% serta warga lulusan SMA sederajat sebesar 51%.Latar Belakang Masyarakat Takut Bicara PolitikAdanya peningkatan mengenai pernyataan masyarakat yang selalu atau sering takut bicara politik ini bukan tanpa alasan. Masyarakat takut bicara politik karena adanya penangkapan semena-mena aparat hukum serta takut untuk ikut organisasi.Hal ini berarti banyak warga yang menilai, saat ini masyarakat takut untuk ikut organisasi. Semenjak itu, sebanyak 56,8% para responden mengatakan tidak pernah takut untuk melaksanakan ajaran agama.Akan tetapi masih terdapat 11% yang menyatakan selalu atau sering takut melaksanakan ajaran agama. Bahkan menurut Manajer SMRC, Saidiman Ahmad menyatakan bahwa penilaian masyarakat yang selalu takut untuk berbicara politik, penangkapan semena-mena oleh aparat hukum, takut berorganisasi serta menjalankan ajaran agama.Hal ini banyak terjadi ada warga yang menilai kondisi ekonomi, politik, keamanan serta penegakan hukum buruk atau sangat buruk.Selain itu, mengenai penilaian masyarakat yang selalu atau sering takut berbicara politik, berorganisasi menjalankan ajaran agama. Kemudian, juga atas penangkapan semena-mena aparat hukum lebih banyak pada warga perkotaan pada usia 25 tahun kebawah. Juga warga berpendidikan tinggi, memiliki penghasilan lebih besar, etnis Minang serta Sunda, dan beragama Islam.Respon Hasil Survei SMRCDengan hadirnya survei yang dikeluarkan oleh SMRC kemarin, Anggota Komisi Agama DPR RI Bukhori Yusuf memberikan tanggapan yang cukup serius. Bukhori menyebutkan, meskipun secara statistik masih berada di bawah 50%. Akan tetapi, temuan tersebut merupakan persoalan yang cukup krusial untuk menjadi perhatian serius pemerintah dalam kewajibannya untuk menjalankan amanat UUD 1945.Hadirnya survei memberikan gambaran bahwa pemerintah gagal dalam menarasikan agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Hal ini berarti, pemerintah selama ini menempatkan masalah agama sebagai isu yang perlu mereka sikapi secara lebih cermat juga bijaksana di tengah keadaan keberagaman masyarakat yang heterogen. Selain itu, adanya isu yang masyarakat takut bicara politik merupakan alarm yang mengindikasikan betapa rentannya kondisi praktik beragama di Indonesia.