You are here
Home > Berita Nasional >

Mogok Massal Sopir Angkot Bekasi: Protes Kehadiran Bus Trans Beken

Mogok Massal Sopir Angkot Bekasi Protes Kehadiran Bus Trans Beken
Bagikan Artikel Ini

Mogok massal sopir angkot Bekasi menghiasi peluncuran Bus Trans Beken pada Selasa, 10 Februari 2026. Ratusan pengemudi angkutan kota turun ke Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan. Mereka menolak operasional transportasi massal baru yang dinilai mengancam mata pencaharian. Lima trayek angkot ikut mogok sementara waktu akibat aksi protes tersebut.

Aksi mogok massal sopir angkot Bekasi melibatkan sekitar 300 pengemudi dari berbagai trayek. Mereka memadati ruas jalan sejak pukul 08.00 WIB. Aksi berlangsung bersamaan dengan peresmian Trans Beken di Stadion Patriot Candrabhaga. Demonstrasi ini menjadi penanda bahwa modernisasi transportasi publik tidak hanya soal armada baru.

Latar Belakang Mogok Massal

Pemerintah Kota Bekasi meluncurkan layanan Bus Trans Beken dengan tarif gratis selama masa uji coba. Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menjelaskan program ini bertujuan memperkenalkan transportasi modern. Setelah masa uji coba berakhir, tarif ditetapkan sebesar Rp4.500 dengan sistem pembayaran nontunai.

Namun, kehadiran Trans Beken memicu penolakan dari para sopir angkot. Mereka menilai rute bus baru bersinggungan langsung dengan trayek angkot yang sudah ada. Jalur yang disengketakan mencakup Terminal Bekasi, Bekasi Timur, Rawapanjang, hingga Harapan Indah. Rute tersebut selama ini menjadi sumber pendapatan utama para pengemudi angkot.

Wakil Ketua Organda Kota Bekasi, Rm Purwadi, menyatakan para pengemudi merasa tidak dilibatkan. Penyebab utama mogok adalah minimnya sosialisasi kepada trayek yang terdampak. Para sopir angkot menilai keputusan ini sepihak dan tidak mempertimbangkan nasib mereka.

Lima Trayek Angkot yang Mogok

Lima trayek angkot terlibat dalam mogok massal sopir angkot Bekasi ini. Angkot K-07 dengan rute Terminal Bekasi-Seroja menghentikan operasional sementara. K-25 rute Rawa Panjang-Stasiun Cakung juga ikut mogok. K-11 rute Bantargebang-Terminal Bekasi turut bergabung dalam aksi protes.
Trayek K-30 rute Taman Harapan Baru-Terminal Bekasi tidak beroperasi selama demonstrasi. K-10 rute Pondok Ungu-Terminal Bekasi juga menghentikan layanan. Aksi mogok ini mengakibatkan arus lalu lintas di Jalan Ahmad Yani tersendat. Penumpang angkot terpaksa mencari alternatif transportasi lain.

Dampak Ekonomi bagi Pengemudi

Para sopir mengaku pendapatan mereka turun drastis sejak Trans Beken beroperasi. Seorang pengemudi bernama Entus menyebutkan penurunan pendapatan mencapai lebih dari 50 persen. Bahkan ada sopir lain yang mengklaim pendapatan anjlok hingga 70 persen.

Gani, sopir angkot nomor 25 yang telah 14 tahun berkecimpung, menyuarakan kegelisahannya. Ia menyatakan bahwa mereka kesulitan mencari setoran harian. Kehadiran bus dengan tarif gratis membuat penumpang beralih dari angkot. Para sopir merasa keberadaan mereka terancam oleh kebijakan pemerintah ini.

Kondisi ini diperparah dengan adanya Bus Kita yang sudah beroperasi sejak 2025. Para pengemudi angkot sebenarnya tidak keberatan dengan transportasi massal baru. Mereka hanya meminta agar penumpang tetap dikenakan biaya, bukan gratis. Persaingan yang adil adalah yang mereka harapkan.

Tuntutan Para Sopir Angkot

Para sopir menyampaikan empat tuntutan utama kepada Pemerintah Kota Bekasi. Pertama, penentuan titik halte harus disepakati bersama antara pengelola bus dan Organda. Kedua, pembatasan jam operasional agar bus tidak beroperasi hingga larut malam.

Ketiga, pembatasan jumlah armada agar tidak terlalu banyak. Keempat, kebijakan tarif gratis harus ditinjau ulang karena berdampak pada berkurangnya penumpang angkot. Para sopir berharap pemerintah membuka ruang dialog untuk mencari solusi bersama.

Respons Pemerintah Kota Bekasi

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menyatakan aksi mogok dipicu minimnya sosialisasi. Ia menilai kekhawatiran sopir angkot muncul karena ketakutan rezeki hilang. Menurut Tri, rute Trans Beken tidak sepenuhnya tumpang tindih dengan trayek angkot.

Tri menjelaskan bahwa kehadiran transportasi massal justru menciptakan konsumen baru. Pemerintah menyediakan beragam pilihan transportasi bagi masyarakat Bekasi. Ia menganalogikan situasi ini seperti persaingan usaha di pasar yang sehat. Setiap moda transportasi memiliki segmen dan keunggulan masing-masing.

Jumlah armada Trans Beken hanya sembilan unit, jauh lebih sedikit dibanding angkot. Pemerintah berharap kedua moda transportasi bisa bersinergi untuk kepentingan masyarakat. Namun, respons ini belum sepenuhnya menjawab kekhawatiran para sopir angkot.

***********

Mogok massal sopir angkot Bekasi menjadi cerminan tantangan modernisasi transportasi publik di Indonesia. Kebijakan pemerintah yang bertujuan baik tidak selalu berjalan mulus di lapangan. Diperlukan dialog terbuka antara pemerintah dan pelaku transportasi tradisional.
Solusi yang mengakomodasi kepentingan semua pihak harus segera ditemukan. Modernisasi tidak boleh meninggalkan mereka yang sudah lebih dulu mengabdi. Para sopir angkot berhak mendapat kejelasan dan perlindungan atas mata pencaharian mereka. Hanya dengan pendekatan inklusif, transformasi transportasi publik dapat berjalan berkelanjutan.

Leave a Reply

Top