You are here
Home > Berita Nasional >

Guru Agus Saputra di Jambi Dikeroyok Gerombolan Siswa, Viral di Media Sosial

Guru Agus Saputra di Jambi Dikeroyok Gerombolan Siswa Viral di Media Sosial
Bagikan Artikel Ini

Kasus guru Agus Saputra di Jambi dikeroyok siswa menjadi sorotan nasional. Video pengeroyokan tersebut viral di berbagai platform media sosial sejak Selasa, 13 Januari 2026. Agus Saputra merupakan guru Bahasa Inggris di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur. Insiden ini memicu perdebatan tentang hubungan guru dan murid di lingkungan pendidikan.

Peristiwa naas ini memperlihatkan permasalahan kompleks dalam dunia pendidikan. Guru yang seharusnya dihormati justru menjadi korban kekerasan fisik. Di sisi lain, siswa merasa tindakan mereka merupakan bentuk pembelaan. Kronologi lengkap kejadian menjadi penting untuk memahami akar masalah.

Awal Mula Keributan

Kejadian bermula saat Agus berjalan di depan kelas pada pagi hari. Seorang siswa meneriakkan kata-kata kasar yang dianggap tidak pantas. Agus mendengar ucapan tersebut dan langsung mendatangi kelas. Dia meminta siswa yang bersalah untuk mengaku.

Salah satu siswa mengaku melakukan tindakan tersebut. Namun menurut Agus, siswa itu justru menantangnya. Secara refleks, Agus menampar wajah siswa satu kali. Dia menyebut tindakan itu sebagai bentuk pendidikan moral.

Tuduhan dari Pihak Siswa

Sejumlah siswa mengklaim Agus sering menghina mereka. Salah satu tuduhan adalah penggunaan kata “miskin” kepada siswa. Para siswa merasa perkataan tersebut merendahkan martabat mereka. Ketua OSIS menyatakan guru tersebut kerap menindas siswa.

Seorang siswa berinisial MUF memberikan kesaksian berbeda. Dia menyebut Agus dikenal keras dan sering berbicara kasar. MUF bahkan mengungkap fakta mengejutkan tentang panggilan khusus. Agus ingin dipanggil dengan sebutan “prince” atau pangeran, bukan bapak.

Bantahan Guru Agus Saputra

Agus membantah tuduhan menghina siswa dengan kata “miskin”. Dia menegaskan perkataan tersebut disampaikan dalam konteks motivasi. Agus menjelaskan maksudnya adalah memberi semangat kepada siswa. Dia tidak bermaksud mengejek atau merendahkan siapa pun.

Guru yang telah mengabdi lebih dari 15 tahun ini mengaku frustasi. Dia menyebut selama dua tahun terakhir menjadi korban perundungan siswa. Siswa laki-laki kerap melakukan bullying terhadap dirinya. Agus mengaku baru kali ini kehilangan kesabaran.

Proses Mediasi yang Gagal

Setelah insiden penampaaran, guru-guru lain melakukan mediasi. Proses mediasi berlangsung di ruangan yang dilengkapi CCTV. Agus memberikan opsi kepada siswa untuk membuat petisi. Dia menawarkan untuk tidak mengajar lagi jika siswa menginginkannya.

Namun siswa meminta Agus untuk meminta maaf. Kedua belah pihak tidak mencapai kesepakatan. Mediasi berakhir tanpa solusi yang memuaskan. Situasi semakin memanas menjelang jam pulang sekolah.

Pengeroyokan Massal

Saat Agus berjalan menuju ruang guru, pengeroyokan terjadi. Sejumlah siswa dari berbagai tingkat melakukan aksi solidaritas. Massa siswa terdiri dari kelas 1, 2, hingga kelas 3. Mereka mengeroyok Agus secara berkelompok.

Akibat pengeroyokan, Agus mengalami luka memar di badan dan pipi. Kekerasan fisik tersebut terekam dalam video yang viral. Bahkan siswa melempari Agus dengan batu. Insiden berlanjut hingga sore hari setelah jam pelajaran berakhir.

Aksi Kontroversial dengan Celurit

Video lain memperlihatkan Agus mengacungkan celurit. Dia tampak mengejar dan membubarkan massa siswa dengan senjata tajam. Aksi ini menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat. Banyak pihak mempertanyakan tindakan guru tersebut.

Agus memberikan pembelaan atas tindakannya. Dia menjelaskan celurit tersebut ada di lingkungan sekolah. SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur merupakan SMK pertanian. Celurit dan cangkul memang tersedia di area sekolah.

Menurut Agus, dia mengacungkan celurit hanya sebagai gertakan. Tujuannya agar siswa membubarkan diri dan pulang. Dia menegaskan tidak ada niat untuk menyakiti siswa. Agus hanya ingin situasi kembali kondusif.

Respons Pihak Berwenang

Polsek Berbak dan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi turun tangan. Mereka melakukan mediasi untuk menyelesaikan konflik. Proses mediasi dihadiri unsur kepolisian, TNI, dan kejaksaan. Namun Agus tidak hadir dalam dua undangan mediasi.

Kapolsek Berbak mengimbau semua pihak menahan diri. Penanganan kasus diarahkan melalui jalur mediasi terlebih dahulu. Polisi berupaya mencegah konflik meluas ke masyarakat. Aktivitas belajar mengajar sempat dihentikan sementara.

Kepala Bidang SMK Disdik Provinsi Jambi menyayangkan kejadian ini. Pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh. Evaluasi mencakup tuntutan siswa dan tenaga pengajar. Mereka meminta agar Agus tidak mengajar lagi di sekolah tersebut.

Laporan ke Polda Jambi

Kakak Agus bernama Nasir melapor ke Polda Jambi. Laporan dibuat atas dugaan penganiayaan yang dialami adiknya. Agus telah menjalani visum untuk pemeriksaan medis. Dia mengalami lebam di punggung, tangan, dan pipi.

Nasir menjelaskan alasan mengambil jalur hukum. Agus mengalami gangguan psikis setelah video viral. Nama baik guru tersebut tercoreng di media sosial. Sebagai warga negara, mereka berhak melaporkan tindakan pengeroyokan.

Meski melapor ke polisi, Agus mengaku berat hati. Dia mempertimbangkan masa depan anak didiknya. Secara psikologis, siswa masih membutuhkan bimbingan. Agus merasa merinding jika harus memproses siswa secara hukum.

Desakan Perlindungan Guru

Ketua PB PGRI Unifah Rosyidi menyoroti pentingnya UU Perlindungan Guru. Kasus ini membuka mata tentang kerentanan profesi guru. Undang-undang diperlukan untuk menjaga kehormatan sekolah dan guru. Perlindungan juga mencegah berbagai bentuk bullying.

PGRI akan memberikan pendampingan kepada Agus. Tujuannya agar mediasi berjalan dengan baik. Unifah menekankan pentingnya komunikasi untuk menyelesaikan kasus. Anak-anak juga harus belajar menahan diri.

Sementara itu, JPPI mengecam keras insiden kekerasan ini. Organisasi pemantau pendidikan menilai terjadi darurat perlindungan anak. Mereka menyoroti tiga kesalahan fatal dalam sistem pendidikan. Legitimasi kekerasan oleh guru menjadi salah satu masalah utama.

Sikap Gubernur Jambi

Gubernur Jambi Al Haris berjanji bertindak tegas. Dia tetap mengedepankan mediasi dalam penyelesaian. Gubernur menekankan guru tidak boleh berkata tidak patut. Namun siswa juga tidak boleh menghakimi dengan kekerasan.

Evaluasi menyeluruh akan dilakukan oleh pemerintah daerah. Tim investigasi terus mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak. Sanksi akan diberikan jika Agus terbukti bersalah. Keputusan final mengenai posisi Agus masih dalam proses.

Kasus ini menjadi pelajaran bagi dunia pendidikan Indonesia. Komunikasi efektif antara guru dan siswa sangat penting. Kedua belah pihak harus saling menghormati dan menjaga martabat. Solusi damai melalui mediasi harus diutamakan.

Leave a Reply

Top