You are here
Home > Berita Nasional >

Suka Marah-Marah, Risma Didesak Ikuti Terapi Kesabaran

Risma Didesak Ikuti Terapi Kesabaran
Bagikan Artikel Ini

Pojokjakarta.com – Setelah viral di media sosial sebab kasus di Gorontalo, Menteri Sosial Tri Rismaharini mendapat kritik dari berbagai pihak. Bahkan Risma didesak ikuti terapi kesabaran agar tidak emosian ketika menjalankan tugas sebagai menteri sosial.

Insiden marah-marahnya Risma di Gorontalo tersebut pada dasarnya bukan kali pertama Risma marah. Sebelum ataupun ketika menjadi Mensos, Risma dikenal sebagai sosok pemimpin yang tegas dan suka marah ketika mendapati sebuah penyimpangan tugas yang dilaksanakan oleh bawahannya.

Akhirnya, sikap tersebut membuat banyak pihak pro dan kontra. Ada yang mengatakan jika risma sangat tegas. Namun ada juga yang mengatakan jika Risma adalah sosok yang emosian. Sehingga tidak heran jika ada yang mendesak risma untuk mengikuti terapi kesabaran.

Sering Marah-marah Bukan Hal yang Baik

Beberapa pengamat politik mengatakan jika marah dan emosi adalah sebuah tindakan yang tidak baik dilakukan oleh seorang pejabat, apalagi menteri. Sebab, menteri memiliki tugas untuk memberikan contoh yang baik pada pejabat lain maupun masyarakat.

Jika sikap yang ditunjukkan emosian dan marah-marah, maka hal tersebut akan menjadi contoh buruk. Bahkan sangat buruk bagi citra publik terhadap pejabat di Indonesia. Apalagi sampai gubernur Gorontalo tersinggung atas marahnya Menteri Sosial tersebut.

Beberapa pengamat politik mengatakan jika gaya Risma tidak cocok sama sekali dengan gaya pemerintahan Jokowi yang sabar dan merakyat. Tidak ada yang bisa dipungkiri jika Jokowi adalah sosok penyabar yang jarang sekali marah. Beda dengan Risma yang sering marah-marah dan kemarahannya menjadi viral di media sosial.

Pemimpin seharusnya menjadi seorang teladan. Bukan malah mencontohkan sikap yang tidak profesional. Sebab masalah tidak akan selesai jika hanya dihadapi dengan sikap emosi. Hal tersebut malah menjadikan pejabat lain merasa takut. Ketegasan Risma tidak terlihat lagi menjadi citra yang baik, justru malah buruk bagi dirinya.

Sikap yang Tidak Mendidik Masyarakat

Banyaknya kritik masyarakat terhadap gaya kepemimpinan Risma menjadi sebuah sorotan. Banyak dari warganet yang semakin tidak yakin jika Risma adalah sosok pemimpin yang diharapkan oleh bangsa Indonesia.

Bahkan beberapa warganet mengatakan jika kemarahan risma tersebut adalah sebuah bentuk pencitraan yang disengaja. Sehingga elektabilitasnya naik dan bisa mencalonkan diri di pilpres 2024.

Sikap emosional yang ditunjukkan oleh Mensos Risma adalah contoh yang tidak boleh ditiru oleh masyarakat maupun pejabat lain. Marah-marah tidak akan menyelesaikan masalah secara langsung. Bahkan dengan sikap tersebut, solusi tidak akan bisa tercipta dengan baik.

Tidak heran jika Risma didesak ikuti terapi kesabaran. Sebab ketegasan seorang pemimpin tidak hanya dilihat dari sikap emosionalnya, namun juga aspek lain dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh bangsa ini.

Leave a Reply

Top