You are here
Home > Berita Nasional >

Hinaan Jadi Alasan Keringanan Vonis Juliari, Penuh Kecaman!

Hinaan Jadi Alasan Keringanan Vonis Juliari Penuh Kecaman
Bagikan Artikel Ini

Pojokjakarta.com – Terpidana kasus Korupsi Bansos Covid-19, Juliari Batubara akhirnya divonis mendapatkan keringan dari pengadilan. Namun, hinaan jadi alasan keringanan vonis Juliari. Sehingga, banyak pihak yang menentang dan mengecam hal tersebut.

Keputusan hakim yang menjadikan hinaan publik sebagai pertimbangan untuk meringankan vonis terpidana korupsi menyulut emosi berbagai pihak. Mereka menganggap jika hakim tidak seharusnya meringankan hukum Juliari hanya karena hinaan publik.

Sebab, sudah pantas seorang koruptor yang mencuri uang Bansos Covid-19 dihina oleh masyarakat. Sebab,uang tersebut seharusnya milik rakyat dan malah dikorupsi secara besar-besaran oleh Juliari, dkk.

Kecaman ini lebih tegas dilontarkan oleh para aktivis anti korupsi. Sebab, pada aktivis ini merasakan betul jika hukuman yang diberikan pada Juliari Batubara tidak sebanding dengan apa yang dia kerjakan.

Perbandingan dengan Kasus yang Lain

Pengamat juga membandingkan dengan kasus korupsi lain. Semua koruptor itu dibully oleh masyarakat. Sebab mereka mencuri uang rakyat. Mustahil seorang koruptor tidak dibully dan dihina. Hal tersebut merupakan sebuah konsekuensi sosial yang pasti dirasakan oleh pelaku tindak korupsi.

Sehingga, tidak ada relevansinya jika hakim menjadikan hinaan sebagai alasan meringankan hukuman dari Juliari Batubara.

Pelaku korupsi seperti Setya Novanto juga dihina. Pelaku korupsi lainnya juga dihina. Hal semacam itu adalah sebuah kepastian. Pelaku tindakan kejahatan korupsi akan diposisikan sebagai orang yang hina di mata masyarakat.

Pejabat yang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik dan mengkhianati rakyat, mustahil bisa terlepaskan dari hinaan publik. Hal semacam itu sangat logis bagi seorang pejabat publik yang melakukan kesalahan fatal seperti korupsi.

Alasan Hukum Mengada-ada

Indonesia Corruption watch (ICW) menanggapi hal tersebut sebagai keputusan hakim yang mengada-ada. Ekspresi masyarakat yang benci pada Juliari adalah sebuah hal yang tidak bisa dikontrol.

Hal tersebut timbul atas kesalahan Juliari sendiri. Bukan sebab rakyat. Sehingga secara rasional, tidak bisa dijadikan alasan sebagai peringan hukuman Juliari. Putusan keringan hukuman pada Juliari malah membuat sistem peradilan di Indonesia semakin terlihat lemah dan tidak memberikan keadilan.

Kurnia Ramadhana sebagai peneliti ICW mengatakan jika hinaaan tersebut tidak sebanding dengan penderitaan masyarakat dengan adanya Covid-19 ini. Maka tindakan korupsi di tengah Pandemi adalah sebuah hal yang tidak bisa dimaklumi.

Karena korupsi itulah, masyarakat kesulitan mendapatkan bansos. Sedangkan, bantuan sosial tersebut sangatlah dibutuhkan masyarakat. Bukan lagi karena agar mencari kekayaan, akan tetapi memang butuh untuk menyambung kehidupan.

Intinya, hinaan jadi keringan vonis Juliari adalah sebuah keputusan yang benar-benar terlihat tidak adil. Terlebih jika dibanding dengan kasus-kasus lain yang sepele, tapi hukumannya berat. Seakan-akan, hukum di Indonesia ini terlihat tebang pilih.

Leave a Reply

Top