You are here
Home > Berita Nasional >

Rektot UI Mundur dari Jabatan Wakil Komisaris BRI

Rektor UI
Bagikan Artikel Ini

Pojokjakarta.com – Setelah beberapa waktu lalu viral di berbagai media, akhirnya Rektor UI mundur dari jabatan wakil komisaris BRI. Hal tersebut tentu saja membuat banyak orang bahagia, hal tersebut yang seharusnya dilakukan.

Kemunduran Ari Kuncoro sebagai Wakil komisaris BRI tersebut juga diumumkan oleh pernyataan resmi pihak BRI. Pernyataan tersebut adalah sebagai berikut:

“Kementerian BUMN RI telah menerima surat pengunduran diri Ari Kuncoro sebagai Wakil komisaris utama/komisaris independen BRI dan menginformasikan secara resmi kepada perseroan. Sehubungan it, perseroan menerbitkan keterbukaan informasi pada tanggal 22 Juli 2021. Dst.”

Sempat Menjadi Bahan Kritik Warganet

Sebelum Rektor UI mundur dari jabatan wakil komisaris BRI, ia menjadi bulan-bulanan warganet. Banyak sekali kritik yang terlontarkan, terlebih ketika presiden Jokowi Mengubah Statuta UI dengan memberikan spesifikasi pada bidang rangkap jabatan komisaris.

Setelah beragam komentar, kritik, dan masukan yang ada, Ari Kuncoro melepas jabatan wakil komisaris di bank BRI. Tentu saja, hal tersebut adalah keputusan terbaik menurut rektor UI tersebut.

Secara etika dan aturan, seharusnya memang tidak ada urgensinya seorang rektor salah satu universitas terbaik di Indonesia menjadi komisaris di satu lembaga BUMN. Sehingga banyak anggapan bila ada kongkalikong untuk jabatan tersebut.

Memang, komisaris merupakan salah satu jabatan yang sangat ‘labil’ di Indonesia. Banyak politisi yang memegang jabatan tersebut. Entah kenapa hal tersebut bisa terjadi. Namun jika sudah memiliki jabatan yang sangat urgen, maka tidak perlu seseorang harus mengambil jabatan lain di instansi pemerintahan.

Tidak Hanya Rektor UI yang Rangkap Jabatan

Ternyata, satu informasi yang penting hadir dari beberapa rektor lain. Tidak hanya Ari Kuncoro yang merangkap jabatan jadi komisaris sebuah perusahaan. Akan tetapi, ada rektor universitas lain yang rangkap jabatan.

Beberapa rektor tersebut adalah Ridwan Nurazi rektor Universitas Bengkulu yang menjadi komisaris utama bank Bengkulu. Ada juga Dwia Aries Tina Pulubuhu rektor Universitas Hasanudin yang menjadi komisaris di PT Vale Indonesia tbk. Rektor UII, Komaruddin Hidayat yang menjadi komisaris Independen Bank Syariah Indonesia atau BSI.

Beberapa rektor tersebut tentu saja ada yang memiliki konteks yang sama dengan rektor UI. Sehingga tidak mustahil juga warganet akan kembali mengkritik beberapa rektor tersebut terkait rangkap jabatan di instansi pemerintahan.

Seperti yang dikatakan oleh presiden Jokowi, tidak ada yang boleh rangkap jabatan. “Wong satu saja belum karuan bisa maksimal,”

Entah bagaimanapun cara mereka mendapatkan jabatan di dua instansi tersebut, tentu satu hal yang pasti adalah rangkap jabatan tidak diperkenankan di negara ini. Logikanya, masa sih tidak ada orang lain yang bisa menggantikan posisi strategis itu.

JIka memang komisaris adalah sebuah jabatan yang penting dalam sebuah perusahan, maka seharusnya bisa dipilih dari seseorang yang tidak hanya ahli di bidang tersebut, akan tetapi juga bisa fokus bekerja sebagai komisaris.

Sebagian Mahasiswa UI Apresiasi Keputusan Rektor

Karena keputusan tersebut, MWA UI Unsur Mahasiswa memberikan apresiasi pada Rektor UI. Dengan kata lain, keputusan tersebut harusnya bisa dicontoh pejabat publik lain yang kiranya memiliki jabatan rangkap.

Sehingga, dalam hal ini mahasiswa tidak hanya bisa mengkritik saja, akan tetapi juga bisa memberikan apresiasi jika rektornya memiliki keputusan yang bijak terkait rangkap jabatan tersebut.

Langkah Ari Kuncoro ini harusnya bisa diikuti pejabat lain yang rangkap jabatan. Sehingga akhirnya di negeri ini banyak orang-orang berkualitas yang terserap dalam pemerintahan.

Seharusnya, rektor UI juga menjadikan keputusan tersebut bukan sebagai keterpaksaan. Bukan karena menyerah karena dihujat netizen, akan tetap harus menjadi keputusan murni yang diambil karena memang hal tersebut secara hukum tidak dibenarkan.

Banyak pengamat mengatakan jika pujian pada Rektor UI tidak ada gunannya. Sebab hal tersebut malah menjadikan dunia pendidikan sedikit tercoreng. Seakan-akan, dunia pendidikan sudah terhiasi oleh koalisi politik dan permainan uang.

Jadi Bahan Lucu-lucuan Netizen

Rektor UI yang merangkap jabatan viral beberapa waktu lalu dan dijadikan bahan lelucon warganet. Mereka memberikan analogi-analogi kocak yang mengocok perut.

Diantaranya adalah ungkapan di Twitter seperti, “Rektor UI naik gunung tidak kuat, eh gunungnya yang suruh turun.”

Beberapa kritik yang menohok tersebut akhirnya menjadikan kata “Rektor UI” Trending di Twitter hampir dua hari lamanya.

Hingga beberapa pakar mengatakan jika hal tersebut adalah polemik yang menyebabkan suramnya masa depan kampus. Jika rektor kampus nomor satu satu di Indonesia saja seperti itu, apa kabar kampus lainnya?

Artinya, UI adalah percontohan kampus di seluruh Indonesia. Jangan sampai, orang nomor satu di UI malah mengecewakan.Bahkan, beberapa alumni UI mengatakan jika hal tersebut adalah aib.

Kritik tersebut tentu saja menohok. Bahkan masyarakat UI saja tidak berkenan jika rektornya rangkap jabatan. Sehingga, tidak ada motif lain bagi sang rektor untuk tetap memegang jabatan sebagai Wakil Direksi BRI.

Bermula dari meme, “Jokowi: King of Lips Service”, rahasia tersebut terbongkar.

Hingga akhirnya, rektor UI memutuskan untuk fokus menjadi rektor UI dan melepas jabatannya di BRI. Memang bukan sebuah pilihan, namun keharusan.

Jangan sampai dunia kampus semakin hari semakin terpolitisasi dan menjadi ajang persekongkolan. Atasan kampus ada harus melayani apa yang dibutuhkan civitas akademika. Bukan malah menjilat ke atas pemerintahan untuk mendapat jabatan.

Berita Rektor UI mundur dari jabatan Komisaris BRI ini seharusnya menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Terlebih birokrasi kampus yang terlibat dunia politik praktis. Jangan sampai, mahasiswa terkaderisasi menjadi agen perubahan yang gila jabatan.

Leave a Reply

Top