You are here
Home > Berita Nasional >

Tragedi Sate Takjil Sianida: Motif, Kronologi, dan Fakta Terbaru

Tragedi Sate Takjil Sianida: Motif, Kronologi, dan Fakta Terbaru
Bagikan Artikel Ini

Pojokjakarta.com – Ramai berita membicarakan NA (25 tahun) yang memiliki niat buruk mengirimkan sate sianida kepada seseorang yang merupakan suami sirinya. Kejadian tersebut boleh dikatakan sebagai cinta yang berujung petaka.

Dikabarkan NA sakit hati karena tidak dinikahi secara sah oleh T. Namun, ketika niat diantar oleh tukang Ojek Online, si T tidak menerima dan malah memberikan sate tersebut pada si Ojol. Setelah dibawa pulang dan dimakan anak di Ojol, akhirnya si anak tersebut meninggal dunia.

Motif Sakit Hati Tidak Dinikahi

Motif dari tindakan yang dilakukan oleh NA adalah karena sakit hati. Ia nekat mengirimkan sate yang mengandung racun sianida tipe C pada lelaku yang merupakan anggota polisi. Namun akhirnya merenggut nyawa anak yang tidak bersalah.

Dikatakan oleh RT setempat jika dua orang tersebut, NA dan T adalah sepasang suami istri namun menikah siri. Namun karena tidak dinikahi, akhirnya NA tidak terima dan ingin membunuh T dengan mengirimkan sate yang berisi racun sianida.

Ini adalah salah satu dampak dari pernikahan siri. Dalam pernikahan siri, tidak ada hukum negara yang mengikat. Dalam kajian agama mungkin saja sah, akan tetapi si suami pasti bisa sebebasnya memutuskan sendiri.

Maka dari itu, perlu diketahui oleh semua orang. Jangan sampai kejadian seperti ini kembali terjadi karena pernikahan siri. JIka memang memutuskan untuk menikah, maka menikah secara resmi dan tercatat adalah cara yang paling benar.

Jangan sampai mengambil resiko apapun dalam sebuah pernikahan. Pernikahan siri berpotensi menyebabkan banyak konflik. Resiko yang besar inilah yang membuat banyak kemungkinan KDRT dan perceraian sepihak bisa terjadi.

Nani Apriliani Nurjaman adalah contoh nyata yang harus dijadikan pelajaran. Tidak ada hal yang baik dalam pernikahan siri. Karena pernikahan tidak hanya tentang hal-hal yang enak, namun juga konflik dan permasalahan.

Kronologi Peristiwa Naas Sate Sianida

Sama seperti kasus kopi sianida, kasus sate sianida ini adalah salah satu bentuk pembunuhan berencana. Dimana, Nani Apriliani sudah merencanakan skema pembunuhan dengan sate beracun sianida tipe C.

Nani memang sengaja memasukkan sianida ke dalam sate tersebut. Setelah itu, ia menyewa ojol untuk mengantar sate tersebut pada target. Namun ia tidak menggunakan aplikasi ketika menyewa ojol.

Ia hanya memberikan alamat dan membayar ojol tersebut untuk mengirim sate sianida. Ojol tersebut bernama Budiman. Sang ojol diberitahu oleh Nani agar mengatakan sate tersebut dari orang yang bernama Hamid, warga Pakualaman.

Setelah diantar dan tiba di depan rumah target, Budiman berniat memberikan target sate tersebut. Namun pemilik rumah tidak merasa sedang memesan dan tidak juga kenal dengan Hamid.

Karena merasa sayang dibuang, akhirnya Budiman membaca sate tersebut untuk digunakan berbuka puasa. Awalnya budiman dan anaknya memakan sate tanpa bumbu tidak masalah. Namun ibu istri dan anak bungsu Budiman memakan dengan bumbu.

Mereka pun merasakan pahit dan tenggorokan terbakar. Si anak bungsu yang bernama Naba lari dan mencari minum. Namun ia terjatuh dan istri Budiman muntah. Meski keduanya dilarikan ke rumah sakit, nyawa Naba tidak bisa ditolong.

Tentu saja, kejadian naas tersebut sangatlah menyayat hati. Tidak ada yang tega jika melihat anak yang masih belia sudah meninggal dunia, apalagi karena racun Sianida. Bahkan Naba tidaklah memiliki salah sama sekali.

Pelaku Merasa Beban Mental

Setelah kejadian tersebut, sate akhirnya diamankan dan diteliti. Ternyata benar mengandung sianida dan akhirnya si perempuan diburu oleh polisi. Jadi, pada hari itu, Nani belum tertangkap.

Baru beberapa hari setelahnya, ia tertangkap. Tentu saja, sebagai manusia ia merasa sangat bersalah. Apalagi sate yang ia berikan sianida ternyata salah sasaran dan mengenai bocah yang tidak bersalah.

Setelah berita kematian Naba, tentu saja pelakunya sangat dihujat. Pelaku tentu sangat tertekan mental dihantui oleh banyak hal. Sampai Nani mengaku jika merasa bersalah dan merasa mentalnya terganggu.

Ya seperti itulah konsekuensi dari pembunuhan. Jika berhasil membunuh pun, tidak ada kelapangan di dalam hati, yang ada hanyalah penyesalan dan mendapat gangguan mental dan tercap sebagai pembunuh.

Pelaku Terancam Hukuman Mati

Karena apa yang sudah dilakukan oleh Nani, ia dikenakan pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dengan ancaman penjara minimal 20 tahun atau maksimal seumur hidup, mungkin saja bisa hukuman mati.

Boleh dikatakan, hukuman tersebut memang setimpal dengan perbuatan Nani yang sangat keji. Pembunuhan berencana, apalagi dengan racun adalah tindakan yang sangat mengerikan. Sehingga negara tidak segan menghukum mati jika diperlukan.

Hal itu dilakukan agar tidak ada orang lagi yang berniat untuk membunuh sesama manusia. Memang kekasih Nani itu bersalah. Namun, membunuh bukanlah sebuah solusi untuk menyelesaikan masalah sakit hati yang ia lakukan.

JIka kejadiannya sudah seperti ini, maka tidak ada hal yang didapatkan kecuali penyesalan. Bagi siapapun di luar saja yang sakit hati dan putus asa, berniat untuk membunuh, coba deh pikirkan konsekuensinya terlebih dahulu.

Bagaimana hancurnya hidup seseorang yang dipenjara selama 20 tahun atau seumur hidup. Waktu selama itu bukanlah waktu pendek untuk menikmati umur. Apalagi di dalam penjara, semua itu didapatkan kontan gara-gara dosa membunuh.

Maka dari itu, pastikan Anda tidak melakukan kesalahan yang sudah Nani lakukan. Karena penyesalan akan dirasakan di akhir. Jika Anda menjadi Nani, dijamin Anda pasti akan menyesal. Selain beban mental sosial, ia pasti merasakan dosa membunuh anak belia yang tidak bersalah.

Leave a Reply

Top