You are here

European Super League, Dituding Hanya Keruk Uang Semata

European Super League
Bagikan Artikel Ini

Dunia sepak bola digegerkan dengan berita bahwa liga baru telah dibentuk yaitu European Super League. Namun alih-alih mendapat antusiasme yang ada justru kecaman dari mana-mana bahkan fans. Tudingan demi tudingan dilancarkan karena pembentukan yang terkesan sangat dipaksakan dan terburu-buru.

FIFA dan UEFA kompak untuk mengecam dan mengancam klub-klub yang bergabung di ESL tidak boleh bermain di liga domestik. Pemainnya pun dilarang membela timnas serta berlaga di kompetisi Eropa. Publik pun belum bisa mencerna apa urgensinya membentuk turnamen baru apalagi di masa pandemi seperti ini.

12 Klub Kompak Bikin Liga Tandingan

European Super League adalah sebuah kompetisi sepak bola untuk club-club raksasa di Eropa. Nantinya, ESL akan memiliki 20 anggota yang terdiri dari 15 klub tetap dan 5 tim tambahan dengan sistem kualifikasi tiap tahunnya. Saat ini, Big Six sudah bergabung dan ditambah lagi dengan konco-konco dari Liga Italia serta Spanyol.

ESL sendiri memang digagas oleh klub-klub besar Eropa dengan tujuan menciptakan kompetisi yang lebih intens, pemain top bisa bersaing teratur, dan juga memperbaiki format tim. Nantinya, turnamen ini akan digelar secara tahunan dan diharapkan bisa mendatangkan pertumbuhan ekonomi. Pun juga support untuk sepak bola itu sendiri.

Adalah pemilik klub-klub besar di Eropa yang menjadi penggagas dimunculkannya liga baru ini. Florentino Perez yang merupakan Presiden Real Madrid merupakan salah satu inisiator yang kemudian didapuk menjadi ESL President.

Pendanaan untuk pembentukan liga baru ini sendiri ternyata disokong oleh JP Morgan Chase. Raksasa investasi dari Amerika itu bakal menggelontorkan dana sebesar 6 juta US Dollar. Namun dikonfirmasi lebih lanjut tentang bagaimana funding ini akan menentukan masa depan turnamen, pihaknya tidak mau berkomentar.

Nantinya, jika kompetisi sudah bergulir, pemenang dijanjikan hadiah yang lebih banyak daripada yang dimiliki oleh Champion League. 310 juta Poundsterling untuk juara ESL tentu angka yang sangat fantastis. Tak heran kalau liga tandingan ini disebut ajang adu ekslusifitas.

Kecaman dari Berbagai Pihak

Penolakan langsung datang dari banyak kalangan antara lain UEFA, FIFA, FA, klub-klub sepak bola Eropa lainnya, media, pengamat olahraga, dan bahkan fans. Sejak kabar ini bergulir, tabloid di Inggris langsung menjadikannya sebagai headlines dengan berbagai judul provokatif. Mulai dari adanya civil war, menjuluki Big Six menjadi Shameless Six.

Bahkan seorang Gary Neville pun menunjukkan amarahnya dengan menyebut adanya imposter. Ditambahkannya lagi dalam wawancara panas dengan Sky Sport bahwa pembentukan ESL merupakan criminal act terhadap fans dan sepak bola itu sendiri sebagai olahraga terbesar di Inggris maupun di dunia.

FIFA sebagai induk juga menyatakan penolakannya dan merasa harus ikut campur akan hal ini. Liga tandingan ini dianggap akan merusak struktur sepakbola secara internasional serta tidak mencerminkan fairplay dan prinsip-prinsip yang selama ini diusung. FA pun senada dan mengatakan kalau ini mencoreng citra England Footbal.

Banyak pihak yang menuding pembentukan ESL hanyalah karena keserakahan tim-tim raksasa yang bergabung di dalamnya. Tidak ada motif lain selain uang dan memperkaya diri. Pasalnya, jurang kesenjangan dengan klub kecil akan semakin lebar. Neville yang merupakan mantan bek MU juga mengatakan hal yang sama dan menyebut ini lelucon.

Yang mengejutkan justru datang dari Jose Mourinho. Tottenham Hotspur telah resmi memecatnya. Disebutkan alasannya karena performa klub yang terus menurun. Namun ada yang menyebutkan kalau pemecatan ini karena pelatih Hotspur itu menolak ide ESL.

Pembelaan dari Bos-Bos Klub

Seolah mengabaikan kecaman dari banyak pihak bahkan fans yang notabene memegang peranan penting terhadap popularitas sebuah tim, bos-bos klub yang bergabung di ESL terus membenarkan tindakan mereka. Tidak ada yang salah dan ini adalah langkah yang paling tepat, begitulah kiranya pembelaan yang disampaikan.

Joel Glazer sebagai Co-Chairman Manchester United mengatakan jika ini adalah langkah yang tepat untuk membuka lembaran baru bagi football club terbesar. Dikatakannya lagi, dengan menyatukan klub-klub besar dunia dan pemainnya, ESL akan memastikan jika kompetisi kelas dunia dan fasilitasnya benar-benar dikelola secara baik. Termasuk juga dukungan finansialnya.

Glazer sendiri bakal menjabat sebagai Vice-Chairman dari European Super League. Manchester United sendiri sedang dililit hutang sebesar £ 455,5 juta dengan peningkatan terbaru sebanyak 60 juta Pounds akibat bermain tertutup di Old Trafford selama masa pandemi. Hal ini menambah kerugian bagi klub sebesar £ 6 juta pada setiap pertandingannya.

Senada dengan Joel Glazer, Andrea Agnelli, Chairman Juventus dan juga Vice-Chair di ESL mengatakan kalau ini adalah saat yang tepat bagi kompetisi di Eropa untuk bertransformasi. Sedangkan Florenino Perez, billionaire Real Madrid mengatakan kalau ESL bakal membantu sepak bola di level apapun dan akan membawa olahraga ini ke tempat yang seharusnya.

Sekilas bisa dikatakan bahwa yang layak berkompetisi dan ditonton jutaan mata adalah hanya klub-klub besar yang solid. Baik secara finansial, kualitas pemain, management klub, dan juga popularitas. Sedangkan bagi tim underdog, ini tentu sangat menyakitkan. Bukan hanya karena mereka harus melewati kualifikasi untuk bisa masuk ESL, tapi juga karena mereka dianggap tak layak.

Kecaman Fans Mengalir Deras

Biasanya, penggemar sepak bola akan selalu mengamini apapun yang dilakukan oleh tim yang digemarinya. Namun kali ini tampaknya ada anomali di kalangan fans. Mereka berpendapat kalau ini adalah penghianatan terhadap kecintaan akan sepak bola.

Media sosial bahkan dipenuhi dengan keluhan, komplain, dan fans-fans yang merajuk terkait ESL ini. Ternyata, walaupun mereka suka menonton klub-klub populer bermain, nyatanya mereka juga ingin melihat kompetisi bertumbuh. Fans juga ingin klub-klub kecil ikut berkompetisi dalam liga besar. Dan kalau nanti Super League benar-benar bergulir, impian tadi bakal kandas.

Mereka seolah terbagi dua, antara yang membenarkan bahwa memang seharusnya olahraga diisi oleh klub-klub yang memang mumpuni dan mereka yang menganggap sepak bola adalah untuk semua tim. Jelas pembentukan ESL ini memicu terjadinya pergolakan di kalangan penggemar. Walaupun ini tentunya tidak akan melunturkan kecintaan mereka terhadap olahraga yang satu ini.

Di Twitter juga hal ini menjadi trending dan mulai muncul tudingan konspirasi. Bahwa ESL dibentuk untuk membebaskan klub-klub raksasa dari kesulitan finansial akibat serangan pandemi. Sementara itu, publik hanya bisa menanti bagaimana kelanjutan dari European Super League yang bikin geger ini.

 

Sumber:

https://sport.detik.com/sepakbola/liga-inggris/d-5538441/mourinho-dipecat-tottenham-karena-tolak-european-super-league

https://www.theguardian.com/football/2021/apr/19/its-war-what-the-papers-say-about-the-european-super-league

https://twitter.com/Football__Tweet/status/1383833537095245825

https://www.theguardian.com/business/2021/apr/19/jp-morgan-european-super-league

https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20210419082554-142-631512/kronologi-pembentukan-european-super-league

lilik sumarsih
Petualang,photographer dan penulis artikel tentang traveling dan alam liar

Leave a Reply

Top