Nama Abdullah Mahmud Hendropriyono, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), kembali mencuat di tengah polemik demonstrasi yang berujung ricuh di depan Gedung DPR pada akhir Agustus 2025. Namun kali ini, posisi Hendropriyono menjadi ambigu - di satu sisi ia tampil sebagai pembongkar dalang demo bubarkan DPR, namun di sisi lain muncul spekulasi bahwa dirinya justru terlibat dalam orchestrasi aksi tersebut. Hendropriyono sebagai Pembongkar Dalang Dalam pernyataan resmi di Kompleks Istana Kepresidenan, Hendropriyono mengklaim mengetahui sosok di balik kericuhan demonstrasi yang menuntut pembubaran DPR. Menurutnya, dalang sebenarnya adalah "orang dari luar" yang menggerakkan kaki tangannya di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan Hendropriyono di Istana Negara pada Kamis, 28 Agustus 2025, beberapa hari setelah aksi unjuk rasa yang berakhir ricuh. Hendropriyono meyakini bahwa pihak dalam negeri
Tag: demo
Ahmad Sahroni: Anggota DPR yang Dinonaktifkan Akibat Pernyataan Kontroversial
Ahmad Sahroni, politisi Partai NasDem yang dikenal sebagai "anak Priok", menjadi sorotan publik setelah dinonaktifkan dari keanggotaan DPR RI pada 1 September 2025. Keputusan drastis ini diambil Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem setelah serangkaian pernyataan kontroversialnya yang dinilai menyakiti rakyat Indonesia. Latar Belakang Penonaktifan Keputusan penonaktifan Sahroni bersama Nafa Urbach diumumkan langsung oleh Sekretaris Jenderal Partai NasDem, Hermawi F. Taslim, melalui siaran pers pada 31 Agustus 2025. Kedua politisi tersebut resmi tidak lagi menjadi anggota DPR RI terhitung mulai Senin, 1 September 2025. Sebelumnya, pada 29 Agustus 2025, Sahroni telah dicopot dari posisinya sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR dan dipindahkan menjadi anggota Komisi I. NasDem sebelumnya sudah lebih dulu mencopot Ahmad Sahroni dari jabatan Wakil Ketua Komisi III DPR melalui surat
Affan Tewas Terlindas Rantis, Kronologi dan Suara Keadilan yang Mencuat
Peristiwa tragis menimpa seorang pemuda bernama Affan, yang dikabarkan tewas setelah terlindas kendaraan taktis (rantis) saat aksi demonstrasi berlangsung. Insiden Affan tewas terlindas rantis mengejutkan banyak pihak karena tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar mengenai prosedur keamanan dalam mengendalikan aksi massa. Kejadian tersebut bermula ketika ribuan massa turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi. Suasana awalnya berjalan relatif damai, meski sesekali terjadi dorong-dorongan antara aparat dan pengunjuk rasa. Namun, situasi memanas ketika kendaraan taktis mulai bergerak maju untuk membubarkan kerumunan. Di tengah kepanikan massa yang berlarian, Affan diduga terjatuh dan nahasnya terlindas oleh rantis yang sedang melaju. Kronologi Singkat Menurut beberapa saksi mata, Affan sempat berusaha menghindar ketika kendaraan mendekat. Namun karena padatnya kerumunan, ruang gerak sangat terbatas. Beberapa pengunjuk rasa
Demo Tuntut Bubarkan DPR, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Belakangan ini, jagat politik Indonesia kembali memanas dengan adanya aksi demonstrasi yang membawa tuntutan cukup kontroversial: membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Tuntutan bubarkan DPR ini muncul dari kelompok masyarakat sipil yang merasa kecewa dengan kinerja lembaga legislatif. Isu ini segera menarik perhatian publik, mengingat DPR merupakan salah satu pilar penting dalam sistem demokrasi Indonesia. Latar Belakang Demo Demonstrasi yang menuntut pembubaran DPR umumnya dipicu oleh rasa ketidakpuasan masyarakat terhadap wakil rakyat. Sejumlah faktor yang sering disebutkan adalah rendahnya kepercayaan publik, kasus-kasus korupsi yang menjerat anggota DPR, serta kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat kecil. Dalam beberapa kesempatan, kritik juga diarahkan pada minimnya transparansi dan akuntabilitas dalam proses legislasi. Selain itu, perkembangan isu politik belakangan ini semakin memperkuat narasi kekecewaan publik. Misalnya, adanya