Ayatollah Mojtaba Khamenei: Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru dan KontroversinyaBerita InternasionalPolitik by Maman Soleman - March 13, 2026March 13, 20260 Bagikan Artikel IniAyatollah Mojtaba Khamenei resmi menjadi Pemimpin Tertinggi Iran yang baru pada Maret 2026. Ia menggantikan sang ayah, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel. Majelis Ahli Iran — dewan ulama Syiah yang bertugas memilih pemimpin tertinggi — memilih pria berusia 56 tahun ini sebagai pemimpin ketiga Republik Islam Iran.Pengangkatan Mojtaba menuai perhatian dunia. Ia dikenal sebagai sosok garis keras yang selama bertahun-tahun beroperasi di balik layar. Meski belum pernah menduduki jabatan resmi pemerintahan, ia lama diyakini menggerakkan kekuasaan dari balik panggung. Kini, tanpa pengalaman publik yang luas, ia harus memimpin Iran di tengah krisis terbesar dalam sejarah 47 tahun Republik Islam itu.Latar Belakang dan Perjalanan HidupMojtaba Khamenei lahir pada 1969 di kota suci Mashhad, Iran timur laut. Ia tumbuh besar saat ayahnya mulai dikenal sebagai tokoh revolusi anti-monarki. Setelah Revolusi Islam 1979, keluarga ini pindah ke Teheran. Sang ayah kemudian menjabat berbagai posisi penting dalam pemerintahan.Mojtaba bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada akhir 1980-an. Ia ikut bertempur dalam perang Iran-Irak dan membangun jaringan kuat di dalam institusi militer elite itu. Hubungan itu kelak menjadi modal utama kekuasaannya. Tanpa dukungan IRGC, mustahil ia bisa naik menggantikan sang ayah.Pengaruh Politik yang TersembunyiSelama bertahun-tahun, Mojtaba menjalankan pengaruh besar tanpa tampil di publik. Kabel diplomatik AS yang dibocorkan WikiLeaks menyebutnya sebagai kekuatan nyata di balik jubah kepemimpinan Iran. Ia dipercaya turut menentukan hasil sejumlah pemilihan presiden.Ia diyakini berada di balik naiknya Presiden Mahmoud Ahmadinejad pada 2005 dan terpilihnya kembali secara kontroversial pada 2009. Protes besar menyusul pemilu itu, dan pengunjuk rasa menuntut agar Mojtaba tidak pernah menjadi pemimpin berikutnya.Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba pada 2019 atas dugaan keterlibatannya dalam penindasan domestik dan ambisi destabilisasi regional ayahnya. Sanksi itu memperkuat pandangan Barat bahwa ia bukan sosok reformis.Kontroversi dan Tantangan KepemimpinanPengangkatan Mojtaba tidak bebas dari gejolak. Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak puas atas pilihan Iran tersebut dan memperingatkan bahwa pemimpin baru itu tidak akan bertahan lama tanpa persetujuan Washington. Israel pun menyatakan siap menjadikan siapa pun yang menggantikan Ali Khamenei sebagai target.Mojtaba diketahui memiliki aset properti senilai ratusan juta dolar, mulai dari kawasan elite London hingga Dubai dan hotel-hotel mewah Eropa. Sebagian besar aset itu tidak tercatat atas namanya, melainkan disimpan melalui jaringan perantara dan perusahaan cangkang.Dalam pernyataan publik pertamanya, Mojtaba menegaskan tekad melanjutkan kebijakan ayahnya. Ia berjanji mempertahankan penutupan Selat Hormuz dan mengancam pangkalan militer AS di kawasan itu. Tidak ada sinyal reformasi atau jalan damai dalam pernyataan tersebut.KesimpulanAyatollah Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, mewarisi negara dalam kondisi perang dan krisis berat. Naiknya Mojtaba menandai dominasi faksi garis keras dalam kekuasaan Iran, sekaligus memperkecil kemungkinan tercapainya negosiasi dalam waktu dekat. Dunia kini menyaksikan apakah pemimpin baru ini mampu membawa Iran melewati badai terbesar dalam sejarahnya — atau justru memperdalamnya.