You are here
Home > Berita Nasional >

Pro Kontra Penangkapan Munarman Karena Terorisme

Penangkapan Munarman
Bagikan Artikel Ini

Pojokjakarta.com – Viral penangkapan Eks. Sekretaris umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman. Ia ditangkap oleh densus 88 dikarenakan tindakan pidana terorisme. Penangkapan Munarman dilakukan sekitar pukul 15.00 lebih di kediamannya, Pamulang, Tangerang Selatan.

Ia bahkan diduga telah mengikuti aktivitas baiat terorisme di 3 kota. Tentu saja, atas dasar rekam jejak tersebut, ia sangat dicari oleh Densus 88 agar tidak kembali melakukan aksi terorisme. Namun hal tersebut dikatakan belum benar-benar bisa terbukti.

Alasannya, bukti yang mengarahkan Munarman sebagai tokoh teroris bahkan terkait dengan ISIS masih belum kuat. Bahkan banyak politikus yang menganggap penangkapan tersebut sebuah drama. Jadi, hingga saat ini masih memuat pro dan kontra.

Kronologi Penangkapan Munarman di Kediaman

Menurut ketua RT setempat, penangkapan berjalan dengan lancar dan tanpa perlawanan. Bahkan tidak membutuhkan waktu yang lama. Dalam hitungan menit, Munarman sudah ditangkap oleh Densus 88.

Dijelaskan juga jika polisi datang ke rumah terdakwa, setelah itu izin kepada keluarga dan akhirnya Munarwan ditangkap. Benar-benar tidak ada perlawanan sama sekali. Banyak anggapan jika sikap Munarman ini membuktikan jika ia sebenarnya tidak salah.

Namun hal tersebut tentu saja hanya sebuah asumsi. Jadi hakim nantinya yang akan menentukan salah tidaknya Munarman sebagai orang yang terikat kasus Terorisme. Dikatakan juga, Munarman akan melawan secara hukum.

Jadi, sudah ada tim yang siap membelanya ketika sidang peradilan. Pembuktian Munarman salah atau tidak, akan ditentukan ketika sidang itu dilaksanakan. Sudah ada puluhan pengacara, atau totol sekitar 40 pengacara dan dibagi menjadi beberapa tim.

Baiat Teroris Pada 3 Lokasi

Tuduhan terhadap Munarman yang paling dasar adalah mengikuti baiat teroris pada tiga lokasi. Mantan pengacara Habib Rizieq Shihab ini dikatakan pernah mengikut baiat teoris dan mengikuti organisasi islam garis keras, seperti FPI dan HTI.

Tempat baiat tersebut adalah di UIN Jakarta, Makassar, dan Medan. Entah hal tersebut benar atau tidak, tentu saja harus ada penyelidikan lebih lanjut. Karena dalam kasus semacam ini, bukti yang konkret adalah sebuah hal yang sangat penting.

Munarman juga pernah ikut dengan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Palembang tahun 1995. Bahkan ia mengisi kursi sebagai ketua YLBHI. Dikabarkan, Munarman juga dekat dengan Habib Rizieq Shihab dan Ba’asyir yang terjerat kasus Bom Bali dengan vonis 2,5 tahun.

Bahkan Munarman ini sudah pernah dipenjara bersama Habib Rizieq Shihab karena terbukti bersalah menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Tentu saja, kedekatan tersebut yang membuat Munarman sangat dekat dengan organisasi yang dilarang di Indonesia.

Pada Februari, ia bahkan pernah disebut-sebut oleh terduga teroris yang ditangkap di Makassar. Hal tersebut dikarenakan ia mengikuti acara baiat ISIS yang digelar di Makassar. Sehingga, sudah banyak bukti bagi Densus 88 untuk menangkap sosok ini.

Bukti Penangkapan Munarman

Datasemen Khusus (Densus) 88 Antiretor Polri melakukan penggeledahan di kediaman Munarman maupun di bekas markas FPI. Mereka menemukan berbagai barang yang diduga memang menjadi bahan peledak untuk bom atau semacamnya.

Ada tabung yang isinya adalah serbuk-serbuk yang diisikan ke dalam botol. Setelah dicek, ternyata botol tersebut mengandung nitrat yang sangat tinggi berjenis Aseton. Hingga saat ini, bukti tersebut masih terus diselidiki oleh penyidik.

Barang-barang yang ditemukan memang agak janggal. Namun ada juga barang yang dikatakan pembersih WC yang diklaim sebagai bahan peledak juga. Hal tersebut sempat menjadi perdebatan di berbagai tokoh.

Ada yang mengatakan jika hal tersebut hanyalah skema dari Densus 88 agar bisa menangkap Munarman. Namun tentu saja hal tersebut dibantah pula. Maka dari itu, karena pro dan kontra tersebut, kita semua hanya bisa menunggu hukum yang berbicara.

Banyak Orang Menyangkal Munarman Bersalah

Dilihat dari banyaknya pengacara yang siap membela Munarman, tentu saja sosok Munarman ini bukanlah orang biasa, apalagi di organisasi yang ia ikuti. Mantan pengacara Habib Rizieq Shihab ini mendapatkan banyak pendukung di beberapa lini masyarakat.

Bahkan tokoh politik Fadli Zon menyebut jika penangkapan Munarman adalah sebuah penangkapan yang kurang kerjaan. Tentu saja, asumsi tersebut harus diartikan sebagai pembelaan publik dimana polisi harus menyelidiki ulang dan mengumpulkan bukti-bukti kesalahan Munarman dalam kasus Terorisme.

Fadli Zon mengatakan jika ia kenal baik dengan Munarman. Ia yakin bahkan Munarman tidaklah bersalah dan tidak mengikuti kasus Terorisme. Hingga saat ini, trend #SandiwaraTeroris di Twitter masih trending.

Karena memang banyak kejanggalan yang terjadi pada proses penangkapan Munarman ini. Bahkan dikatakan, jika bahan yang disebut-sebut sebagai peledak, memang benar-benar merupakan sebuah pembersih WC.

Apapun opini yang tersebar di media sosial dan masyarakat, tentu saja semua harus bersikap profesional. Entah itu penegak hukum maupun masyarakat harus berkolaborasi menolak terorisme.

Namun jika memang Munarman tidak bersalah, maka penegak hukum seharusnya membebaskan sosok ini. Karena bukan berarti karena ia adalah eks pengikut FPI dan HTI, lantas ia bisa dituduh sebagai teroris tanpa bukti yang kuat.

Hukum Harus Adil dalam Masalah Ini

Keadilan hukum benar-benar diuji dalam kasus seperti ini. Karena terorisme adalah isu sensitif yang tidak bisa dibuat main-main. Banyak sekali orang yang merasakan ketidakadilan jika kasus seperti ini tidak ditindak dengan benar oleh pemerintah.

Sosial trust pemerintah sangat digadaikan. Jangan sampai banyak masyarakat tidak terima karena ternyata Penangkapan Munarman hanyalah sebuah sandiwara yang diada-adakan. Tidak ada yang mau tindakan seperti itu terjadi. Maka dari itu, tegakkan keadilan dan Lawan Terorisme!

Leave a Reply

Top