Banjir rob terjang pesisir Sumbawa pada Jumat dini hari, 23 Januari 2026. Gelombang air laut pasang memasuki wilayah pemukiman warga dengan cepat. Ketinggian air mencapai 50 hingga 70 sentimeter di beberapa titik. Kampung Arab Labuhan Sumbawa menjadi salah satu area terparah. Warga terpaksa mengevakuasi barang berharga mereka ke tempat lebih tinggi.
Peristiwa ini mengingatkan masyarakat pesisir tentang ancaman bencana hidrometeorologi. BMKG telah mengeluarkan peringatan dini sebelumnya. Namun kecepatan datangnya air rob kali ini mengejutkan banyak warga. Fenomena pasang maksimum diprediksi masih berlanjut hingga awal Februari.
Dampak Banjir Rob di Wilayah Pesisir Sumbawa
Puluhan rumah warga di Kecamatan Labuhan Badas mengalami kerusakan akibat rendaman air laut. Perabotan rumah tangga, perlengkapan makan, dan bahan bakar harus segera dipindahkan. Warga bekerja keras menyelamatkan harta benda mereka di tengah malam. Sebagian besar rumah yang terdampak merupakan bangunan permanen berbahan batu.
Selain Labuhan Badas, Kecamatan Tarano juga melaporkan dampak serupa. Total ratusan rumah terdampak di dua kecamatan tersebut. Tidak hanya pemukiman, tanggul pesisir juga dilaporkan mengalami kerusakan. Jebolnya tanggul sepanjang 275 meter memperparah kondisi genangan. Akses jalan utama desa dan penginapan pesisir ikut terendam.
Aktivitas ekonomi masyarakat pesisir terganggu cukup signifikan. Nelayan kesulitan melaut karena kondisi gelombang tinggi. Sektor perikanan darat dan tambak mengalami kerugian material. Aktivitas bongkar muat di pelabuhan juga terhambat sementara waktu.
Upaya Penanggulangan dan Antisipasi
BPBD Kabupaten Sumbawa langsung merespons kejadian banjir rob ini. Tim siaga 24 jam turun ke lokasi terdampak sejak dini hari. Petugas melakukan pendataan korban dan kerusakan infrastruktur. Mereka juga membantu warga yang membutuhkan bantuan evakuasi.
Pihak BPBD mengimbau warga pesisir untuk tetap waspada. Puncak musim penghujan dengan cuaca ekstrem masih berlangsung. Intensitas hujan tinggi berpotensi memicu bencana hidrometeorologi lainnya. Masyarakat diminta memantau informasi dari BMKG secara berkala.
Warga setempat berharap pemerintah dapat membangun tanggul yang lebih kokoh. Kejadian banjir rob memang bukan yang pertama kali. Namun intensitas dan kecepatan datangnya air kali ini lebih tinggi. Infrastruktur pengaman pantai yang memadai sangat dibutuhkan untuk keamanan jangka panjang.
BMKG memprediksi fenomena pasang air laut maksimum masih berlanjut. Periode berlaku hingga 1 Februari 2026 pukul 03.00 WITA. Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan daerah rendah harus siaga. Persiapan antisipasi mandiri sangat penting untuk meminimalkan risiko kerugian.
Pembelajaran dari Bencana Rob
Kejadian banjir rob di pesisir Sumbawa memberikan pelajaran penting. Kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi bencana. Sistem peringatan dini harus diikuti dengan respons cepat dari warga. Koordinasi antara pemerintah dan masyarakat perlu terus ditingkatkan.
Perubahan iklim global turut mempengaruhi frekuensi banjir rob. Kenaikan permukaan air laut menjadi ancaman nyata bagi wilayah pesisir. Adaptasi dan mitigasi bencana harus menjadi prioritas pembangunan daerah. Investasi infrastruktur pengaman pantai tidak bisa ditunda lagi.
Edukasi kepada masyarakat tentang bahaya banjir rob sangat diperlukan. Warga perlu memahami tanda-tanda datangnya rob dan langkah penyelamatan. Dokumentasi dan pencatatan setiap kejadian membantu analisis pola bencana. Data tersebut berguna untuk perencanaan mitigasi yang lebih efektif di masa depan.
Solidaritas warga dalam menghadapi bencana patut diapresiasi. Mereka saling membantu mengevakuasi barang dan keluarga. Semangat gotong royong menjadi kekuatan dalam situasi darurat. Ke depan, kesiapan infrastruktur dan kesadaran masyarakat harus terus ditingkatkan secara bersamaan.