You are here
Home > Berita Nasional >

Alasan Kenapa Prabowo Subianto Sulit Menangkan Kontestasi Pilpres

Alasan Kenapa Prabowo Sulit Memenangkan Kontestasi Pilpres
Bagikan Artikel Ini

Pojokjakarta.com – Sudah beberapa kali Prabowo Subianto mencolonkan diri menjadi calon presiden, namun keduanya gagal. Berkontestasi dengan Joko Widodo, Ia gagal di pemilihan tahun 2014 dan tahun 2019.

Padahal dalam masalah pendukung, tentu saja bisa dikatakan seimbang. Joko Widodo memiliki pendukung banyak, Prabowo juga memiliki pendukung yang banyak. Namun kenapa Prabowo tidak bisa mengalahkan Jokowi pada setiap pencalonan presiden?

Pertanyaan itu menjadi sangat menarik dari segi politik. Tentu saja banyak orang yang memberikan analisanya tentang hal tersebut. Apa sebenarnya alasan kenapa Prabowo sulit memenangkan kontestasi Pilpres.

6 Alasan Prabowo Sulit Menangkan Pilpres

Setidaknya, dari beberapa referensi yang kami temukan, ada enam alasan logis kenapa Prabowo tidak bisa menangkan pilpres. Beberapa alasan ini mungkin saja bisa Anda tambahkan karena hanya didasarkan pada beberapa asumsi dari realitas saja.

1. Kasus HAM 1998

Prabowo memiliki sebuah kisah panjang kasus penculikan di tahun 1998.. Kasus tersebut menjadi sebuah momen dimana Prabowo diduga melakukan pelanggaran HAM. Maka sangat logis jika ia sangatlah ditakuti oleh masyarakat.

Setiap pemilu berlangsung, kasus pelanggaran HAM 1998 selalu melekat pada diri prabowo. Entah bagaimanapun situasi dan kondisinya, kasus tersebut tidak akan hilang dari diri Prabowo.

Maka dari itu, tidaklah mustahil jika ia tidak mendapatkan mayoritas pendukung ketika mencalonkan diri sebagai Presiden. Kasus pelanggaran HAM 1998 tersebut memang masih sangat kontroversi, bagaimana kebenarannya sangat masih simpang siur. Jika perlu diadili, maka dari tahun ke tahun Prabowo tidak diadili sama sekali.

Artinya, kasus tersebut hanya bisa mengambang dan mencemari nama Prabowo saja. Sehingga ketika debat calon presiden maupun sejenisnya, Prabowo selalu mendapat ganjalan pada hal tersebut.

2. Lulusan Militer dan Tegas

Sebagai pemimpin, hal ini tentu sangat cocok. Namun bagi sebagian orang, Prabowo merupakan sosok yang terlalu tegas. Sehingga ditakutkan akan arogan dan otoriter. Dalam tanda kutip, “Bisa semaunya sendiri ketika menjabat.”

Karena hal itu, banyak masyarakat lebih memilih Joko Widodo agar kepemimpinan Indonesia santai dan dijalankan secara lemah lembut. Jika kita melihat pidato dua calon presiden (Jokowi dan Prabowo) di tahun 2014 dan 2019, kita pasti tahu perbedaannya.

Joko Widodo lebih santai dan memiliki nada yang rendah. Sedangkan prabowo begitu berapi-api dan meledak-ledak bahkan. Hal itulah yang menyebabkan banyak orang enggan memilih prabowo, karena terlihat terlalu tegas dan membahayakan.

3. Sering Mencalonkan, Jadi Bosan

Alasan selanjutnya adalah alasan untuk periode selanjutnya. Jika Prabowo sampai mencalonkan diri kembali di pemilihan presiden (Pilpres 2024), maka publik akan bosan dan menganggap, “Prabowo lagi, prabowo lagi…”

Sebagai masyarakat, ingin memiliki pemimpin yang baru, fresh, dan beride. Dalam hal tersebut, prabowo cukup tua. Banyak kaum milenial yang tidak begitu cocok dengan Prabowo Subianto.

Citra Joko Widodo kala itu (tahun 2014) begitu cerah. Pasalnya ia menjadi sosok yang lemah lembut, merakyat, dan mencintai. Sangat berbeda dengan Prabowo yang tegas dan terlihat bisa melibas siapapun yang mengganggu kebijakan pemerintah.

4. Tidak Punya Istri

Sudah bukan rahasia lagi, Prabowo adalah politikus yang tidak memiliki istri. Ia sudah bercerai sejak lama dengan istrinya. Sehingga sekarang ia memiliki status duda dan tidak beristri.

Permasalahan yang dipikirkan oleh masyarakat adalah, “Jika Prabowo yang jadi presiden, maka siapa yang jadi Ibu Negara?”

Memang hal tersebut di mata orang awam sangatlah logis terpikirkan. Ibu negara tentu merupakan sosok istri dari seorang presiden. Jika seorang presiden tidak memiliki istri, maka bagaimana?

Alasan ini memang terkesan sangat simpel, namun masyarakat awam tentu saja memikirkannya dan menjadikannya sebuah masalah serius. Akhirnya mereka memilih Joko Widodo yang sudah jelas memiliki istri.

5. Orang Dekat Tersandung Kasus Korupsi

Beberapa waktu lalu, Edhy Prabowo yang terkena kasus Korupsi suap benih lobster. Karena kasus korupsi bukanlah kasus yang gemen-gemen di negeri ini, sehingga hal tersebut juga berpengaruh pada citra Prabowo.

Prabowo sebagai orang dekat Edhy, tentu saja akan dianggap sebagai salah satu sebab korupsi itu bisa terjadi. Nama Prabowo Subianto pun juga terseret. Akhirnya publik mengetahui jika Prabowo dekat dengan Korupsi.

6. Koalisi dengan Presiden Jokowi

Beberapa waktu lalu, Prabowo menjadi sosok yang sangat mengejutkan. Secara gamblang ia melebur menjadi satu dalam kabinet Joko Widodo. Kejadian tersebut tentu menimbulkan apresiasi dan hujatan.

Banyak sekali pendukung Prabowo di pemilihan presiden tahun 2019 menjadi kecewa. Ternyata Prabowo yang selama ini didukung, malah memutuskan untuk bergabung pada kabinet Joko Widodo yang merupakan rivalnya.

Karena hal itu, ada potensi besar ia akan kesulitan mengambil hati esk. pendukungnya yang sudah kecewa. Mereka yang sudah dibuat kecewa dengan keputusan Prabowo tersebut, akhirnya akan lebih memilih calon baru yang melawan Prabowo kelak.

Meksipun bagi beberapa orang, sikap Prabowo tersebut tampak sangatlah ksatria, di lain pihak tentu banyak orang yang kecewa. Kenapa Prabowo Subianto tidak menjadi oposisi saja, sehingga nantinya di tahun 2024, Ia jauh lebih besar berpotensi menjadi presiden.

Penutup

Dari segi pengalaman, pengabdian, ketegasan, dan pengetahuan, Prabowo Subianto tentu menjadi sosok calon presiden yang mumpuni. Namun harus dikembalikan lagi, dalam sistem demokrasi ini, suara rakyat sangatlah penting.

Sehingga, beberapa alasan kenapa prabowo sulit memenangkan kontestasi pilpres di atas harus dijadikan sebuah bahan kajian serius bagi tim sukses. Sehingga, di pilpres 2024, ia benar-benar bisa berhasil meraup dominasi suara rakyat.

 

Leave a Reply

Top