Jakarta — Presiden Prabowo Subianto secara resmi melakukan reshuffle kabinet, termasuk mencopot Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Budi Gunawan, seiring tekanan publik yang meningkat akibat protes hajatan elit parlemen. Protes Memicu Momentum Reshuffle Gelombang kemarahan publik muncul setelah terungkap informasi bahwa anggota DPR menerima tunjangan perumahan Rp50 juta per bulan, hampir sepuluh kali UMP Jakarta. Protes yang berlangsung selama lima hari menelan korban jiwa dan lebih memicu kecaman atas kebijakan elit. Dictate Sistem: Sri Mulyani Dicopot Sri Mulyani, dikenal sebagai ekonom kredibel dan figur unggulan, digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Langkah ini penting karena memicu keraguan investor terhadap kredibilitas fiskal pemerintah. Reaksi Investor dan Pasar Pasar merespons negatif reshuffle ini: IHSG turun sekitar 1,3%, meski rupiah menguat. Ekonom memperingatkan potensi erosi pada stabilitas fiskal Indonesia, sebab Sri Mulyani selama ini dianggap sebagai pelindung disiplin keuangan negara. Optimisme dari Purbaya Secara resmi dilantik oleh Presiden Prabowo, Purbaya menyatakan target pertumbuhan ekonomi 8% “bukan hal yang mustahil” bila melibatkan kolaborasi antara sektor publik dan swasta. Quick Facts – Ringkasan Reshuffle Isu Utama Detail Menteri Dicopot Sri Mulyani Indrawati dan Budi Gunawan Pengganti Sri Mulyani Purbaya Yudhi Sadewa Pemicu Reshuffle Protes publik atas tunjangan elit parlemen Reaksi Pasar IHSG turun ~1,3%, rupiah menguat Tantangan ke Depan Menjaga kepercayaan investor dan stabilitas ekonomi Kesimpulan Reshuffle kabinet ini menandai momen kritis bagi pemerintahan Prabowo, yang kini menghadapi tantangan menjaga stabilitas ekonomi menghadapi tekanan publik dan pasar. Keputusan ini seakan menjadi sinyal awal perubahan arah kebijakan, namun risiko tergadap reputasi fiskal tidak dapat diabaikan.