You are here
Home > Berita Nasional >

Kritik Lewat Poster, 10 Mahasiswa UNS Ditangkap

Kritik Lewat Poster 10 Mahasiswa UNS Ditangkap
Bagikan Artikel Ini

Pojokjakarta.com – Polemik penangkapan mahasiswa kembali terjadi. Kali ini, penangkapan tersebut dirasakan oleh mahasiswa Universitas Negeri Semarang. 10 Mahasiswa UNS ditangkap setelah membentangkan poster dengan tajuk, “Pak Jokowi, tolong benahi KPK” dan “Tuntaskan pelanggaran HAM masa lalu”.

Dari pihak pemerintah, tindakan mahasiswa tersebut sangat disayangkan. Pasalnya hal tersebut dilakukan ketika Presiden sedang melakukan kunjungan ke UNS itu sendiri. Dari kritikan poster tersebut, akhirnya 10 mahasiswa UNS ditangkap dan dibawah untuk dilakukan pembinaan.

Bukan Ditangkap, Hanya Diberi Arahan

Dari keterangan yang diungkapkan oleh polisi, pihaknya menampik jika dituding melakukan penangkapan. Sebab, tujuan dari tindakan aparat tersebut adalah guna memberikan edukasi kepada mahasiswa tersebut agar benar ketika bertindak.

“Saat ini, dunia masih berada pada posisi Pandemi Covid-19, sehingga kegiatan apapun yang berpotensi terjadinya kerumunan, maka harus dilaporkan kepada polisi untuk diberi pengamanan.” Ungkap pihak kepolisian.

Mahasiswa yang ingin melakukan kritik pada dasarnya tidak masalah, asalkan sudah disampaikan pemberitahuan adanya kegiatan pada kepolisian terlebih dahulu. Sehingga, proses penangkapan tersebut hanya dilakukan sebagai sarana edukasi pada mahasiswa agar benar ketika menyampaikan aspirasi.

Meskipun demikian, tajuk berita yang beredar adalah polisi melakukan penangkapan pada mahasiswa yang melakukan kritik. Sehingga seolah-oleh pemerintah benar-benar anti kritik dan anti-demokrasi. Bahkan beberapa netizen mengatakan jika rezim ini lebih baru daripada orde baru.

Negara Mirip Orde Paling Baru

Ketua Bem UNS, Zakky memberikan kritik juga terhadap kejadian tersebut. Ia mengatakan jika pemerintah saat ini terasa menyalahi nilai-nilai dari demokrasi. Zakky mengungkapkan jika penangkapan, pelarangan, dan sejenisnya merupakan bentuk representasi dari ketakutan rezim terhadap kritik dan keluhan masyarakat.

Ia bahkan mengutip perkataan Sujiwo Tejo tentang ruang untuk mengeluh di negara ini sudah sulit didapatkan. Apalagi bagi seorang mahasiswa yang benar-benar sudah biasa melakukan kritik tajam pada pemerintah. Tentu hal tersebut dilakukan semata-mata untuk menyelaraskan fungsi check and balance pada pemerintah Indonesia.

Banyak pengalaman yang mengatakan jika pemerintah terlihat phobia terhadap kritik. Pemerintah saat ini sangat anti pada kritik. Sehingga banyak mahasiswa yang digelandang ke kantor polisi dengan alasan untuk diberi arahan.

Tentu saja, tindakan aparat yang seperti itu bisa membuat masyarakat merasa takut. Tidak ada ruang kritik yang aman. Semua pasang mata masyarakat merasakan ketakutan jika salah kritik malah dibawa ke kantor polisi dan dipenjara dengan tudingan pelanggaran UU ITE.

Pada dasarnya, 10 mahasiswa UNS ditangkap ini bukan kali pertama terjadi penangkapan mahasiswa. Sebelumnya, tindakan serupa juga terjadi di beberapa universitas yang mana ada kritik tajam yang mengarah pada pemerintah.

Adanya kejadian seperti ini, seharusnya bisa dijadikan pemerintah sebagai sebuah bentuk evaluasi. Kritik masyarakat harus dikelola dengan baik. Sebab hal tersebut sudah masuk pada ranah social trust pemerintah sendiri.

 

Leave a Reply

Top