Pojokjakarta.com – Fenomena Rojali atau yang memiliki kepanjangan Rombongan Remaja Liar semakin marak di bogor. Tercatat dari tahun 2020 sampai 2021 ini bahkan sudah memakan 6 korban meninggal dunia dan sisanya mengalami luka berat maupun ringan.
Aksi dalam Fenomena Rojali
Memakan korban jiwa dan korban luka-luka, tentu fenomena rojali ini keberadaannya semakin meresahkan. Sebenarnya apa yang mereka lakukan sehingga bisa mengakibatkan hal seperti itu?
Dalam aksinya, mereka menghadang truk yang melaju kencang di tengah jalan secara tiba-tiba. Bukan karena hal yang penting, melainkan hanya keperluan konten. Mereka melakukan hal ini tentu agar bisa viral dan menjadi terkenal di sosial media.
Ini dijelaskan oleh Kepala Polisi Resor Kota Bogor Komisaris Besar Susatyo Purnomo Condro dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa,
“Aksi mereka itu direkam kemudian diupload ke sosial media. Hal ini tentu memprihatinkan. Dimana mereka rela mempertaruhkan nyawa hanya demi sebuah konten”
Selain itu, Susatyo juga menjelaskan bahwa aksi ini sudah memakan korban yang cukup banyak. Terhitung awal tahun 2022, korban mengalami luka berat karena aksi tersebut. Kemudian pada tahun 2021, di tiga aksi tercatat semua korban meninggal dunia.
Sedangkan pada tahun 2020, terdapat 8 kejadian yang merenggut nyawa 3 orang, 2 lainnya mengalami luka berat, dan sisanya mengalami luka ringan.
Titik-Titik Rawan Fenomena Rojali Terjadi
Aksi Rojali yang terjadi di kota bogor ini biasanya terjadi pada titik-titik tertentu. Titik ini kemudian menjadi rawan korban meninggal dunia atau luka-luka karena aksi tersebut.
Beberapa titik yang menjadi tujuan dari para rombongan remaja liar melakukan aksi memberhentikan truk di antaranya yaitu: Jalan Soleh Iskandar, Jalan KS Tubun, kemudian Jalan Darul Quran, Jalan Pahlawan dan juga Jalan Abdullah Bin Nuh.
Tidak hanya meresahkan pengemudi truk dan juga para pelaku aksi, namun rojali ini juga bisa mengganggu para pengendara lainnya yang melintasi jalan tersebut.
Pasalnya ketika ada yang menghadang truk sedang melaju, bisa saja pengemudi membanting setir ke arah lain. Tentu ini akan membahayakan pengguna jalan yang lainnya.
Perlunya Pengawasan Orang Tua yang Lebih
Dengan adanya fenomena rojali yang terjadi di Bogor, tentu dapat ditarik kesimpulan bahwa perlunya pengawasan orang tua yang lebih kepada anaknya, terutama jika berusia remaja.
Karena hal-hal seperti itu bisa terjadi karena lepasnya pengawasan orang tua. Sedangkan remaja adalah masa-masa ingin mencoba hal baru dan eksplorasi, sehingga sesuatu yang nekat pun bisa mereka lakukan bahkan sampai taruhannya nyawa.
Kepala Polisi Resor Kota Bogor juga menegaskan bahwa perlunya tindakan preventif berupa edukasi kepada masyarakat yang memiliki anak remaja, bahwa menumpang pada truk terbuka itu tidak diperbolehkan, apalagi memberhentikannya secara mendadak.
Hal ini karena truk dengan muatan tertentu untuk berhenti secara mendadak bukanlah hal yang mudah. Jadi aksi tersebut tentu akan mengakibatkan korban yang meninggal secara sia-sia.