Aturan Makan 20 Menit, Tidak Jelas dan Tidak Berdasar!Berita Nasional by Liana Sandev - July 28, 2021July 28, 20210 Bagikan Artikel IniPojokjakarta.com – Di Jakarta, diberlakukan sebuah aturan khusus PPKM Level 4 di warung makan, yakni durasi makan 20 menit. Sehingga, habis maupun tidak, pembeli harus segera meninggalkan tempat.Bukannya terlihat sebagai aturan yang solutif, aturan makan 20 menit tersebut malah menjadi guyonan netizen. Selain itu, ada pakar yang mengatakan, “ada yang tahu landasan ilmiah waktu makan 20 menit ini?”Artinya, peraturan tersebut masih terlalu muda untuk diberlakukan. Belum matang sama sekali. Entah dari perspektif masyarakat maupun dari tinjauan ilmiah. Sehingga tidak salah jika masyarakat menjadikan aturan tersebut sebagai gurauan semata.Anies: Bisa! Insya AllahSalah satu pejabat publik yang tidak lepas dari meme warganet adalah Anies Baswedan. Gubernur Jakarta tersebut menjadi sorotan setelah menanggapi kritik dengan jawaban, “Bisa! Insya Allah.”Jawaban tersebut dilontarkan anies di akun Twitternya menanggapi postingan dari @alpokatmentega yang membagikan gambar pak Anies makan di warung dengan salah satu pembawa acara serial tv.Dimana, ada time yang 9 menit 8 detik dengan caption, “Pak Anies, waktu bapak untuk menghabiskan makanan sisa 9 menit 8 detik!”Tentu saja, tidak ada netizen yang akan menyangka gubernur yang kharismatik tersebut akan menjawab, “Bisa! Insya Allah”Gubernur tersebut tampaknya sangat santai dan cool menghadapi ragam meme yang dibuat oleh netizen. Entah apapun kebijakan yang akan diambil pemerintah, tentu kebaikan masyarakat yang akan diusahakan.Dokter, “Landasan Ilmiahnya apa?’Beberapa dokter yang sedikit skeptis juga menanggapi aturan tersebut. Pasalnya, tidak ada sebuah aturan dimana Covid-19 tidak akan tertular di warung makan jika makan tidak lebih dari 20 menit.Artinya, angka tersebut diputuskan secara tidak jelas. Sehingga, masyarakat benar-benar menganggap aturan tersebut hanya sebuah main-main saja.Ada sedikit mis-relevansi dari aturan tersebut. Sebab, tidak ada ahli yang mengatakan jika waktu makan 20 menit bisa mencegah seseorang tertular Covid-19 di warung makan.Penyebab utama Covid-19 menjalar adalah berkerumun. Dengan kata lain, meskipun tidak menghabiskan waktu lebih dari 20 menit, tapi terjadi kontak dengan orang yang terjangkit, maka ada kemungkinan besar bisa tertular.Sehingga, aturan tersebut semakin rancu. Meskipun pemerintah ingin memberikan aturan yang spesifik, aturan makan 20 menit di warung makan adalah sebuah aturan yang sulit untuk diterapkan.Bahkan kita tidak ada yang tahu rata-rata waktu makan setiap orang. Sebab relatif, kadang pada situasi dan kondisi tertentu waktu makan bisa sangat cepat. Hal tersebut disebabkan karena kebutuhan dan urgensi acara yang akan dilakukan setelah makan.Pengawasan yang Tidak JelasJangankan dilihat dari kacamata ilmiah, kita lihat dari kacamata umum saja, aturan tersebut tidak bisa diawasi secara jelas. Ketika seseorang masuk ke dalam warung makan, maka tidak ada yang tahu kecuali pemilik atau petugas warung.Artinya, tidak ada mekanisme pengawasan yang bisa diterapkan secara efektif dalam pemberlakukan aturan tersebut. Sehingga, masyarakat akan semakin bingung jika harus menerapkan aturan tersebut.Hampir mustahil jika penjaga warung mengusir secara eksplisit pada pengunjungnya. Apalagi jika mereka masih menikmati makanan yang mereka pesan.Sehingga, aturan semacam ini perlu ditinjau kembali oleh pemerintah DKI Jakarta. Seperti yang sudah dikatakan oleh Kasatpol PP Jakpus: Tak mungkin kami awasi setiap warteg.Nah artinya, pengawasan tersebut memang sedikit mustahil bisa diterapkan. Sebab memang akan sangat sulit diterapkan aplikasi jika penjaga warung tidak bisa diajak berkoordinasi.Mungkin beberapa warung bisa menerapkan aturan secara tertulis. Namun untuk proses tindak tegas tentu saja akan sulit dilakukan. Bukan karena mustahil, sebab karena pemilik warung tidak ingin mengganggu pelanggan yang sedang memesan makanan.Solusi, “Bawa Pulang Saja”Daripada memberlakukan hal pengawasan tersebut, maka lebih baik tidak boleh ada orang yang makan di tempat. Harus dibawa pulang agar tidak ada kerumunan di warung makan.Beberapa pengamat juga mengatakan jika tidak mungkin makan 20 menit, maka bawa pulang saja. Sehingga tidak akan ada masalah kerumunan lagi di warung tersebut.Meskipun polisi meminta pemilik warung untuk membawa pulang atau mengumumkan jika maksimal makan 20 menit, maka hal tersebut tidak akan efektif. Apalagi pemilik warung juga tidak akan menghafalkan semua pengunjung akan masuk ke warung mereka.Epidemiolog mengatakan jika varian delta bisa menular dalam waktu 5 menit saja. Artinya, aturan tersebut sama sekali tidak efektif untuk dijalankan. Melihat situasi dan kondisi yang ada, aturan tersebut tidak bisa maksimal diterapkan.Beberapa orang mencoba makan 20 di warung, mereka mengatakan jika waktu tersebut sangatlah cepat. Apalagi jika dihitung dari perkiraan waktu makan rata-rata di warung makan.Bima Arya selaku walikota Bogor mencoba melakukan hal tersebut. Hal yang didapatkan adalah, “Rasanya seperti kesiangan sahur,”Tentu saja tergesa-gesa dan malah membuat momen makan tidak nyaman. Bahkan sangat bertentangan waktu proses makan yang sehat. Jangan sampai, aturan tersebut membuat pencernaan masyarakat bekerja lebih ekstrim.Perlu Dilakukan Peninjauan KembaliAturan-aturan semacam ini mungkin saja memiliki maksud yang baik. Namun secara realita dan ilmiah, hal tersebut sama sekali tidak bisa dimaklum. Sehingga aturan makan 20 menit harusnya kembali ditinjau.Pemerintah seharusnya mengeluarkan aturan-aturan yang logis dan berdasarkan tinjauan ilmiah yang kuat. Jangan sampai, masyarakat menilai atutan seakan-akan cemen dan akhirnya dijadikan bahan guyonan dan meme di media sosial.