Australia larang lagu buatan AI masuk chart musik resminya. Kebijakan ini diterapkan Australian Recording Industry Association (ARIA). Hanya lagu yang dibuat secara substansial oleh manusia diperbolehkan masuk tangga lagu. Aturan ini menandai langkah besar industri musik Australia. Kebijakan Australia larang lagu buatan AI masuk chart musik ini mulai berlaku akhir Agustus. Aturan tercantum dalam pembaruan kode praktik ARIA Charts. Perubahan ini dipicu oleh polemik satu lagu populer. Lagu cover Madonna berjudul "Like a Prayer" jadi sorotan utama. Pemicu Lahirnya Aturan Baru Kontroversi bermula dari lagu cover yang viral di Australia. Sebuah insiden nyata mendorong ARIA membuat kebijakan tegas ini. Lagu Cover Madonna yang Kontroversial DJ asal Australia, Josh Fawaz, membawakan ulang lagu "Like A Prayer". Ia menggunakan vokal dan drum hasil AI-generatif. Lagu ini sempat memuncaki chart kategori Dance ARIA. Di kategori Single umum, lagu bertahan hingga 16 minggu. Spotify mencatat lagu ini diputar 48 juta kali. Fawaz akhirnya mencantumkan kredit penggunaan AI setelah dikritik publik. Tekanan dari Industri Musik Global Sejumlah organisasi musik dunia turut mendesak perubahan aturan. International Federation of the Phonographic Industry mengusulkan standar serupa. Asosiasi Industri Rekaman Amerika juga mendukung langkah ini. Prinsip global menegaskan lagu harus dibuat substansial oleh manusia. Tekanan kolektif ini mempercepat lahirnya kebijakan baru ARIA. Isi Aturan Baru ARIA Aturan Australia larang lagu buatan AI masuk chart musik cukup rinci. ARIA membedakan dua kategori penggunaan teknologi AI dalam musik. Syarat Kelayakan Masuk Chart Lagu wajib ditulis oleh manusia sebagai syarat utama. Vokal utama dan instrumen inti harus dimainkan manusia. Musik yang sepenuhnya dihasilkan AI otomatis tidak memenuhi syarat. Lagu semacam ini juga tidak berhak ikut ARIA Awards. Label wajib mencantumkan keterangan penggunaan teknologi AI pada lagu. AI Sebagai Alat Bantu Masih Diizinkan ARIA tidak melarang total pemanfaatan teknologi AI. Musik yang menggunakan AI sebagai alat bantu tetap diperbolehkan. Syaratnya, pilihan kreatif utama tetap dikendalikan manusia. Lagu juga harus menggunakan layanan AI yang legal. AI yang dilatih tanpa izin dari karya seniman dilarang. Alasan di Balik Kebijakan Ini CEO ARIA Annabelle Herd menjelaskan alasan utama kebijakan tersebut. Nilai kemanusiaan dalam karya seni menjadi prioritas utama. Herd menyatakan aturan ini mendorong sifat manusiawi dalam seni. Ia menegaskan chart yang menghargai AI tanpa izin merusak industri. ARIA ingin melindungi mata pencaharian musisi dan pencipta lagu. Komposer Alexis Weaver turut menyambut baik kebijakan ARIA ini. Weaver menilai langkah ini menghargai kreativitas asli manusia. Dampak bagi Industri Musik Australia Kebijakan Australia larang lagu buatan AI masuk chart musik membawa dampak luas. Industri musik kini punya kerangka kepatuhan yang lebih jelas. Musisi tetap bisa memanfaatkan AI sebagai alat produksi. Namun, kendali kreatif utama harus tetap berada di tangan manusia. Label rekaman kini wajib transparan soal penggunaan teknologi AI. Aturan ini juga berpotensi memengaruhi standar industri musik global lainnya. Negara lain bisa saja mengikuti langkah serupa ke depannya. Kebijakan ARIA menjadi contoh nyata respons industri terhadap AI. Langkah ini menunjukkan pentingnya menjaga orisinalitas karya musik. Australia larang lagu buatan AI masuk chart musik demi melindungi kreativitas manusia. Kebijakan ini diharapkan menginspirasi industri musik dunia lainnya.