You are here

Perang AS-Israel vs Iran Mengancam Pangan, Farmasi, dan Tambang: Dampak Nyata bagi Indonesia

Perang AS Israel vs Iran Mengancam Pangan, Farmasi, dan Tambang Dampak Nyata bagi Indonesia
Bagikan Artikel Ini

Perang AS-Israel vs Iran mengancam pangan, farmasi, dan tambang secara bersamaan. Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan serentak ke Iran dalam skala besar. Konflik ini bukan hanya soal perang di Timur Tengah. Dampaknya merambat jauh hingga ke dapur rumah tangga di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Bagi banyak orang, perang terasa jauh dan tidak berkaitan. Namun data menunjukkan sebaliknya. Selat Hormuz yang kini dikuasai Iran merupakan jalur vital sekitar 20,1 juta barel minyak per hari, atau hampir seperlima pasokan minyak global. Ketika jalur ini terganggu, seluruh rantai pasokan dunia ikut terguncang.

Ancaman Nyata terhadap Ketahanan Pangan Global

Dampak paling langsung dirasakan sektor pertanian. Setelah serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026, Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons balasan. Akibatnya, lima dari enam pabrik pupuk di Bangladesh dilaporkan berhenti beroperasi pada awal Maret. Ini baru permulaan dari krisis yang lebih besar.

Pupuk nitrogen menjadi komoditas paling terdampak. Pupuk berbasis nitrogen merupakan produk turunan utama dari gas alam. Jenis pupuk ini berfungsi sebagai nutrisi primer yang mendorong pertumbuhan tanaman. Tanpa pupuk, panen musim semi 2026 terancam gagal.

India termasuk negara paling rentan karena mengimpor dua pertiga kebutuhan pupuk nitrogennya dari kawasan Teluk. Kekurangan pupuk berpotensi memicu lonjakan tajam biaya produksi beras, gandum, dan bahan pangan pokok lainnya. Lebih dari satu miliar jiwa bergantung pada produksi pangan India.

Brasil, salah satu eksportir pertanian terbesar dunia, juga bergantung pada urea dari kawasan Teluk untuk memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan nitrogennya. Gangguan berkepanjangan dapat mengancam hasil panen kedelai dan jagung. Dampaknya akan terasa di pasar pangan global.

Seorang analis komoditas dari StoneX menyatakan bahwa ini adalah waktu paling buruk untuk gangguan pasokan pupuk. Dalam empat minggu ke depan, dunia memasuki musim tanam semi yang sangat membutuhkan pupuk nitrogen. Keterlambatan berarti hasil panen berkurang drastis.

Harga pangan dipastikan melonjak. Seorang ekonom dari Commonwealth Bank of Australia mencatat bahwa harga pupuk telah melonjak hampir 100 dolar AS per metrik ton sejak pecahnya konflik. Menurutnya, dampak serangan AS-Israel terhadap Iran bagi pasar pupuk global lebih berat dibandingkan saat Rusia menyerang Ukraina.

Industri Farmasi Terancam Kekurangan Bahan Baku

Sektor farmasi juga berada dalam bahaya. Industri nikel Indonesia sangat bergantung pada pasokan sulfur dari Timur Tengah, yang mencapai sekitar 75 persen kebutuhan produksinya. Sulfur bukan hanya bahan baku tambang. Ia juga merupakan komponen krusial dalam produksi obat-obatan dan bahan kimia industri.

Sulfur digunakan dalam pembuatan asam sulfat. Asam sulfat dibutuhkan dalam produksi berbagai jenis obat, vitamin, dan suplemen. Jika pasokan terhenti, pabrik farmasi tidak bisa berproduksi normal. Harga obat-obatan berpotensi naik signifikan di pasar domestik.

Gangguan logistik memperparah situasi ini. Perusahaan pelayaran global seperti Hapag-Lloyd dan Maersk telah menangguhkan operasi mereka di kawasan Timur Tengah. Pengiriman bahan baku farmasi pun ikut terhambat dari berbagai penjuru dunia.

Sektor Tambang Indonesia Ikut Terguncang

Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia tidak luput dari ancaman. Produsen nikel di Indonesia berpotensi terdampak karena ketergantungan tinggi pada pasokan sulfur dari Timur Tengah. Jika gangguan pengiriman berlanjut, sejumlah pabrik dapat mengurangi produksi.

Indonesia berada dalam paradoks besar: menjadi pemain utama nikel peringkat pertama dunia, namun cadangan minyak dan gasnya hanya menyumbang 0,2 persen dari total cadangan dunia. Ketergantungan pada impor energi membuat sektor tambang rentan.

Produksi nikel membutuhkan energi besar. Ketika harga energi melonjak akibat konflik, biaya operasional tambang ikut membengkak. Sektor-sektor padat energi seperti petrokimia, logam dasar, semen, dan pupuk menjadi yang paling rentan terhadap fluktuasi harga ini. Nikel tidak terkecuali.

Dampak terhadap Ekonomi Indonesia secara Keseluruhan

Indonesia menanggung beban berlapis dari konflik ini. Indonesia mengonsumsi sekitar 1,7 juta barel minyak per hari, sementara produksi domestik hanya mampu menyuplai sekitar 860 ribu barel per hari. Separuh lebih kebutuhan energi harus dipenuhi dari impor.

Asumsi harga minyak dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar USD 70 per barel. Setiap kenaikan harga di atas angka tersebut langsung memperburuk defisit anggaran negara. Ketika harga minyak menyentuh USD 100, lubang fiskal menganga lebar.

Anggota Komisi IV DPR Johan Rosihan mengingatkan pemerintah bahwa kenaikan harga minyak dunia akan mempengaruhi biaya distribusi dan biaya produksi pangan dalam negeri. Ini efek domino yang tidak bisa dihindari.

Inflasi yang meningkat akan menggerus daya beli masyarakat. Pengeluaran rumah tangga untuk energi dan transportasi akan membengkak, mengurangi alokasi untuk kebutuhan lain seperti pendidikan dan kesehatan.

Respons Pemerintah Indonesia

Pemerintah tidak tinggal diam menghadapi situasi ini. Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan tegas kepada para menteri untuk segera memastikan ketersediaan pasokan energi nasional dan mempersiapkan berbagai langkah mitigasi.

Diversifikasi pasokan menjadi strategi utama. Pemerintah memutuskan mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat dan negara-negara lain yang tidak bergantung pada jalur Selat Hormuz, seperti Angola dan Brasil.

Di sisi pangan, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi menegaskan bahwa Indonesia memiliki cadangan pangan sebesar 4,2 juta ton. Konflik ini dinilai sebagai momentum untuk mendorong kemandirian pangan nasional. Indonesia didorong tidak lagi bergantung pada bahan impor seperti gandum.

Perang AS-Israel vs Iran mengancam pangan, farmasi, dan tambang dalam satu waktu yang bersamaan. Ini bukan sekadar konflik geopolitik di negeri orang. Ini adalah krisis yang merembet ke meja makan, rak apotek, dan lubang tambang di seluruh dunia. Indonesia perlu bergerak cepat memperkuat kemandirian di tiga sektor strategis tersebut. Ketergantungan pada rantai pasok global yang rapuh harus segera dikurangi sebelum dampaknya semakin dalam dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

 

 

 

Leave a Reply

Top