Organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, kini memasuki fase baru dalam kepemimpinannya. Rapat Pleno Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang digelar di Hotel Sultan Jakarta pada Selasa, 9 Desember 2025, menetapkan KH Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU atau Pj Ketum PBNU. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Rais Syuriyah PBNU, Prof Mohammad Nuh. Penunjukan Zulfa Mustofa sebagai Pj Ketum PBNU terjadi di tengah dinamika internal organisasi. Sebelumnya, Wakil Ketua Umum ini menggantikan posisi Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya yang diminta mengundurkan diri oleh Syuriyah PBNU. Zulfa akan memimpin PBNU hingga pelaksanaan Muktamar yang dijadwalkan pada tahun 2026. Profil KH Zulfa Mustofa: Dari Santri Kajen hingga Puncak Kepemimpinan NU Lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977, KH Zulfa Mustofa merupakan putra
Tag: pbnu
Ketua PBNU Diminta Mundur: Dinamika Internal Organisasi Islam Terbesar di Indonesia
Organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), tengah mengalami dinamika internal yang menarik perhatian publik. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya diminta mengundurkan diri dari jabatannya dalam waktu tiga hari setelah adanya risalah rapat harian Syuriyah PBNU yang beredar. Apa latar belakangnya sehingga Ketua PBNU diminta mundur? Latar Belakang Permintaan Pengunduran Diri Rapat harian Syuriyah PBNU yang digelar di Hotel Aston City Jakarta pada 20 November 2025 dihadiri oleh 37 dari 53 pengurus harian Syuriyah, dengan KH Miftachul Akhyar selaku Rais Aam memimpin pertemuan. Hasil rapat tersebut menghasilkan keputusan penting yang mendesak pengunduran diri Gus Yahya. Ketua PBNU diminta mundur dalam waktu tiga hari. Permintaan mundur ini dilatarbelakangi oleh beberapa poin penting yang menjadi