AS akui kewalahan perang lawan Iran menjadi sorotan dunia internasional. Pengakuan mengejutkan ini disampaikan dalam rapat tertutup di Capitol Hill pada 3 Maret 2026. Pejabat militer AS mengungkap bahwa sistem pertahanan udara mereka tidak mampu mencegat seluruh drone yang diluncurkan Iran. Fakta ini muncul di tengah konflik bersenjata yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah. Konflik ini bermula ketika serangan gabungan AS dan Israel menghantam Teheran serta sejumlah kota lain di Iran pada 28 Februari 2026. Operasi tersebut diberi nama Operation Epic Fury oleh AS, sementara Israel menyebutnya Operation Roaring Lion. Serangan berskala besar ini membuka babak baru perang langsung antara dua negara yang telah lama bersitegang. Drone Iran Jadi Ancaman Nyata Dalam rapat tertutup itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan AS Dan Caine mengakui bahwa sistem pertahanan udara Amerika tidak akan mampu menangkal semua drone yang diluncurkan Iran. Ini bukan pengakuan kecil. Ini adalah bukti nyata bahwa Iran telah mempersiapkan senjata yang mampu menembus perisai pertahanan AS. Drone serang satu arah Iran, terutama jenis Shahed, menjadi tantangan besar bagi pertahanan udara AS karena pola terbangnya yang sangat berbeda dari rudal balistik konvensional. Drone ini terbang rendah, lambat, dan dalam jumlah besar. Sistem pertahanan AS dirancang untuk menghadapi rudal cepat, bukan gelombang drone massal. Di sisi lain, stok rudal pencegat AS seperti Patriot dan SM-6 mulai menipis akibat penggunaan masif selama konflik berlangsung. Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa sebagian besar persediaan rudal Patriot AS sebelumnya telah digunakan untuk mendukung pertahanan udara Ukraina selama empat tahun perang dengan Rusia. AS kini menghadapi dua front yang menguras persediaan senjata secara bersamaan. Stok Senjata Menipis, Perang Makin Berat Pentagon bahkan telah memperingatkan Presiden Trump bahwa operasi militer yang berkepanjangan di Iran akan membawa risiko serius, termasuk tingginya biaya pengisian kembali stok amunisi yang terus menipis. Peringatan ini menunjukkan bahwa AS tidak siap untuk perang jangka panjang. Logistik menjadi kelemahan yang nyata. Seorang peneliti senior dari lembaga pemikir Stimson Center menyatakan bahwa AS tidak bisa mengandalkan intersepsi rudal selamanya dalam menangkis serangan balasan Iran. Ia mengingatkan bahwa laju operasi saat ini kemungkinan tidak dapat dipertahankan dalam beberapa pekan ke depan. Produksi senjata pengganti pun membutuhkan waktu berbulan-bulan. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan bahwa hanya 27 persen warga Amerika yang menyetujui serangan tersebut, sementara 43 persen menolaknya. Dukungan publik yang rendah memperlemah posisi politik Trump. Perang ini tidak hanya mahal secara militer, tetapi juga secara politik. Perang yang Penuh Risiko AS akui kewalahan perang lawan Iran menunjukkan betapa kompleksnya konflik ini. Iran berhasil membuktikan bahwa mereka punya kemampuan asimetris yang efektif. Drone murah mampu menguras pertahanan udara bernilai miliaran dolar. Banyak pengamat menilai bahwa konflik ini berisiko menjadi bencana yang jauh lebih luas, lebih dalam, dan lebih mematikan dibandingkan invasi Irak tahun 2003. Dunia kini menantikan langkah selanjutnya. Akankah AS menemukan solusi atas kelemahan pertahanannya? Atau justru konflik ini akan semakin dalam dan tak terkendali? Yang jelas, pengakuan kewalahan ini adalah sinyal penting bahwa perang melawan Iran jauh lebih berat dari perkiraan awal.