Kirill Dmitriev: “Ini Baru Awal dari Krisis Energi Terbesar di Dunia”Berita InternasionalPolitik by Algi Zaki - March 12, 2026March 12, 20260 Peringatan Soal Krisis Energi Global Tokoh ekonomi Rusia Kirill Dmitriev menyampaikan peringatan serius mengenai masa depan pasokan energi dunia. Ia mengatakan bahwa kondisi yang terjadi saat ini kemungkinan baru merupakan awal dari krisis energi yang jauh lebih besar. Menurut Kirill Dmitriev, dunia sedang menghadapi tekanan besar terhadap pasokan energi akibat konflik geopolitik, ketegangan perdagangan, serta perubahan dalam kebijakan energi di berbagai negara. “Ini hanyalah awal dari krisis energi terbesar yang pernah ada,” kata Dmitriev dalam pernyataannya yang kemudian menarik perhatian berbagai kalangan ekonomi global. Ketegangan Geopolitik Picu Kekhawatiran Peringatan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia, termasuk konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Israel. Konflik tersebut dinilai dapat mengganggu stabilitas pasokan energi global, terutama minyak dan gas yang menjadi sumber
Indonesia Terancam Darurat Energi Saat Perang Iran Memanas, Harga Minyak Dunia MelonjakBerita InternasionalBerita Nasional by Algi Zaki - March 4, 2026March 9, 20260 Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Energi Indonesia Konflik yang memanas di Timur Tengah akibat perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat mulai menimbulkan dampak serius terhadap pasar energi global. Salah satu efek paling terasa adalah lonjakan harga minyak dunia yang melampaui 100 dolar AS per barel, level tertinggi sejak beberapa tahun terakhir. Kenaikan tajam ini langsung menimbulkan kekhawatiran di berbagai negara, termasuk Indonesia. Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian besar kebutuhan energi, lonjakan harga minyak global berpotensi memberikan tekanan besar pada anggaran negara dan stabilitas harga bahan bakar dalam negeri. Para analis energi menilai bahwa jika konflik di Timur Tengah berlangsung lebih lama, maka krisis energi global bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan risiko nyata yang harus dihadapi banyak negara. Indonesia Masih Bergantung pada