You are here
Home > Pendidikan >

Memperkuat fondasi literasi lewat koding dan ai sejak usia dini

memperkuat fondasi literasi lewat koding dan ai sejak usia dini
Bagikan Artikel Ini

Fondasi literasi anak tidak lagi cukup dipahami sebagai kemampuan mengenali huruf, membaca kalimat, dan menulis jawaban. Di tengah perangkat digital, mesin pencari, rekomendasi konten, serta kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), anak juga perlu belajar bertanya, menyusun alasan, mengenali pola, memeriksa informasi, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Koding dapat menjadi salah satu jalan untuk melatih proses berpikir tersebut, sedangkan literasi AI membantu anak memahami bahwa teknologi punya manfaat, batas, dan dampak bagi orang lain.

Arah ini mulai terlihat jelas dalam kebijakan pendidikan Indonesia. Pada 16 September 2025, Kemendikdasmen mengumumkan Keputusan Menteri tentang pedoman implementasi koding dan kecerdasan artifisial pada PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Mulai tahun pelajaran 2025/2026, coding dan AI menjadi mata pelajaran pilihan bagi siswa SD kelas 5, SMP, dan SMA. Namun, penguatan fondasi sejak usia dini bukan berarti anak PAUD harus terus-menerus menatap layar atau dipaksa menulis bahasa pemrograman. Yang lebih penting ialah pengalaman belajar yang sesuai perkembangan anak, didampingi guru dan keluarga, serta tetap menempatkan literasi, numerasi, permainan, dan interaksi manusia sebagai inti.

Mengapa literasi perlu diperkuat sejak usia dini?

Usia dini adalah masa ketika anak membangun cara memahami dunia. UNESCO dalam working paper tahun 2025 menyatakan fondasi literasi dan numerasi terbentuk sejak lahir hingga usia 8 tahun. Artinya, pengalaman anak saat mendengar cerita, berbicara dengan orang dewasa, bermain menyusun benda, mengenali urutan, dan mencoba memecahkan masalah dapat memberi pengaruh besar pada kesiapan belajarnya di tahap berikutnya.

Dalam konteks ini, literasi bukan sebatas mengeja. Anak membutuhkan kosakata untuk menyampaikan gagasan, kemampuan mendengarkan, kebiasaan bertanya, serta rasa ingin tahu. Numerasi pun bukan hanya hafalan angka, melainkan kemampuan melihat pola, membandingkan, mengurutkan, memperkirakan, dan memahami hubungan sebab-akibat.

Lingkungan digital sudah hadir lebih awal

OECD pada 2025 menyoroti bahwa anak-anak terpapar lingkungan digital pada usia yang sangat dini. Sekitar usia 10 tahun, 93% anak telah memiliki koneksi internet dan sekitar 70% memiliki telepon pintar. Temuan ini tidak otomatis berarti semua anak harus menggunakan teknologi lebih banyak, tetapi menunjukkan bahwa pendidikan tidak dapat menunggu hingga remaja untuk membicarakan cara menggunakan teknologi dengan aman dan bernalar.

Jika anak bertemu konten digital tanpa bekal, ia berisiko hanya menjadi pengguna pasif. Sebaliknya, fondasi literasi yang baik membantu anak membedakan cerita dan fakta, menyebutkan alasan, meminta bantuan saat bingung, serta memahami bahwa tidak semua yang muncul di layar harus dipercaya atau ditiru.

Koding dan AI sebaiknya dipahami sebagai penguat cara berpikir, bukan pengganti membaca, bermain, berbicara, bergerak, dan berinteraksi dengan manusia.

Pesan tersebut penting bagi orang tua di Jakarta maupun daerah lain yang menghadapi keseharian serba cepat. Waktu layar sering menjadi jalan praktis ketika orang tua bekerja atau menempuh perjalanan jauh. Namun, kualitas pendampingan, percakapan singkat yang konsisten, dan pilihan aktivitas di rumah tetap dapat menjadi penyangga utama literasi anak.

Koding bukan semata belajar membuat aplikasi

Ketika mendengar kata koding, sebagian orang membayangkan anak harus menguasai komputer canggih, mengetik banyak simbol, atau membuat aplikasi. Pemahaman ini terlalu sempit. Pada tahap awal, koding dapat dikenalkan melalui berpikir komputasional: memecah masalah menjadi bagian kecil, mencari pola, membuat urutan langkah, mencoba solusi, lalu memperbaiki kesalahan.

Kemendikdasmen telah menegaskan sejak akhir 2024 bahwa coding dan AI bukan sekadar alat teknologi, melainkan keterampilan penting bagi generasi muda. Penekanannya relevan karena anak tidak cukup hanya mengetahui cara memakai aplikasi. Mereka perlu memahami logika di balik instruksi dan menyadari bahwa teknologi dibuat manusia untuk tujuan tertentu.

Contoh belajar tanpa perangkat

Pendekatan unplugged, atau belajar tanpa perangkat digital, sangat berguna terutama bagi anak usia dini. Guru dan orang tua dapat memulai dari permainan sederhana yang tidak menambah ketergantungan pada layar.

  • Mengajak anak memberi instruksi arah kepada teman untuk mencapai titik tertentu: maju, mundur, belok kiri, dan belok kanan.
  • Menyusun kartu gambar kegiatan pagi hari agar anak memahami urutan atau algoritme sederhana.
  • Membuat pola dengan balok, daun, tutup botol, atau benda aman lain, lalu meminta anak meneruskan pola tersebut.
  • Mencari beberapa cara untuk menyelesaikan permainan, kemudian membicarakan cara mana yang lebih jelas dan mengapa.
  • Mengajak anak memperbaiki instruksi yang keliru tanpa menyalahkan, sehingga kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses belajar.

Aktivitas seperti ini tetap membutuhkan bahasa. Anak belajar mengucapkan instruksi secara runtut, mendengar respons, dan menjelaskan alasannya. Di situlah hubungan koding dengan literasi menjadi nyata: logika harus diterjemahkan menjadi kata-kata yang dapat dipahami orang lain.

Saat anak lebih besar dan sekolah memiliki kesiapan, pembelajaran dapat berkembang ke alat digital yang sesuai. Namun, bahasa pemrograman tertentu bukan tujuan utama untuk semua anak. UNESCO dalam asesmen kesiapan AI 2025 juga menekankan integrasi konsep AI sejak usia dini dengan perhatian pada berpikir komputasional dan berpikir kritis, bukan hanya pada penguasaan bahasa pemrograman tertentu.

AI literacy: mengenal manfaat, batas, dan tanggung jawab

Literasi AI tidak berarti anak harus memahami seluruh cara kerja model AI yang kompleks. Untuk tahap awal, anak dapat diperkenalkan pada ide sederhana: ada teknologi yang mengenali pola dari data, memberi rekomendasi, menjawab pertanyaan, atau menghasilkan teks dan gambar. Karena dibuat dan digunakan manusia, hasilnya juga dapat keliru, tidak lengkap, atau tidak sesuai kebutuhan.

UNESCO menekankan bahwa literasi AI bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga kesadaran kritis dan etis. Anak perlu dibiasakan bertanya: dari mana informasi ini berasal, apakah jawabannya masuk akal, apakah ada data pribadi yang tidak boleh dibagikan, dan apakah penggunaan teknologi ini adil bagi orang lain?

Pembiasaan yang dapat dimulai dari percakapan

  1. Ajarkan jeda sebelum percaya. Ketika anak melihat jawaban atau gambar dari internet maupun AI, ajak ia tidak langsung menganggapnya benar. Minta anak menjelaskan apa yang ia pahami dan bagian mana yang masih meragukan.
  2. Bedakan bantuan dan penggantian usaha. Teknologi dapat membantu mencari ide, menjelaskan istilah, atau merapikan langkah. Namun, anak tetap perlu membaca, mencoba, menulis, dan menyampaikan pemikirannya sendiri.
  3. Jaga data pribadi. Anak perlu mengetahui bahwa nama lengkap, alamat, nomor kontak, foto pribadi, kata sandi, dan informasi keluarga tidak semestinya dibagikan sembarangan pada layanan digital.
  4. Latih empati digital. Anak perlu memahami bahwa kata, gambar, dan komentar di ruang digital dapat berdampak pada orang lain. Bercanda, menyebarkan gambar, atau menyalin karya tetap perlu mempertimbangkan izin dan perasaan pihak lain.
  5. Gunakan pendampingan manusia. Untuk anak, pengalaman belajar dengan AI sebaiknya menjadi bahan dialog bersama guru atau orang tua, bukan aktivitas yang dibiarkan berjalan sendiri.

UNICEF dalam rilis 2026 mengingatkan bahwa anak-anak mengadopsi teknologi AI lebih cepat daripada orang dewasa. Karena itu, AI literacy perlu dibangun bukan hanya untuk anak, tetapi juga bagi pendampingnya. Orang tua tidak harus menjadi ahli teknologi untuk memulai. Sikap terbuka untuk belajar, bertanya, dan menetapkan aturan penggunaan yang masuk akal adalah langkah yang bernilai.

Arah kebijakan Indonesia: dari PAUD sampai pendidikan menengah

Indonesia telah mengambil langkah kebijakan untuk memperkuat pembelajaran digital secara lebih terarah. Pedoman nasional koding dan AI yang diumumkan Kemendikdasmen pada 16 September 2025 mencakup PAUD hingga pendidikan menengah. Keberadaan pedoman ini penting karena memperjelas bahwa pembelajaran tidak semata bergantung pada inisiatif masing-masing sekolah, melainkan menjadi bagian dari arah pendidikan nasional.

Untuk jenjang sekolah, coding dan AI mulai tahun pelajaran 2025/2026 menjadi mata pelajaran pilihan pada SD kelas 5, SMP, dan SMA. Status sebagai mata pelajaran pilihan perlu dipahami secara tepat: sekolah dan peserta didik dapat menyesuaikan pelaksanaan dengan kesiapan, konteks, serta dukungan yang tersedia. Hal ini juga mengingatkan publik agar tidak mengukur kualitas sekolah hanya dari seberapa cepat memakai perangkat atau aplikasi tertentu.

PAUD tetap berorientasi pada perkembangan anak

Pada 11 Februari 2025, Kemendikdasmen mendorong pembelajaran coding dan matematika sejak usia dini di PAUD. Dorongan tersebut sejalan dengan gagasan bahwa fondasi literasi digital dan numerasi dibangun jauh sebelum pendidikan menengah. Namun, penerapannya perlu menjaga karakter pendidikan anak usia dini: belajar melalui bermain, eksplorasi, gerak, cerita, lagu, benda konkret, dan hubungan yang hangat.

Dalam praktiknya, pengenalan konsep tidak harus berupa pelajaran formal yang panjang. Guru dapat memasukkan urutan, pola, klasifikasi, sebab-akibat, dan pemecahan masalah ke dalam kegiatan sehari-hari. Anak yang menyusun cerita bergambar secara berurutan, misalnya, sedang berlatih mengorganisasi ide. Anak yang mencoba kembali rute permainan setelah salah arah sedang belajar melakukan perbaikan.

Program Bina Talenta Indonesia juga diarahkan untuk menguatkan talenta murid dan kapasitas guru di bidang STEM, koding, serta AI. Program ini disebut selaras dengan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 tentang kurikulum PAUD, pendidikan dasar, dan menengah. Bagi masyarakat, pesan utamanya adalah pengembangan talenta tidak dapat dipisahkan dari penguatan pendidik dan kurikulum yang relevan.

Guru adalah penentu kualitas, bukan sekadar perangkat

Keberhasilan koding dan AI di sekolah sangat bergantung pada guru. Kemendikdasmen menyebut telah melatih 55 ribu guru dan melibatkan 38% satuan pendidikan. Angka ini menunjukkan adanya langkah penguatan kapasitas dan perluasan ekosistem, sekaligus menegaskan bahwa proses implementasi masih membutuhkan kerja berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih merata.

Perangkat yang tersedia tidak otomatis menghasilkan pembelajaran yang bermakna. Guru diperlukan untuk memilih aktivitas yang sesuai usia, menjelaskan konsep dengan bahasa sederhana, menghubungkan teknologi dengan pelajaran lain, memeriksa pemahaman murid, serta menjaga suasana kelas yang aman. Guru juga dibutuhkan untuk memastikan anak tidak hanya menerima jawaban instan.

Apa yang perlu diperkuat dalam pengembangan guru?

  • Pemahaman pedagogis. Guru perlu mengetahui kapan teknologi membantu tujuan belajar dan kapan aktivitas tanpa layar lebih tepat digunakan.
  • Kemampuan konseptual. Fokusnya bukan hanya mengoperasikan aplikasi, tetapi memahami logika, data, pola, keterbatasan AI, dan cara mengajarkannya secara bertahap.
  • Etika dan perlindungan anak. Guru perlu memiliki kepekaan terhadap privasi, keamanan data, konten yang sesuai usia, serta risiko bias dan misinformasi.
  • Desain asesmen. Penilaian perlu melihat proses berpikir, kerja sama, kemampuan menjelaskan, dan upaya memperbaiki kesalahan, bukan sekadar hasil akhir.
  • Kolaborasi dengan orang tua. Sekolah perlu menyampaikan tujuan, aturan, dan bentuk pendampingan agar keluarga dapat memberi dukungan yang sejalan di rumah.

UNICEF juga menekankan perlunya peningkatan kapasitas guru secara terus-menerus untuk mengajar literasi digital dan AI. Pandangan ini penting karena teknologi bergerak cepat, sementara guru memerlukan ruang belajar, materi yang dapat dipercaya, dan dukungan komunitas profesional. Tidak adil bila guru dituntut langsung mahir tanpa pelatihan, waktu, dan fasilitas yang memadai.

Bagi sekolah di Jakarta dengan akses teknologi yang relatif lebih baik, tantangannya bukan hanya menyediakan koneksi atau perangkat. Tantangan yang sama pentingnya adalah memilih penggunaan yang bernilai bagi pembelajaran. Sementara itu, sekolah dengan fasilitas terbatas tetap dapat membangun berpikir komputasional lewat aktivitas berbasis benda konkret, permainan, diskusi, dan proyek sederhana.

Rumah adalah ekosistem literasi pertama anak

OECD pada 2025 menyoroti pentingnya lingkungan rumah bagi fondasi literasi awal. Buku, permainan edukatif, interaksi dewasa-anak, dan percakapan yang berkualitas di rumah berkorelasi positif dengan literasi serta numerasi dini. Temuan ini menguatkan bahwa pendidikan digital tidak boleh seluruhnya dibebankan kepada sekolah.

Bagi keluarga, membangun literasi tidak harus mahal atau rumit. Anak tidak selalu membutuhkan gawai terbaru untuk belajar pola dan logika. Yang lebih menentukan adalah kesempatan untuk berbicara, bertanya, membaca bersama, mencoba, dan mendapatkan respons dari orang dewasa yang hadir.

Rutinitas kecil yang realistis untuk keluarga

Orang tua dapat memilih satu atau dua kebiasaan yang konsisten, tanpa membandingkan diri dengan keluarga lain. Pada hari kerja yang padat, percakapan singkat saat makan atau dalam perjalanan pun dapat menjadi ruang belajar yang bermakna.

  • Membaca buku cerita lalu meminta anak menebak kelanjutan cerita dan menjelaskan alasannya.
  • Mengajak anak mengurutkan kegiatan sebelum berangkat sekolah atau sebelum tidur.
  • Menghitung benda sehari-hari, membandingkan jumlah, atau mencari pola warna ketika bermain.
  • Membicarakan konten yang ditonton: siapa yang membuatnya, apa pesannya, dan apakah informasi itu perlu dicek lagi.
  • Menyusun aturan keluarga tentang waktu layar, tempat penggunaan perangkat, dan situasi ketika anak harus meminta bantuan orang dewasa.
  • Memberi contoh penggunaan teknologi yang sehat, misalnya tidak langsung meneruskan informasi yang belum jelas dan tidak memakai ponsel saat sedang bercakap penting.

Literasi AI di rumah juga dapat dilakukan dengan bahasa yang sederhana. Jika anak menggunakan alat digital yang menghasilkan jawaban, orang tua dapat berkata, “Mari kita cek lagi,” atau “Menurut kamu, jawaban ini masuk akal tidak?” Kalimat seperti ini membangun kebiasaan verifikasi tanpa perlu menjelaskan teori yang terlalu rumit.

Yang perlu dihindari adalah menjadikan AI sebagai pengasuh, pemberi jawaban untuk semua tugas, atau pengganti komunikasi keluarga. Anak membutuhkan orang dewasa untuk belajar mengelola kecewa, memahami konteks, berempati, dan menilai dampak tindakan. Kemampuan-kemampuan tersebut tidak cukup dibentuk hanya melalui interaksi dengan mesin.

Etika, perlindungan anak, dan kesenjangan akses harus berjalan bersama

Penguatan koding dan AI membawa peluang, tetapi juga menuntut kehati-hatian. Kemendikdasmen dalam bimbingan teknis koding dan AI pada 31 Mei 2025 menekankan pentingnya penguasaan teknologi digital yang beretika. Penekanan ini penting sebab kecakapan memakai teknologi tanpa pertimbangan etis dapat memunculkan masalah baru, mulai dari pelanggaran privasi hingga kebiasaan mempercayai informasi tanpa pemeriksaan.

Dokumen Kemendikdasmen juga menyebut SKB tujuh menteri tentang pemanfaatan teknologi digital dan AI di pendidikan sebagai pedoman nasional lintas jalur pendidikan. Pedoman tersebut berlaku untuk jalur formal, nonformal, dan informal, dengan prinsip perlindungan anak serta tujuan pendidikan nasional. Ini berarti perhatian terhadap keselamatan anak tidak boleh berhenti di ruang kelas.

Risiko yang perlu dikenali secara proporsional

Pendidikan AI yang baik tidak menakut-nakuti anak, tetapi membantu mereka mengenali risiko sesuai usia. Anak perlu tahu bahwa sistem digital bisa memberi informasi yang salah, menampilkan konten yang tidak sesuai, atau meminta data yang semestinya tidak dibagikan. Mereka juga perlu belajar bahwa karya orang lain tidak boleh diklaim begitu saja sebagai karya sendiri.

Selain itu, hasil AI dapat dipengaruhi oleh data dan rancangan sistem. Karena itu, jawaban yang terdengar meyakinkan belum tentu benar atau adil. Untuk murid yang lebih besar, diskusi dapat berkembang ke pertanyaan tentang bias, sumber informasi, dampak lingkungan penggunaan teknologi, serta tanggung jawab manusia ketika mengambil keputusan.

Jangan memperlebar ketimpangan

Akses perangkat, koneksi internet, ruang belajar, dan pendampingan keluarga tidak sama di setiap wilayah maupun setiap rumah. Kebijakan dan program sekolah perlu menghindari anggapan bahwa semua anak memiliki kondisi yang seragam. Materi yang dapat dilakukan tanpa perangkat, penggunaan fasilitas sekolah secara terjadwal, serta dukungan bagi guru dapat membantu menjaga pembelajaran tetap inklusif.

UNICEF melalui Digital Education Strategy 2025,2030 memprioritaskan solusi digital dan AI yang adaptif, aksesibel, dan inklusif untuk memperkuat literasi serta numerasi awal. Prinsip ini relevan bagi Indonesia: teknologi perlu memperluas kesempatan belajar, bukan menjadi penanda baru antara anak yang memiliki fasilitas dan anak yang tertinggal.

Menjaga keseimbangan antara teknologi, buku, permainan, dan relasi

Teknologi bukan lawan dari buku atau permainan. Keduanya dapat saling menguatkan apabila ditempatkan secara seimbang. Anak dapat membaca cerita lalu menyusun urutan peristiwa sebagai latihan algoritme. Anak dapat bermain balok untuk memahami struktur dan pola, lalu memakai perangkat pada kesempatan tertentu untuk mendokumentasikan atau menceritakan hasil karyanya.

Yang perlu dihindari adalah logika “semakin banyak layar, semakin modern pembelajaran”. Pada usia dini, keterampilan motorik, komunikasi lisan, imajinasi, pengendalian diri, serta interaksi sosial tetap sangat penting. Koding dan AI seharusnya masuk ke dalam pengalaman belajar yang kaya, bukan mengambil alih seluruh pengalaman itu.

Prinsip sederhana untuk memilih aktivitas

  1. Mulai dari tujuan belajar. Tentukan dulu apakah anak perlu berlatih membaca, bercerita, berhitung, memecahkan masalah, atau bekerja sama. Setelah itu baru pertimbangkan apakah teknologi memang diperlukan.
  2. Sesuaikan dengan usia dan kesiapan. Aktivitas harus dapat dipahami anak, memberi ruang mencoba, dan tidak membuatnya kewalahan.
  3. Utamakan keterlibatan aktif. Pilih kegiatan yang mendorong anak membuat, menjelaskan, membandingkan, dan berdiskusi, bukan hanya menonton atau menekan tombol.
  4. Dampingi dan refleksikan. Setelah kegiatan, tanyakan apa yang berhasil, apa yang sulit, dan apa yang ingin dicoba lagi. Refleksi membantu anak melihat proses belajarnya.
  5. Jaga keseharian anak. Penggunaan teknologi perlu berada dalam ritme yang tetap memberi ruang untuk tidur cukup, bergerak, bermain, membaca, dan berhubungan dengan keluarga serta teman.

Prinsip bertahap dan berbasis perkembangan anak ini sejalan dengan pesan kebijakan dari Kemendikdasmen, UNESCO, UNICEF, dan OECD. Keempatnya sama-sama menempatkan fondasi awal, etika, peran guru, serta ekosistem rumah-sekolah sebagai unsur penting. Dengan demikian, perdebatan bukan lagi sekadar “perlu atau tidak perlu teknologi”, melainkan “bagaimana teknologi digunakan agar benar-benar mendukung tumbuh kembang dan kemampuan bernalar anak”.

Dari kelas hari ini menuju kesiapan masa depan

World Bank pada 2025 menyoroti bahwa fondasi AI semakin penting karena permintaan keterampilan generative AI mulai terlihat di pasar kerja. Banyak profesi non-ICT juga mulai membutuhkan keterampilan GenAI. Informasi ini tidak berarti anak usia dini harus diarahkan secara sempit untuk mengejar pekerjaan tertentu. Justru, pendidikan dasar perlu menanamkan kemampuan yang tahan lama: memahami masalah, belajar mandiri, berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, dan bertindak etis.

Keterampilan tersebut berguna saat teknologi berubah. Anak yang terbiasa menjelaskan alasan, memeriksa jawaban, dan memperbaiki kesalahan akan lebih siap beradaptasi daripada anak yang hanya terbiasa mengikuti instruksi aplikasi. Demikian pula, anak yang memahami bahwa AI adalah alat dengan keterbatasan akan lebih mampu menggunakannya secara bijak ketika kebutuhan belajar dan kerja berkembang.

Sekolah dapat menghubungkan koding dan AI dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan murid. Misalnya, murid belajar membuat langkah untuk memilah sampah, menyusun kampanye hemat energi, menceritakan rute aman ke sekolah, atau menilai informasi publik yang beredar di ruang digital. Pendekatan kontekstual seperti ini membantu anak melihat bahwa teknologi terkait dengan pilihan sehari-hari dan kepentingan bersama.

Bagi warga Jakarta, penguatan literasi digital juga relevan dengan kehidupan kota yang sangat terkoneksi. Informasi transportasi, layanan publik, pembayaran digital, pendidikan, hingga komunikasi keluarga banyak berlangsung melalui teknologi. Fondasi yang dibangun sejak dini dapat membantu anak kelak menjadi pengguna layanan digital yang lebih cermat, warga yang tidak mudah terpengaruh informasi keliru, dan pembelajar yang mampu memanfaatkan teknologi untuk tujuan yang bermanfaat.

Memperkuat fondasi literasi lewat koding dan AI sejak usia dini pada dasarnya adalah upaya memperluas kemampuan anak untuk membaca dunia, bukan sekadar membaca layar. Kebijakan nasional yang kini mencakup PAUD hingga pendidikan menengah memberi arah penting, sementara pelatihan guru, keterlibatan sekolah, dan program pengembangan talenta menjadi bagian dari ekosistem yang perlu terus diperkuat. Keberhasilan pelaksanaannya akan terlihat bukan dari banyaknya aplikasi yang dipakai, melainkan dari tumbuhnya anak yang ingin tahu, mampu bernalar, kreatif, dan bertanggung jawab.

Peran keluarga, guru, sekolah, pemerintah, dan masyarakat perlu saling melengkapi. Mulailah dari kegiatan yang sederhana: membaca bersama, berbicara berkualitas, bermain pola, menyusun langkah, memeriksa informasi, serta mengajarkan etika saat menggunakan perangkat. Dengan pendekatan bertahap, inklusif, aman, dan sesuai perkembangan anak, koding dan AI dapat menjadi penguat literasi serta numerasi tanpa menghilangkan kebutuhan utama anak akan permainan, relasi hangat, dan bimbingan manusia.

Andrea
Seorang penulis kesehatan mental dan hubungan manusia, penulis berita nasional dan internasional
https://pojokjakarta.com

Leave a Reply

Top