You are here
Home > Berita Nasional >

Menanggapi Panic Buying Susu Bear Brand, Bagaimana Seharusnya Bersikap?

panic buying susu bear brand
Bagikan Artikel Ini

Pada hari Sabtu (03/07/2021), Di twitter viral panic buying susu bear brand. Postingan berupa video 29 detik tersebut dibagikan oleh salah satu pengguna twitter dan mendapatkan perhatian dari banyak pihak.

Hal ini seolah menjadi pertanyaan banyak orang, mengapa akhir-akhir ini banyak fenomena panic buying terjadi. Serta apa dampaknya bagi barang tersebut. Anda juga harus mengetahui bagaimana cara bersikap ketika menghadapi fenomena satu ini.

Fenomena Panic Buying Susu Bear Brand

Postingan akun @ezash dengan caption “terpantau sedang rebutan susu” tersebut menjadi viral dan topik perbincangan terhangan di twitter. Sampai saat ini, postingan tersebut sudah mendapatkan lebih dari

Dalam postingan tersebut, terdapat beberapa orang sedang memperebutkan stok susu bear brand di salah satu supermarket. Nampak mereka berebutan membeli dengan jumlah banyak bahkan sampai menimbulkan kericuhan.

Nampak awalnya dua orang sedang terburu-buru untuk membeli susu bear brand. Kemudian diikuti oleh beberapa orang lainnya yang sampai menyebabkan beberapa susu sampai terjatuh dan berantakan.

Dampak Fenomena Panic Buying Susu Bear Brand

Akibat fenomena panic buying susu bear brand, terpantau sampai saat ini keberadaan susu tersebut semakin langkah di pasaran. Hal ini karena ketika orang-orang panik membelinya, mereka langsung memborong dalam jumlah banyak.

Disisi lain, kini banyak dijumpai susu bear brand dijual lebih mahal pada marketplace. Banyak penjual yang mematok dengan kisaran harga 12 ribu sampai dengan 17 ribu. Padahal harga asli dari susu ini sebenarnya di bawah 10 ribu.

Meskipun begitu, beberapa orang juga masih membeli produk yang dijual lebih mahal tersebut. Banyak yang mencari susu ini untuk stok di rumah atau bahkan dijual lagi.

Menanggapi fenomena ini terjadi, pihak nestle pun ikut berkomentar. Namun mereka memasok produk susu bear brand semaksimal mungkin dalam mengoptimalkan kapasitas produksi dan rantai pasokan. Tentu agar bisa tetap memenuhi permintaan konsumen selama masa pandemic covid-19.

Apakah Susu Bear Brand Sebegitu Efektif?

Menanggapi fenomena panic buying ini, seakan menjadi pertanyaan banyak orang, apakah susu bear brand begitu efektif? Memang seperti apa efeknya pada tubuh?

Sebenarnya susu bear brand pun tidak terkait dengan pengobatan apapun dalam covid-19. Menurut pakar ahli gizi UGM Lily Arsanti Lestari, Susu ini memang kaya nutrisi untuk meningkatkan imunitas tubuh, namun susu lainnya juga memiliki hal tersebut. Sehingga tidak ada spesifikasi pada merek-merek tertentu.

Selain itu, ketika ingin menjaga imunitas tubuh, susu bukan satu-satunya yang harus dikonsumsi. Melainkan Anda harus menjaga keseimbangan gizi dari 4 sehat 5 sempurna. Dari makanan pokok, lauk, sayur-sayuran, dan juga buah-buahan.

Karena menjaga imunitas tubuh baru bisa diatasi ketika tubuh mendapatkan gizi yang seimbang. Dan susu bukan satu-satunya solusi untuk memperoleh hal tersebut.

Anda bisa menempuh langkah lain dengan mengonsumsi lebih banyak sayuran, olahraga, berjemur, dan langkah-langkah menjaga kesehatan tubuh lainnya.

Mengapa Fenomena Panic Buying Bisa Terjadi?

Tidak hanya susu bear brand, akhir-akhir ini fenomena panic buying kerap kali terjadi. Mulai dari masker, bahan pokok, dan sekarang susu. Lalu kenapa kira-kira kenapa hal ini bisa terjadi? Berikut adalah beberapa penjelasannya:

1. Membaca Informasi Tidak Sepenuhnya

Kebanyakan masyarakat Indonesia, mudah terprovokasi oleh informasi sepotong-potong dan tidak membaca sepenuhnya. Akhir-akhir ini memag susu bear brand banyak dipromosikan dapat menjaga kesehatan dan meningkatkan imun tubuh.

Namun mereka hanya membaca sepotong informasi. Padahal hal yang dimaksud di sini adalah kandungan dalam susu tersebut. Sedangkan, dalam susu-susu lainnya juga masih ada kandungan yang sama.

Bahkan kandungan gizi dalam susu, juga masih banyak terdapat beberapa makanan lainnya. Seperti kandungan kalsium yang terdapat pada telur, tempe, dan kacang-kacangan.

2. Kecemasan Antisipatif

Kecematan antisipatif adalah suatu kecemasan mengenai hal yang belum terjadi. Misalnya dalam kasus ini, masyarakat melakukan panic buying terhadap produk susu bear brand, karena menganggap barang akan langkah dan pabrik tidak melakukan produksi kembali.

Padahal alur produksi di pabrik juga masih lancar dan seperti biasnaya. Justru langkah panic buying ini yang membuat barang semakin langkah dan membuat produsen lebih bekerja keras dalam memenuhi kebutuhan konsumen.

Bahkan jika ditelaah dari panic buying sebelumnya, yaitu masker, bisa Anda lihat apakah masker sekarang berhenti diproduksi? Justru semakin banyak produsen masker dan harganya menjadi hampir mendekati normal kembali.

3. Ketakutan yang Menular

Sifat ketakutan bisa menular antara manusia satu sama lain. Dalam kasus ini, beberapa orang yang takut kehabisan barang akhirnya menular ke yang lainnya. Sehingga hal ini bisa menyebabkan fenomena panic buying massal.

4. Ikut-Ikutan

Manusia memang makhluk sosial yang terkadang mudah terpengaruh oleh situasi. Dalam kondisi ini, banyak yang akhirnya panic buying karena ikut-ikutan orang lain yang sudah melakukannya sebelumnya.

Ketika sudah ada banyak orang yang mulai membeli barang tertentu, akhirnya dalam benak suatu individu juga berpikir “kenapa aku juga tidak membelinya?” Padahal ia belum tentu membutuhkannya dalam jumlah segitu besarnya.

Fenomena ikut-ikutan ini tentu sudah bisa Anda lihat dari berbagai aspek sebelumnya. Seperti dalam produk fashion, makanan yang trend, dan lain sebagainya.

Bagaimana Cara Bersikap Saat Fenomena Panic Buying?

Fenoman panic buying yang begitu marak, pasti membuat Anda bertanya-tanya, harus bagaimana bersikap yang benar?

Sebenarnya jawabannya cukup mudah. Anda hanya harus tetap tenang dan membeli barang sesuai dengan kebutuhan.

Selain itu, sebenarnya panic buying juga bisa dikontrol dengan adanya kontrol informasi. Apakah memang barang tersebut sedang langkah atau memang masyarakat saja yang sedang banyak mencarinya.

“Kecuali barang itu mengalami kelangkaan sebenarnya, misalnya oksigen kan pabriknya dibandingkan dengan kebutuhan rumah sakit tidak seimbang” Ujar sosiolog UNS, Drajat Tri Kartono.

Leave a Reply

Top