You are here
Home > Berita Nasional >

Daftar Gangguan Masalah Mental Yang Sering Dialami Oleh Seseorang

Masalah Mental Yang Sering Dialami
Bagikan Artikel Ini

Di saat mengalami masa sulit, contohnya seperti pandemi sekarang ini. Membuat sebagian orang harus melakukan berbagai aktivitas dengan lingkup yang bisa dibilang terbatas. Hingga hal semacam ini dapat menjadi pemicu masalah mental yang sering dialami oleh seseorang. Misalnya seperti gejala kecemasan yang berlebih, merasakan depresi, tertekan dan yang lainnya. 

Agaknya hal tersebut sudah menjadi perkara umum yang dilalui pada masa pandemi. Bahkan dari ungkapan yang diberikan oleh seorang psikoterapis berupa mengalami kenaikan klien yang datang. Dari pasien tersebut kebanyakan menderita gangguan cemas atau bisa disebut juga dengan anxiety. Berikut beberapa informasi tentang permasalahan mental yang sering terjadi:

1. Kesepian

Daftar akan masalah mental yang sering dialami ketika lebih banyak menghabiskan waktu dengan cara sendirian adalah hadirnya perasaan kesepian. Hal ini dikarenakan secara umum manusia membutuhkan interaksi dengan sesama dalam waktu yang cukup lama. Namun dengan adanya pandemi layaknya sekarang ini komunikasi yang dijalankan menjadi terbatas. 

Bahkan dunia kerja serta pendidikan juga dilakukan secara virtual. Oleh karena itu dapat membuat seseorang lebih jauh dari teman ataupun keluarga sehingga menimbulkan rasa sepi sebab terisolir. Dari situ Kelly yang merupakan seorang terapis memberikan saran kepada orang yang merasakan kesepian. Yakni dengan cara menghubungi baik teman ataupun saudara lebih kurang dalam waktu 10 menit dalam sehari.

2. Meningkatnya Depresi 

Selain rasa kesepian daftar lain untuk masalah mental yang sering dialami belakangan adalah depresi. Ini bukanlah sebuah gangguan akan mental yang terbilang baru. Berdasarkan penuturan yang dilakukan oleh psikolog bernama Jenna Carl. Bahwa depresi hadir ketika seseorang terlalu memikirkan masa depan yang masih menjadi misteri dan tidak dapat diprediksi. 

Apabila seseorang mengalami sejumlah gejala akan gangguan depresi. Maka langkah yang bisa ditempuh untuk menanganinya adalah seperti melakukan konsultasi kepada orang yang tepat. Cara tersebut bisa membuat seseorang lebih merasa baik. Jika tidak ingin memakai cara tersebut, bisa juga menggunakan cara self compassion yang dapat dipraktekkan melalui kegiatan meditasi.

3. Rasa Sedih 

Kesedihan yang dialami oleh seseorang memang mempunyai penyebab yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Ditambah pula dengan kondisi yang masih dalam masa pandemi diketahui menorehkan cukup banyak korban baik yang meninggal maupun yang sedang berjuang untuk kesembuhan di rumah sakit. Bahkan kabar duka bisa saja datang dari teman, sanak keluarga, saudara, tetangga dan lainnya. 

Kejadian semacam itu dapat membuat seseorang jadi kepikiran, cemas, takut bahkan depresi hingga berakibat pada situasi kesedihan. Adapun saran yang diberikan oleh seorang terapis dengan nama Kahina A. Louis adalah supaya jika dihadapkan dengan situasi menyalahkan diri sendiri maka dianjurkan untuk bersabar. Pasalnya emosi tersebut hanya membuat keadaan lebih buruk.

4. Kendali Yang Kurang

Berdasarkan informasi yang diuraikan oleh Holly Schiff yang berprofesi sebagai seorang psikolog klinis. Menurutnya adalah hal yang cukup wajar apabila di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang sejumlah orang sulit untuk mengendalikan diri. Namun secara sadar atau tidak bahwa hal itu dapat membuat pengaruh terhadap hubungan yang dijalani oleh seseorang. 

Baik hubungan dengan keluarga ataupun hubungan dengan lainnya. Dari permasalahan tersebut Holly menyarankan supaya orang yang kurang mampu memegang kendali atas dirinya sendiri. Untuk lebih sadar akan emosi yang dirasakan sehingga dapat mengontrol atau menguasai diri. Beberapa solusi bisa dicoba seperti melakukan olahraga dengan rutin, tidur dengan cara sehat dan lainnya.

5. Trauma 

Gejala masalah mental yang sering dialami berikutnya adalah traumatic. Bahkan setelah peristiwa tersebut selesai terjadi, namun bekas yang ditinggalkan tetap saja masih ada. Lamanya pandemi sekarang ini misalnya telah berlalu, akan tetapi kemungkinan untuk menderita PTSD masih bisa terjadi. Terdapat sejumlah karakter seseorang yang tengah mengalami PTSD. 

Diantaranya meliputi mudahnya muncul rasa tersinggung terhadap sesuatu, ada juga perasaan terlepas serta serangan rasa panik. Karakter itulah yang sering dijumpai oleh seorang psikiater bernama Bryan Bruno dari kliennya yang datang. Bagi orang penderita gangguan ini bisa langsung berkonsultasi kepada para ahli yang bersangkutan. Trik untuk menghindarinya seperti mengurangi kegiatan yang dapat memicu hadirnya trauma. 

6. Kehilangan Koneksi 

Apabila seseorang sempat merasa hilang koneksi akan dirinya sendiri, itu tidak hanya dialami oleh satu orang saja. Melainkan sejumlah orang juga turut merasakan hal demikian. Hasil ungkapkan yang dilakukan oleh Billy Roberts selaku terapis Ohio. Menyatakan bahwa apabila mengalami hal itu bisa menjalankan tindakan seperti berkegiatan yang sekiranya mampu terhubung dengan diri. 

Seseorang bisa mencari terlebih dahulu kiranya sesuatu apa yang bisa diperbuat untuk mengkoneksikan diri. Kemudian juga tentang nilai diri beserta tujuan yang dimiliki. Seseorang bisa membuat rencana masa depan dengan pasti, baik dalam jangka waktu yang lama maupun pendek.

7. Permasalahan Perilaku 

Tingkah laku ternyata juga bisa menjadi penyebab akan masalah mental yang sering dialami pada masa anak-anak. Salah satunya adalah seperti gangguan ADHD yang mempunyai pertanda seperti sulitnya anak untuk fokus terhadap sesuatu. Adapun pada perilaku yang bisa diamati semisal tingkah anak yang bertindak merusak maupun menantang. 

Bahkan yang lebih parah lagi perilaku atau sikap tersebut dibawa hingga memasuki masa remaja. Tentunya di sekolahan hal itu juga cukup berpengaruh terhadap kinerja. Ditambah lagi dengan adanya resiko yang dapat memicu lahirnya perilaku kriminal pada remaja. 

8. Psikosis 

Selain gangguan tentang perilaku, masalah mental yang sering dialami oleh remaja yang lain adalah terkait psikosis. Biasanya hal ini terjadi pada tahun akhir masa remaja. Adapun bentuk tindakan dari gejala tersebut adalah seperti terganggunya tingkat kemampuan pada remaja dalam hal berpartisipasi saat menjalani kehidupan sehari-hari. 

Selain itu kinerja yang terdapat pada sekolah juga bisa terpengaruh. Gangguan ini berkemungkinan untuk memunculkan stigma dengan kesan negatif pada lingkungan masyarakat. Bisa juga pada tindakan melanggar hak asasi manusia. 

Demikian pembahasan mengenai masalah mental yang sering dialami oleh seseorang. Tidak ketinggalan para remaja yang memang diketahui tengah mengalami masa peralihan dari anak-anak menjadi dewasa. Pada masa tersebut seseorang tengah mencari jati diri sesungguhnya, sehingga rasa keingintahuannya bisa dibilang cukup besar.

 

 

lilik sumarsih
Petualang,photographer dan penulis artikel tentang traveling dan alam liar

Leave a Reply

Top